Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Deforestasi dan Bayang-bayang Zoonosis

Oleh: Mario Hikmat         Diposkan: 08 Dec 2018 Dibaca: 908 kali


Jared Diamond, di buku Gun, Germs, and Steel (KPG, 2013) menuliskan betapa dibanding perang, zoonosis mengancam lebih dahsyat bagi masa depan umat manusia. Perang Dunia II, kata Jared, banyak memakan korban bukan karena luka pertempuran, melainkan akibat infeksi kuman dan virus yang hinggap di tubuh manusia gara-gara berinteraksi dengan hewan. Transimisi zoonosis lebih leluasa menyebar lewat kondisi ekologi yang tercemar dan tak terfilter jasa ekosistem. Hancurnya beberapa lanskap alam akibat perang dan tingginya arus transportasi para serdadu melintasi beberapa negara, memberi jalan pintas bagi zoonosis bergeliat bebas.

Di abad XXI, saat perang sudah berakhir, masyarakat ilmiah semakin yakin, jika zoonosis berhulu dari apa yang belakangan ini marak dan jadi perhatian dunia; deforestasi. Efek buruk deforestasi di suatu negara, tidak berujung hanya di skala lokal. Deforestasi telah menjadi wacana yang bikin gelagapan di level global. Di Indonesia, berdasarkan data dari Global Forest Watch yang dikutip oleh World Recourses Institute, dalam kurun waktu antara tahun 2000 hingga 2015, deforestasi telah melenyapkan hutan seluas 2.340.000 hektare. Perusahaan sawit menjadi pelaku utama maraknya deforestasi. Sialnya, pembalakan hutan itu tak hanya berdampak buruk bagi lingkungan. Dampak negatif lain muncul dan turut mempengaruhi sektor ekonomi, sosial, dan kesehatan lewat ancaman zoonosis.

Deforestasi dengan mudah ditebak bermula dari sikap tamak. Manusia merasa superior dan seolah sah mengeksploitasi alam demi menebalkan kantong pribadi. Logika antroposentris itu jadi dalih mengeruk sumber daya alam. Manusia menaklukkan alam. Tetapi, dari keyakinan itu, ada yang luput dan tak tersentuh kearifan. Manusia – meminjam istilah Aldo Leopold – hanyalah biotic citizen, atau bagian kecil dari organisme kolektif di alam raya. Ia bukan penguasa jagat raya alam semesta yang bisa berlaku semaunya.

baca juga: Riwayat Kejayaan Musik Rock di Indonesia

Dalam buku Lingkungan Hidup dan Kapitalisme (Marjin Kiri, 2018) Fred Magdoff dan John Bellamy Foster mengungkapkan bahwa sumber persoalan dari krisis lingkungan, berhulu pada sikap besar kepala, merasa lebih superior, dan pemujaan pada kapitalisme. Kapitalisme semacam parasit. Kapitalisme menyebabkan hilangnya hubungan etis manusia dengan alam, sesama manusia, dan masyarakat, kata Magdoff. Kapitalisme memberi dampak buruk. Tak akan pernah ada kapitalisme yang ramah lingkungan. Istilah kapitalisme hijau atau Natural Capitalism, yang pernah digemborkan oleh Paul Hawken, Amory Lovins, dan L. Hunter Lovins, hanyalah tipu daya. Ilusi belaka.

Katastrofe skala planet terjadi akibat ekspansi dan akumulasi kapital tak pernah merasa cukup. Tak peduli pada aspek keberlanjutan (sustainability). Korporasi itu menebang hutan, membebaskan lahan lalu mengalihfungsikannya sebagai wadah industri atau lahan pertanian monokultur. Akibatnya jasa ekosistem jadi tercerabut dari fungsi utama pengendalian ekologi. Keseimbangan alam terdistorsi. Terganggu. Arah rantai eksosistem berubah dan bergerak tak menentu. Hutan terdeforestasi. Lingkungan terdegradasi. Manusia pun jadi depresi. Yang terjadi jika deforestasi tak dihentikan ialah merebaknya potensi wabah zoonosis. Penyebaran penyakit jenis ini, bisa menjadi sumber masalah besar. Kematian pun jadi semakin dekat. Semakin mengancam.

