Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

Oleh: Norrahman Alif         Diposkan: 05 Jan 2019 Dibaca: 1382 kali


Sebahyang Bahasa

 

Bahasaku sebagai jamaah

yang khusyuk sembahyang

di atas karpet puisi.

 

Dan umat kata-kata tak pernah

ingkar janji pada Tuhan imaji

sebagai diksi-diksi pilihan

dalam kuil-kuil puisi.

 

(Cabean-2018)

 

 

Jangan Ajak Puisi Pergi ke Mati

 

Hari ini baru sabtu

esok sudah jumat

begitu cepat waktu

ingin mengecup kiamat.

 

Sedang aku tetap begini:

diam membaca tubuh–

tubuh sebagai puisi.

 

Lalu tuhan datang memecah diam,

dengan satu lemparan pertanyaan.

 

Kapan engkau pergi, pergi ke surga

dengan meninggalkan neraka imaji?

 

Kata tuhan bumi yang kutakuti.

 

Aku tidak akan mati-mati dalam

puisi, sampai tubuh menjadi mumi–

sekalipun terjepit kesedihan bumi.

 

Jawabku, tandas.

 

Namun tuhan tiba meleleh sebagai

cairan sunyi dalam malamku. Lalu

kuakhiri saja ini perjumpaan dengan

beberapa patah kalimat yang sudah

langka.

 

Aku tidak ingin pergi meski engkau

mengajakku mati dari puisi. Titik.

 

(Cabean-2018)

 

baca juga:  Puisi-puisi Menolak Judul: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

 

Sembahyang yang Papa

 

\I\

Pikiran bersilasak dengan perasaan sendiri

di tengah sembahyangku tegak lurus ke

langit yang mungkin tinggal gerak.

 

Uh,betapa papa al-fatihahku.

Ah, betapa malang nasib takbir bibirku.

 

\II\

Pada rukuk pertama setan sebagai

hp, fecebook dan twitter membunuh

Tuhan dalam khyusukku. Sedang di

rukuk kedua musik mengalir sebagai

tubuh-tubuh Nella Kharisma dan

Via Vallen mengajak imanku berdangdut

di hadapan Tuhan.

 

\\III\

Lalu apa artinya dua rakaatku, tiga

rakaatku, empat rakaatku dalam sujud

lima wajib di tubuh jumatku, sabtuku,

ahadku, seninku, selasaku, rabuku,

kamisku?

 

(Cabean-2018)

 

 

Kata Tetaplah Kata Walau Selalu Lugu

di Lidah Para Politisi dan Pendusta

 

Mungkin hanya kata: bertahan

menahun dalam baris-baris resah hariku.

 

Karena kata tak pernah serakah

selain menyembunyikan makna hati

ke dalam samudra puisi.

 

Walau kata hari-hari ini sering dikhianati

sebagai kantong-kantong janji para penguasa

yang berisi basa-basi bijak namun ilusi

setelah jadi raja nanti.

 

Namun kata tetaplah kata

walau masih lugu di lidah para politisi dan pendusta.

 

2018-09-04

 

baca juga: Nadi Seruling dan puisi-puisi lainnya karya Cep Subhan KM

 

Kepada Penyair Muda

 

Karena kita adalah penyair berdarah muda

bukan hewan dungu soal mengunyah bahasa.

Maka revolusi puisi harus diperjuangkan.

 

Agar segala debu pada bola mata sastra

suci dan merdeka dari rayuan manis

sajak nenek-moyang penyair purba.

 

Sebab penyair bukan tukang foto copy

apalagi seorang plagiat puisi sejati.

 

Adakalanya, penyair adalah Tuhan revolusi

makna, kata dan diksi dalam semesta puisi.

 

2018-09-03

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: