Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Dari Resensi ke Kelahi

Oleh: Safar Nurhan         Diposkan: 18 Apr 2020 Dibaca: 1580 kali


Buku kiat-kiat menulis terus diproduksi. Dan, orang-orang terus membeli. Namun, buku tersebut tak membuat tulisan mereka gagah, malahan terperosot.

Tips menulis tidak ujug-ujug membuat kita lihai menyusun kalimat dan paragraf sehingga menjadi satu tulisan utuh. Namun, metode yang diajarkan penulis yang sudah lama bergulat di dunia teks, setidaknya, bisa membuka wawasan kita bagaimana membuat paragraf pertama, mengolah isi, dan mengakhirinya. Apalagi ditambah si penulis membentangkan contoh-contoh resensi dari prakemerdekaan, awal kemerdekaan, hingga pascareformasi, minimal, kita tahu bagaimana keragaman tulisan (resensi). Misal, resensi Mas Marco Kartodikromo, Tjan Kiem Bie, Sukarno, Mohammad Hatta, Poerbatjaraka, P. Swantoro, Sumitro Djojohadikusumo, H.B. Jassin, Abdullah Sp, hingga resensi milik Zen RS.

Muhidin M. Dahlan dalam buku barunya, Inilhah Resensi, tidak sekadar memberitahu kita jalan menembus media massa seperti yang dilakukan oleh motivator menulis pada umumnya, tetapi ia memperlihatkan seratus lebih resensi untuk menjadi contoh bagaimana menulis resensi.

Inilah Resensi adalah buku ketiga perihal tips menulis yang ditulis Muhidin. Sebelumnya, ia telah menerbitkan Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor (2016) dan pada 2011, bersama Diana AV Sasa, mereka menerbitkan buku Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku.

Apa perbedaan Inilhah Resensi dan Berguru Pada Pesohor? Secara teknis sama. Namun, menurut pengakuan Muhidin bahwa “... 80% isi buku ini merupakan data-data baru. Lebih dari 100 nama peresensi dari 200 lebih resensi buku saya ikutkan membangun narasi buku ini.”

baca juga: Potret Penerbitan Buku Baru (Bukan) Karya Jung sebagai Sebuah Tragedi

Resensi atau ulasan atau review—dalam hal ini pada buku—adalah metode mengurai dengan cara “suka-suka”. Anda maki, silakan; Anda puji, tidak apa-apa. Asal, makian atau pujian tersebut bisa Anda pertanggungjawabkan kepada khalayak umum, bahkan ada satu manusia yang terang-terangan meresensi dengan cara membakar buku. Apa salah? Tidak juga. Sebab, si pembakar buku itu sudah sadar betul apa yang dilakukannya. Toh, seperti kata Barthes, penulis mati setelah karya tercipta, buku yang dibakar telah menjadi miliknya, bukan lagi milik penulis, penerbit, atau milik temannya. Di tahap ini, penulis dan pelaku yang terlibat dalam buku tersebut tidak perlu baper atau marah-marah. Semakin Anda tidak terima atas pembakaran itu atau makian dari pembaca, maka semakin tampak bahwa Anda belum dewasa menghadapi polemik di dunia buku yang biasa-biasa saja ini.

Buku sama hal dengan aksesoris lainnya, seperti sepatu, baju, cincin, dan barang yang kita pakai sehari-hari. Ada yang tidak suka Anda memakai sepatu berwarna merah, baju bermerek tertentu, dan cincin berjenis batu akik. Namun, Anda biasa saja menanggapi ketidaksukaan itu; Anda tetap nyaman memakainya di keramaian.

Resensi adalah cara pembaca—yang sudah rela membeli buku—melampiaskan kekesalannya atau memuji sampai ke langit. Dan, dalam meresensi buku tidak mesti menggunakan teori-teori yang mendaki-daki atau pula bernilai sastrawi. Sebab, peresensi mempunyai kadar pengetahuan yang berbeda-beda. Ada yang sudah lihai mengutip kalimat penulis idolanya; ada yang ciamik mengolah teori; ada pula yang sebatas curhat. Mereka curhat karena buku yang telah mereka baca mewakili perasaan atau pengalaman mereka, kebanyakan jenis bacaan ini berasal dari buku fiksi.