Bayang-bayang Zoonosis

Deforestasi memungkinkan munculnya peningkatan penyebaran penyakit (emerging disease) dan kembali bangkitnya penyakit yang dulu pernah ada (re-emerging disease). Sebagai contoh, sejak tahun 2003 sampai tahun 2012, wabah zoonosis flu burung misalnya, jadi monster mengerikan di Indonesia. Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan betapa Indonesia mencapai rekor tertinggi kematian disebabkan virus H5N1.

baca juga: Upaya Membaca Kiat Sukses Agar Tidak Hancur Lebur: Catatan Panjang Pembacaan

Zoonosis itu ditandai berpindahnya mikroorganisme pembawa penyakit dari hewan yang bertulang belakang, ke manusia secara langsung maupun tidak langsung (melalui vektor). Negeri ini sebenarnya cukup akrab dengan zoonosis setamsil, flu burung, rabies, leptospirosis, malaria, dan pes. Namun, masih sedikit yang sadar bahwa zoonosis diakibatkan, salah duanya oleh deforestasi dan pengabaian pada pelestarian lingkungan. Upaya menjaga lingkungan jadi urgen. Mendesak. Ancaman zoonosis harus bisa dikontrol dan dideteksi lebih awal. Zoonosis yang mewabah dan tidak dihadapi dengan perencanaan matang sanggup bikin masyarakat – bahkan negara – kewalahan. Ekonomi bisa jadi terkuras. Anggaran jadi defisit untuk memikirkan bagaimana pengobatan pasien jika banyak yang terinfeksi. Kondisi sosial mampu berjalan tak stabil. Angka mortalitas pun menanjak makin tinggi.

Untuk menanggulangi epidemi, pemerintah pernah bersiasat melakukan kerja sama lintas sektor. Peternak unggas dilatih untuk mengecek kesehatan ternak. Ibu-ibu dan koki diimbau memasak makanan dengan tingkat kematangan tertentu. Instansi lain mengawasi peredaran unggas yang potensial membawa virus. Dan petugas kesehatan melakukan pemeriksaan rutin terhadap para peternak. Namun, ada yang absen dari upaya pemerintah menanggulangi zoonosis. Kampanye pengendalian zoonosis belum pernah menyisipkan agenda khusus pemartabatan ekosistem.

Wabah flu burung hanyalah sedikit contoh, tentu saja. Zoonosis mengintai masyarakat saat kondisi ekologi makin krisis. Jika virus atau kuman awalnya hidup pada hewan-hewan berhabitat hutan, maka saat banyak hutan dibabat, hewan bervirus itu berhijrah ke rumah lain, rumah yang juga dihidupi manusia. Tatkala kontak dengan manusia meningkat, disitulah zoonosis berperan membuat angka harapan hidup orang-orang di dunia, tersisa tak lagi begitu lama.

baca juga: Mengapa “Apakah Masyarakat Kita Sudah Siap dengan Sastra seperti Ini?” Bukan Pertanyaan yang Tepat?

Keberlangsungan hidup manusia di masa depan, alhasil ditentukan pada sikap kita hari ini. Pada medio 2013, Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), telah mewanti-wanti. Kita di ajak untuk awas dan wawas diri. Tim dari IPCC menandaskan jika tak ada lagi strategi lain penyelamatan hajat hidup ekosistem tanpa pengurangan dan pencegahan deforestasi. Nasib hutan perlu dilindungi. Keanekaragaan hayati perlu hidup asri. Lestari. Dan agresi wabah zoonosis, harus berada pada status terkendali.

Secara epidemilogis, agar penyakit tak muncul begitu saja, manusia, hewan, dan lingkungan, harus berada dalam posisi saling menjaga. Seimbang. Equilibrium. Ketika lingkungan sakit dan rusak, manusia juga akan turut sakit.Deforestasi akhirnya tak bisa sekadar dikurangi. Deforestasi mesti dicegah dan dihentikan. Zoonosis harus dikubur agar tak lagi jadi momok menakutkan. Kebijakan terkait lingkungan harus diperketat demi menjaga keberlanjutan dan kehijauan bumi manusia.

Tak ada manusia mendamba malapetaka. Manusia ogah tenggelam dalam kubangan peyesalan di masa depan. Itu pula kiranya, kesadaran ekologi perlu ditumbuhkan. Bumi ini mesti diserahkan pada anak cucu dengan wajah yang sehat dan hijau. Bukan dengan kondisi yang gersang, sakit parah, dan menyedihkan.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: