Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Crazy Rich Asians Kaya Tujuh Turunan Cukup Cintamu Saja yang Palsu, Ijazah Mah Jangan!

“Bapak menangis terisak-isak seraya berkata lirih, ‘Kenapa Bapak dibeginikan oleh bangsa sendiri?’”

Buku ini adalah catatan kesaksian Sukmawati Sukarno pada apa yang terjadi dengan Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno sesaat setelah terjadinya tragedi terkelam dalam sejarah bangsa Indonesia, G30S. Kegundahannya terhadap pencarian kebenaran membuatna menuliskan buku ini, yang harus dihadapi oleh Bung Karno sejak tahun 1965 hingga menjelang akhir hayatnya.

Apabila buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams kerap menjadi acuan untuk menggambarkan sejarah hidup sang Pemimpin Besar sejak lahir hingga tahun 1965, maka buku ini layaknya menjadi episode terakhir dari buku Cindy Adams itu. Betapa sang Pahlawan yang  telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan RI ternyata telah “disia-siakan oleh bangsanya sendiri...”

 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
ISBN : Eddi Elison dan Khoirotul Laila
Ketebalan : 160 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Media Pressindo
Penulis: Sukmawati Sukarno
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by