Bila Anda ingin mengetahui pembaca yang kerap curhat, coba membuat akun Goodreads dan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter. Di Goodreads, semua orang punya cara masing-masing menilai buku, mereka tidak sungkan memberi satu bintang dari lima bintang untuk menilai sebuah buku. Ada yang sekadar menulis kalimat pendek: buku ini jelek saja belum; buku ini tidak layak terbit; buku ini sampah!; buku ini aku banget; dan, buku ini, duh, josss.

baca juga: Subaltern dan Pesan Si Pembakar Jerami

Sekali lagi, penulis tidak perlu baper membaca tanggapan negatif karena pembaca punya hak untuk menilai dengan cara bebas. Jangankan Anda yang baru menulis satu atau dua buku dan tidak pernah memenangi ajang tertentu, buku milik si peraih nobel sastra saja berhamburan dikasih satu bintang oleh pembaca di Goodreads.

Akan tetapi, yang kerap berkelahi karena resensi negatif tersebut adalah antarpembaca. Pro dan kontra bermunculan. Dan, itu pernah terjadi pada 1960-an, resensi menyeret dunia sastra Indonesia ke gelanggang perseteruan. Itu bermula dari resensi milik Abdullah Sp di lembar budaya Bintang Timur, “Lentera”, dengan judul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat”. Abdullah mempreteli dan membandingkan roman Tenggelamnya Kapal van der Wijck (TKvdW) dengan novel Magdalena karya Manfaluthi. Roman populer itu dibuka kembali, apakah yang dituliskan oleh Abdullah benar adanya atau tidak, sebab TKvdW sudah banyak menguras tenaga dan air mata para pembaca pada masa itu—bahkan hingga sekarang.

Karena resensi itu, H.B. Jassin sebagai redaktur majalah Sastra ikut beraksi. Jassin orang di garda depan membela roman TKvdW yang dituduh sebagai karya hasil plagiat. Karena resensi itu, perang narasi antara dua kubu berlangsung selama dua tahun. Siapa yang menghentikannya? Tentara. Polemik itu dianggap mengganggu kestabilan masyarakat (hlm. 58).

Tidak selesai di situ perseteruan sastra Indonesia. Pada awal abad 21, seorang penulis pemula dari Yogyakarta dihajar oleh kritikus (senior) sastra Indonesia. Penulis pemula tersebut adalah Eka Kurniawan dan kritikus sastra yang dimaksud adalah Maman S. Mahayana.

Dalam resensi yang berjudul “Air Bah dalam Novel ‘Cantik Itu Luka’”, secara gamblang, Maman mengkritik logika cerita Cantik Itu Luka yang aneh. Begini kalimat Maman: “Ada juga kelucuan yang terjadi pada peristiwa perjalanan tokoh Maman Gendeng. Untuk sampai di Halimunda, ia mengarungi lautan melewati Selat Sunda hingga Laut Selatan. Ketika berada di Laut Selatan ia dihadang sepasang hiu. Maka ia pun ke daratan dahulu berburu rusa dan memberikannya kepada hiu itu sekadar untuk bersahabat dengan sepasang hiu itu. Jadi, mustahillah peristiwa itu terjadi.”

baca juga: Jejaring Sejarah Meruwet

Coba Anda bayangkan, apa jadinya bila Eka baper atau mutung atau kesal saat membaca resensi dari Maman, lalu Eka patah semangat untuk tidak menulis lagi? Ya, kita tidak akan mendengar buku-buku karya Eka diterjemahkan di banyak negara.

Lalu, siapa yang beraksi terhadap resensi yang dimuat di Media Indonesia pada 2 Maret 2003 itu? Ia adalah teman Eka sendiri, penulis muda dari Yogyakarta, yaitu Muhidin M. Dahlan. Dua minggu kemudian, bertarikh 16 Maret 2003, di koran yang sama, Muhidin menulis resensi balasan dengan judul “Cantik Itu Dilukai”. Di akhir resensi, Muhidin menggurat dengan tangkas: ..., [Maman S. Mahayana] mungkin agak tertutup karena membaca novel dengan kacamata yang agak seragam dan memaksakan mengikuti hukum analisis dan kotak aliran (sastra) yang sudah (di)ba(ng)ku(kan) di ruang akademis. Padahal, masing-masing novel punya kekhasan dan cara baca tersendiri.

Pertemanan sesama penulis, kadang, mempunyai manfaat. Eka Kurniawan dan Muhidin M. Dahlan buktinya.

Sampai di situ, apakah masih ada yang meremehkan peran resensi dalam dunia perbukuan? Bila masih ada, di halaman 48, Muhidin menulis seperti ini: ia [resensi] menjadi perbincangan serius, menjadi pemicu berita, menimbulkan perdebatan, baik di dunia buku maupun bidang sosial politik lainnya.

Ah, Muhidin lebay, mungkin seperti itu respons Anda saat membaca tafsiran Muhidin mengenai resensi. Namun, tunggu sejenak, apakah Anda masih ingat petisi di Change.org berjudul “Petisi Menolak Buku ‘33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’”? Petisi itu sangat meributkan dunia sastra Indonesia pada awal 2014. Dan, deretan dampaknya pun bermunculan: (1) Cecep Syamsul Hari memutuskan mundur dari kursi redaktur majalah sastra Horison; (2) Maman S. Mahayana mencabut 5 esainya dari buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh; (3) Ahmadun Yosi Herfanda mengembalikan uang 10 juta ke pihak Denny JA lewat Fatin Hamama; bahkan (4) Saut Situmorang dan Iwan Soekri Munaf dilapor ke polisi oleh Fatin Hamama.

baca juga: Hawa, Feminitas, dan Masa Depan

Menurut Muhidin, mukadimah “Petisi Menolak Buku ‘33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’” yang diunggah oleh Irwan Bajang di Change.org juga resensi. “Resensi berbentuk petisi”.

Setelah Anda mengetahui bahwa resensi tidak hanya menjadi “kaleng-kaleng” di dunia kepenulisan, saya ingin memberi tahu Anda bahwa sepengetahuan tipis saya, kebanyakan penulis esai keren yang kita tahu sekarang, sesungguhnya, awal mula, mereka adalah peresensi yang baik. Dan, peresensi yang baik adalah pembaca yang baik pula.

Bila Anda pembaca yang baik dan paham PUEBI, lalu membaca buku Inilah Resensi: Tangkas Menilik dan Mengupas Buku (2020), maka Anda akan tahu di mana kekurangan buku ini. Pertama, buku ini tidak memiliki editor sehingga beberapa kalimat tidak sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Itu terdapat di halaman 14, 31, 32, dan masih banyak berhamburan di halaman lainnya.

Apa yang salah? Yaitu penulis keliru menggunakan “konjungsi korelatif”. Misal, saya ambil kalimat pada halaman 32: “Ini bukan sekadar buku tentang dunia buku, tetapi ini adalah buku resensi ....”. Kalimat itu tampak baik-baik saja, padahal keliru dalam aturan “konjungsi korelatif”. Yang benar adalah “Ini tidak sekadar buku tentang dunia buku, tetapi ini adalah buku resensi ....”

Kalimat yang keliru juga ada di halaman 31: “..., Poerbatjaraka tak sekadar mengulas isi, melainkan siapa saja para akademia ....”. Yang benar seperti ini: “..., Poerbatjaraka tak sekadar mengulas isi, tetapi siapa saja para akademia ....”.

Salah satu hukum dari “konjungsi korelatif” yaitu tidak bertemu dengan tetapi. Hukum lainnya adalah bukan bertemu dengan melainkan, misal “Saya bukan monyet, melainkan manusia”.

baca juga: Rosa Luxemburg, Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi

Lalu, apa kekurangan kedua dalam buku ini? Yaitu tidak memiliki indeks. Kehadiran indeks dalam buku nonfiksi memudahkan pembaca mencari istilah penting tanpa membaca keseluruhan isi buku.

***

Terlepas dari penulis Inilah Resensi yang tidak menyematkan adanya editor dan dampak resensi akan menjadi perbincangan serius, menjadi pemicu berita, menimbulkan perdebatan, baik di dunia buku maupun bidang sosial politik, meresensi juga membantu keuangan Anda. Silakan saja Anda meresensi, lalu kirim ke media daring atau luring. Bila resensi Anda dimuat, insyaallah, nominal rekening Anda akan bertambah.

  •  

Judul: Inilah Resensi: Tangkas Menilik dan Mengupas Buku

Penulis: Muhidin M. Dahlan

Penerbit: I:Boekoe

Tebal: 256 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: