Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Di Tempat Terbaik Antropolog Bekerja

Oleh: Linda Fitria         Diposkan: 31 Jan 2019 Dibaca: 913 kali


“Suara kami tak pernah didengar karena kami cuma penghuni kampung kumuh. Tapi, kata-katamu setidaknya masih akan mendapat perhatian! Kamu bisa menceritakan kisah kami kepada dunia,” ucap Tikus.

Lelaki yang berprofesi sebagai pengamen itu merupakan tokoh sentral dalam Tempat Terbaik di Dunia. Ide dari Tikus muncul ketika Roanne Van Voorst, si penulis buku, merasa malu karena tidak dapat berbuat apa-apa untuk orang-orang Bantaran Kali yang menjadi target risetnya. Berbagai artikel dan jurnal akademik telah ia buat, tetapi tidak sedikitpun tulisan akademisnya mengurungkan niat para pemangku kebijakan untuk menggusur orang-orang di Bantaran Kali.

Roanne – begitulah Tikus dan orang-orang Bantaran Kali memanggilnya – adalah seorang perempuan berkebangsaan Belanda. Ia sengaja datang ke Indonesia untuk melakukan riset berbasis antropologi mengenai respon masyarakat terhadap bencana. Fokusnya tertuju pada konsep kebencanaan, terutama banjir, di mata masyarakat Bantaran Kali--nama samaran suatu tempat di Jakarta yang sengaja disematkan oleh Roanne.

baca juga: Produk Gagal Patriarki Itu Pelacur Buas

Bantaran Kali di dalam tulisan Roanne, dinarasikan sebagai sebuah tempat berisi orang-orang terpinggirkan. Di mata para elite, Bantaran Kali tak ubahnya satu titik yang dijejali berbagai masalah masyarakat urban kelas menengah ke bawah. Penggusuran menjadi satu-satunya jalan terbaik di mata para pemangku kebijakan. Tetapi bagi orang-orang yang terus mendapat stigma negatif ini, Bantaran Kali sesungguhnya merupakan tempat terbaik di dunia.

Eksplorasi terhadap hal-hal yang dianggap “terbaik” di mata orang-orang Bantaran Kali, dilakukan Roanne melalui observasi partisipatif (tinggal bersama informan riset dalam kurun waktu tertentu). Petualangannya meresapi kehidupan orang-orang pinggiran sungai di Jakarta, tak lepas dari peran Tikus – seorang pengamen laki-laki – yang mengenalkannya dengan berbagai karakter beragam di Bantaran Kali. Setiap karakter yang ditulis oleh Roanne, mewakili satu bagian kelas sosial tertentu.

Kembali lagi ke ucapan Tikus, bagi saya, kutipan itu menjadi salah satu jawaban dari kegelisahan para antropolog dan peneliti sosial lainnya, tentang bagaimana cara menyampaikan kerja-kerja riset sosial secara lebih sederhana kepada masyarakat luas. Proses penyampaian yang dilakukan dalam buku ini, tidak hanya berupa publikasi hasil kerja lapangan, tetapi juga mampu mewakili suara-suara masyarakat yang selama ini merasa terpinggirkan seperti orang-orang yang hidup di Bantaran Kali. Maka hadirlah Tempat Terbaik di Dunia yang diangkat dari hasil riset lapangan Roanne, namun disajikan dengan gaya tulisan yang amat luwes, seperti sedang membaca dongeng.

baca juga: Dildo: Kisah Daud Melawan Jalut

Kendati ditulis dengan tuturan kata yang sederhana, namun Roanne sejatinya tengah membawa isu-isu besar dalam lingkup ruang hidup masyarakat perkotaan. Kerja lapangan di Bantaran Kali, membawanya bertemu hal-hal tak terduga dan penting rasanya untuk disuarakan. Saya jadi teringat dengan ucapan dosen di salah satu kelas antropologi – saya seorang mahasiswa antropologi, bahwa antropolog, haruslah mampu menjelaskan fakta-fakta yang sedang terjadi di balik sebuah fenomena sosial. Antropologi, seharusnya mampu melihat apa yang “tidak terlihat”, dan saya rasa, Roanne berhasil melakukan itu.

Hal menarik yang ditemukan oleh Roanne, adalah tentang konsep bencana bagi orang-orang Bantaran Kali. Orang-orang yang ditemui Roanne beranggapan, banjir ataupun kebakaran, bukanlah sebuah bencana. Dua hal itu, bagi mereka yang hidup di pemukiman padat pinggiran sungai, adalah sesuatu yang “sudah biasa”. Menjadi hal yang sudah biasa karena orang-orang Bantaran Kali memiliki pengetahuan tersendiri perihal mitigasi banjir.

Rumah-rumah semi permanen yang berjarak beberapa meter dari bibir sungai, dibangun bertingkat. Loteng paling atas akan digunakan sebagai tempat mengungsi sementara, barang dua sampai satu minggu, ketika banjir datang. Mereka akan bertahan di loteng dengan persediaan bahan makanan yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari. Barang-barang berharga seperti TV, radio, surat-surat, akan dibawa serta ke bagian atas rumah sederhana mereka.

baca juga: Peristiwa-Peristiwa yang Perlu Diwartakan

Lalu, dari mana mereka bisa tahu jika banjir akan datang?

Portofon. Ya, portofon, atau walkie talkie berwarna hitam. Hanya beberapa orang saja yang bisa memiliki itu, karena harganya yang cukup mahal dan perlu menabung sampai bertahun-tahun. Dengan portofon, mereka bisa tau informasi mengenai kedatangan banjir sebab di kawasan pinggiran sungai seperti Bantaran Kali, tidak disediakan sistem peringatan resmi dari pemerintah. Komunikasi ini tercipta di antara petugas pintu air di perbukitan di atas Jakarta, dengan para “Pak Guru”.

Pak Guru, adalah sebutan untuk mereka yang memiliki portofon. Disebut demikian karena mereka dianggap mampu menjadi dukun banjir. Fungsinya yang amat penting serta harganya yang terbilang mahal untuk ukuran masyarakat Bantaran Kali, membuat portofon mampu membawa pemiliknya menapaki status sosial yang lebih tinggi. Bahkan di Bantaran Kali, menjadi pemilik portofon berarti menjadi seorang dengan kelas paling tinggi.

Ketika mendapat informasi mengenai air sungai yang naik, orang-orang Bantaran Kali akan saling menggedor pintu rumah tetangga agar bersiap-siap mengemas barang menuju bagian atas rumah. Dan tentu saja, pemilik portofon menjadi yang paling pertama tahu informasi sehingga menjadi yang terdepan dalam mempersiapkan kedatangan banjir.

baca juga: Kotak Pandora Orang-orang Malang

Di saat-saat seperti ini, Roanne juga ikut berkemas dan menapaki tangga menuju bagian atas rumah sewanya. Masa-masa melihat air meluap dari loteng rumah, menjadi penting bagi risetnya, sekaligus membuat Roanne merasa kehilangan orientasi waktu. Di tempat ini, Roanne melakukan “pencarian data” dengan Enin dan Neneng. Enin, adalah pemilik rumah yang disewa oleh Roanne. Sedangkan Neneng adalah teman Enin yang memiliki banyak “teman kencan.”

Pencarian data yang ia lakukan, berupa observasi partisipatif yang mungkin oleh Enin dan Neneng, tidak disadari. Seperti kata Roanne, “hal yang tampak seperti percakapan biasa antar sahabat itu, sebetulnya adalah wawancara untuk mengumpulkan data.” (hlm. 120). Saat membaca bagian ini, saya teringat dengan aktivitas serupa yang juga pernah – bahkan sering – saya lakukan, dan saya rasa para antropolog lain juga melakukan hal serupa. Percakapan-percakapan di kondisi yang tidak biasa – seperti di loteng rumah Enin – sesungguhnya menjadi hal yang antropolog sukai. Mengapa demikian?

Meminjam kalimat Roanne, topik utama yang dipelajari dalam ilmu sosial seperti antropologi, adalah soal perilaku manusia. Untuk mendapatkan jawaban, peneliti akan menggunakan informasi yang diberikan oleh informan. Tetapi, jawaban dari wawancara formal terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Maka observasi partisipatif menjadi metode penggalian data yang menjadi andalan para antropolog.

baca juga: Dimensi Puisi dan Tahun Politik

Melalui observasi partisipatif, seorang antropolog dapat membandingkan informasi yang diperoleh dari wawancara, dengan aktivitas informan sehari-hari. Hasil analisis dari kombinasi dua metode ini, dinilai lebih meyakinkan menurut kacamata para praktisi antropologi. Melalui pendekatan ini pula, antropolog dapat lebih “mengalami” kehidupan para target risetnya.

Kerja lapangan Roanne selama satu tahun mulai 2010 hingga 2011 di Bantaran Kali, membawanya pada satu kesimpulan penting tentang gagasan kebencanaan di mata para informannya. Sekali lagi, banjir maupun kebakaran yang seringkali dianggap sebagai malapetaka, bukanlah suatu bencana berarti bagi orang-orang di Bantaran Kali. Bencana sesungguhnya bagi mereka adalah kesendirian. Tidur sendiri, makan sendiri, menonton tv sendiri, adalah sebenar-benarnya bencana bagi masyarakat yang terbiasa hidup secara komunal di Bantaran Kali. Maka bagi Roanne yang berasal dari tempat dengan budaya individualistik, fakta ini benar-benar di luar dugaan.

Selain “kesendirian yang menjadi bencana”, banyak hal yang menunjukkan kekontrasan budaya dalam tulisan ini. Dua budaya yang dibenturkan di sini, justru membuat tulisan Roanne semakin kaya. Peluang ini bagi saya, dimanfaatkan oleh Roanne untuk mengajak kita agar lebih berempati dengan mereka yang terpinggirkan dan melihat mereka sebagai sesama manusia.

baca juga: Menggumam Seperti Goenawan Mohamad

Hal yang terpenting di mata saya, Tempat Terbaik di Dunia secara tidak langsung telah membantu menjelaskan kepada masyarakat yang lebih luas, tentang bagaimana kerja-kerja para antropolog di lapangan. Tentang mengalami kehidupan orang lain, hingga mengangkat suara-suara yang selama ini tidak didengar, lewat cara-cara yang sederhana seperti menuliskan kisahnya.

  •  

Judul: Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta

Penulis: Roanne Van Voorst

Penerjemah: Martha Dwi Susiolowati

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: 198 Halaman.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: