Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Di Warung Kopi, Buku Menghapus Kesunyian Kita

Oleh: Redaksi         Diposkan: 30 Nov 2018 Dibaca: 1732 kali


Kita memesan minuman hangat di tempat yang sama. Aku memesan kopi, dan kau memesan jahe hangat dengan tambahan gula batu yang dihidangkan saling terpisah. Kau mencoba bertanya tentang segala hal, dan aku hanya menjawab sekenanya. Kau marah. Kesal sekali hingga air mukamu berubah sebegitu drastis, dan kita terjebak dalam diam. Sunyi. Ketika aku kebingungan dan mulai mencari apa-apa saja yang dapat kita bicarakan, hujan pun turun.

Gerimis berubah perlahan, dan percakapan kita mulai terhalangi oleh suara atap yang terguyur. Kebingunganku semakin membuncah dan kini aku tak punya apa-apa lagi, selain buku dalam tasku. Kebetulan saat itu aku dan dia secara sengaja pergi ke toko buku terlebih dahulu, sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk berhadapan dan  kini terjebak dalam kesunyian. “Katanya kau ingin mengetahui alasanku mengapa aku memilih buku ini?” tanyaku pada dia yang sedang melipat wajahnya. Tatapannya kini mengarah padaku seakan tak perlu ia bertanya soal yang sama.

5 Buku Rekomendasi

“Kali ini aku memperbanyak bacaan sastra, katanya, dengan membaca sastra, kita sama dengan mengolah rasa kita untuk menafsir setiap diksi yang terangkai. Mengolah rasa dan pemahaman kurasa penting untuk saat ini.” kataku sambil mencicip kopi dalam cangkir dengan ujung bibirku.

Kau memasukkan sepotong balok gula batu dalam gelas, kau mengaduk sekenanya dan mencicipnya. “Lalu apalagi selain sastra?” tanyamu.

“Ada buku Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Buku ini cukup populer. Mungkin orang-orang berpikir bahwa filsafat adalah hal yang rumit. Sedangkan mereka membutuhkannya untuk membentuk pola pikir mereka. Karena filsafat terlanjur dicap sebagai ilmu yang sangat merepotkan – begitu juga denganku. Jadi, mungkin buku ini akan mampu membimbingku menuju pada filsafat itu sendiri. Memang cukup tipis, tapi hal yang dibawa dalam judulnya begitu besar. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat.” Kataku sambil menenteng buku itu di tangan kananku sebelum akhirnya kau menariknya dan membaca sinopsisnya.

“Sebentar, aku masih penasaran dengan alasanmu memilih semua buku itu. Ceritakan. Aku ingin mendengarnya.” katamu sambil menyangga kepalamu dengan tangan yang bersandar pada meja. Seperti di film-film barat, dimana seorang bocah ingin mendengar dongeng dari ibunya sebelum tidur.

“Baiklah mungkin akan kumulai dari The Old Man and The Sea. Aku sedikit terheran mengapa aktivitas memancing ikan bisa sangat mencuri perhatian dunia sastra pada waktu itu. Ernest Hemingway nama yang cukup beken sih memang, tapi apa sih yang menarik dari memancing itu? aku heran”

“Kesabaran mungkin?”

“Ya. Mungkin iya. Aku memang betul membacanya secara utuh. Tapi kata teman-temanku, di dalam buku kecil ini, Ernest Hemingway menuliskan soal bukan memancing yang biasa saja. Ia memancing ikan Marlin yang besarnya luar biasa. Karena ia tak kuat, ia bukan melepaskan jorangnya, malah ia tetap bertahan meskipun itu bisa sangat membahayakan nyawanya. Bagaimana soal perjuangan yang tiada lelah lalu kita mencapainya.”

“Wah, sepertinya aku tertarik. Tapi, ceritakan dulu yang lain.” Kini mukamu nampak lebih bercahaya dari sebelumnya. “Masihkah kau marah karena percakapan kita yang berakhir sunyi?”

“Masih, kau harus menyelesaikan semua buku itu jika kau ingin selamat.” Senyum manismu merekah tak keruan ,“Bukannya kau sudah punya George Orwell yang ini.” sambil menunjuk buku bersampul kuning dengan gambar peternakan.

“Baiklah. Kini George Orwell, sebenarnya terjemahan indonesianya setahuku ada dua. Binatangisme dan Animal Farm. Aku sudah membaca Binatangisme dan ingin membandingkannya. Soal isi ceritanya, fabel ini, pasti kau tahu karena kita sudah membahas novel ini sebelumnya. Aku hanya ingin membandingkannya, sah saja kan?” kau pun mengangguk. “Mengapa harus dibandingkan?”

“Kupikir ini perlu, karena kita tak pernah tahu apa yang ada di dalam kepala penerjemah. Adakah perbedaan penggunaan diksinya. Apakah pada akhirnya ia menyadurnya dan memberikan sadurannya sebagai sebuah terjemahan atau hanya memindahkan dari bahasa lain ke bahasa indonesia.”

“Lanjut deh lanjut. Berat.” Keluhmu sambil menunjuk buku bersampul putih dengan bulatan warna merah bertuliskan #3rd UNNES International Novel Writing Contest 2017

“Ini Eko Triono. Sudah lama aku membaca karya-karya lainnya yang tampak sangat eksperimental. Judulnya Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-masing. Entah ya, sepertinya jebolan kontes yang sama terdengar sangat eksperimental, judulnya saja ada yang Buku Panduan Matematika Terapan, padahal novel. Jadi aku penasaran. Masih ingat kan Eko Triono yang Agama Apa Yang Pantas Bagi Pohon-Pohon? Atau Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini? Nah itu aja sih. Aku suka eskperimennya dia dalam menulis gitu.”

“Ini bukunya mbak Fitri bukan sih?”

“Iya. Tau kan kenapa akhirnya beli buku ini?”

“Mau membandingkan Aku Ingin Jadi Peluru sama Kau Berhasil Jadi Peluru? Atau gimana?”

Aku sedikit berpikir, mana mungkin aku membandingkan keduanya yang punya rohnya masing-masing dan keberaniannya masing-masing. Akhirnya kuputuskan menjawab, “Mungkin bukan membandingkan, tapi membacanya bersama. Bagaimanapun juga apa yang ditulis mbak Fitri ini kan tidak terbaca oleh Wiji Thukul. Pasti akan sangat merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang anak penyair yang puisinya hingga hari ini masih dibacakan bahkan hafal di luar kepala saat berada di situasi demonstrasi.”

“Buku apa ini?” sambil menenteng buku terakhir dengan gambar hati yang menonjol merah merekah. “Membaca buku ini akan menjadi pengalaman mengecewakan bagi siapa pun yang mengharapkan petunjuk mudah dalam Seni Mencintai. Sebaliknya, buku ini akan memperlihatkan bahwa cinta bukanlah suatu perasaan yang dapat dengan mudah dinikmati siapa saja, terlepas dari tingkat kedewasaan yang telah dicapainya. Lah, gimana dong? Membaca Seni Mencintai lalu kita tahu tentang apa dong?” tanyamu penasaran.

“Ya soal cinta. Kata Erich Fromm, bukan itu soalnya. Cinta yang dibicarakan Fromm sepertinya adalah cinta yang diwujudkan dalam suatu hubungan yang berkomitmen. Cinta adalah sesuatu yang harus dirawat dan dikembangkan. Kalau kita merasa cinta pada seseorang, kita harus bertanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya berikan untuk orang yang saya cintai? Memberi, bukan diberi. Menyayangi, bukan disayangi. Menjaga, bukan dijaga.”

Kamu tersenyum dan percakapan kita bergulir seperti bola. Apa yang kita bicarakan kini bukan soal buku, tapi tentang semua. Apa yang kita alami, kita dengar, kita lihat. Karena begitulah makna sebuah pertemuan.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: