Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Dialog Marx dengan Antropologi

Oleh: Karunia Haganta         Diposkan: 21 Feb 2019 Dibaca: 2496 kali


Marx memiliki peranan amat penting dalam perkembangan ilmu sosial. Bersama dengan Durkheim dan Weber, Marx dianggap sebagai bapak dari ilmu-ilmu sosial. Hal ini dikarenakan berbagai pemaparan analisis Marx mengenai kondisi masyarakat yang ia tuliskan dalam berbagai bukunya bersama Friedrich Engels. Menurutnya, masyarakat terkungkung dalam jerat kapitalisme di berbagai bidang. Analisis Marx ini melahirkan teori-teori yang akhirnya berpengaruh pada perkembangan ilmu sosial di masa setelah Marx.

Antropologi termasuk ilmu sosial yang mana paradigma Marx memainkan peranan dalam perkembangannya. Beberapa antropolog terpengaruh pemikiran Marx. Dalam karya-karya mereka, teori Marx digunakan sebagai pisau analisis atas permasalahan yang menjadi objek penelitian mereka. Marx sendiri menyatakan bahwa teorinya bertumpu pada pelaksanaannya untuk membebaskan masyarakat dari kapitalisme.

Namun, khazanah Marxisme di Indonesia bisa dibilang masih baru berkembang. Hal ini dikarenakan pelarangan Orde Baru terhadap penyebaran Marxisme. Pelarangan ini juga berdampak pada tersingkirnya Marxisme dari diskursus akademis. Sehingga penulisan karya-karya ilmiah mengenai Marxisme tentu saja menjadi amat penting.

baca juga: Mesin Produksi Manusia Itu Bernama Sekolah

Dalam hal ini, buku Marx, Kapital, & Antropologi: Kumpulan Tulisan Terpilih Antropologi Marxis adalah karya yang luar biasa. Buku ini adalah antologi berbagai tulisan antropolog-antropolog yang menggunakan teori Marx sebagai metode utamanya. Antropolog yang karyanya ada dalam antologi ini adalah Bridget O’Laughlin, Eric R. Wolf, Maurice Godelier, Claude Meillasoux, Joel S. Kahn, dan Michael Taussig. Seluruh antropolog tersebut adalah antropolog yang memiliki pengaruh yang amat besar dalam mengembangkan ilmu antropologi.

Di bagian pendahuluan yang ditulis oleh editor, diuraikan mengapa antropologi membutuhkan “kacamata” Marxis untuk menguraikan permasalahan dalam masyarakat. Editor mengutip ucapan Marvin Harris, “selama para antropolog memandang sebelah mata arti penting Karl Marx, tidak akan ada ilmu ihwal masyarakat manusia” (hal. 1). Marx meletakkan manusia sebagai pusat dari teorinya (antroposentris). Bahkan Marx berupaya lebih lanjut untuk membebaskan manusia dari tindasan kapitalisme.

Antropologi di Indonesia menurut editor sedang dihantui relativisme. Sesuai dengan pandangan Geertz, pentolan antropologi simbolik, yang menganggap kebudayaan adalah masalah pemaknaan simbolik. Paradigma ini memosisikan antropolog sebagai juru tafsir (hal. 1). Tidak hanya itu, relativisme menghilangkan realitas objektif dari antropologi. Realitas yang objektif tidak hadir karena semua hanyalah penafsiran.

baca juga: Segar Rohani dalam Sunyi Jasmani

Pemikiran Marx pada umumnya dianggap terbagi dua, yaitu Marx muda yang humanis dan Marx tua yang ilmiah. Transformasi itu konon berubah setelah 1848. Marx tua menjadi acuan bagi para antropolog dalam buku ini. Karya utama Marx tua adalah Das Kapital. Alasan antropolog di sini lebih condong pada Marx tua karena metodologinya yang lebih matang. Hal ini didorong dari pemikiran Althusser (hal. 4), yang seringkali disebut marxisme struktural, yang mengungkapkan menekankan pemikiran Marx sebagai suatu metode. Metode itu digunakan dalam etnografi mereka. Dalam Das Kapital tersedia paradigma materialis mengenai masyarakat (hal. 6) yang dipaparkan secara rinci. Namun para antropolog Marxis tidak meletakkan Marxisme sebagai dogma yang selalu benar (hal. 7).

Meskipun pandangan Marxis menolak relativisme yang menyangkal adanya realitas objektif, mereka juga tidak terjebak dalam positivisme. Menurut Eric Wolf, metode Das Kapital tidak bisa digunakan dengan mudah karena, “metode tersebut banyak bertentangan dengan apa yang kita terima sebagai nalar wajar ilmu ” (hal. 10). Nalar wajar ilmu yang dimaksud adalah empirisme radikal David Hume dan positivisme pragmatis Auguste Comte (hal. 11). Terdapat ranah yang tak kasat mata, yang tak dapat dibuktikan secara empiris, yang harus dikuak dengan menggunakan metode antropologi Marxis. Seperti contohnya kajian mengenai relasi eksplotatif pekerja dan kapitalis dan teori nilai lebih yang dihasilkan pekerja tidak dapat dihasilkan dengan menggunakan paradigma empirisme dan positivisme.

Tujuan para antropolog Marxis adalah menjauhkan antropologi dari apa yang disebut Edmund Leach, “kolektor kupu-kupu” (hal. 15). Maksudnya adalah antropologi jangan sampai terjebak sebagai ilmu yang hanya sekadar mengumpulkan data mengenai kebudayaan dan memaparkannya begitu saja. Kebudayaan tersebut disajikan selayaknya suatu koleksi yang berbeda-beda dan unik seprerti halnya yang dilakukan kolektor kupu-kupu terhadap koleksinya.

baca juga: Berpuisi Sampai Jauh

Dalam konteks ini, antropolog Marxis mencari landasan konseptual untuk menganalisis masyarakat. Landasan konseptual itu adalah materialisme Marx dengan mode produksi sebagai basisnya. Tetapi antropologi juga mengenal materialisme di luar materialisme Marx, yaitu materialisme Marvin Harris dan materialisme Julian Steward. Meski begitu, materialisme Marx berbeda dengan materialisem kedua antropolog tersebut. Perbedaan itu terletak pada kunci pemahaman materialisme Marx mengenai relasi sosial (hal. 17). Materialisme Harris justru menekankan pada populasi dan materialisme Steward menekankan pada teknologi dan relasi manusia dengan alam.

Isi buku bisa dibilang terbagi dua (di luar pendahuluan dari editor, yaitu pembahasan mengenai metodologi antropologi Marxis dan etnografi dengan pisau Marxian. Bridget O’Laughlin ,misalnya, memaparkan metodologi antropologi Marxis dengan meletakkan produksi dan reproduksi sebagai penentu dinamika sosial (hal. 40). Etnografi dengan teori Marxian menegaskan bahwa teori Marx tidak dipakai begitu saja dan tidak kaku karena dapat dilihat dalam berbagai jenis kebudayaan. Basis cara produksi yang dijadikan acuan utama analisis antropologi Marxis juga tidak membuat pembahasan hanya berkutat mengenai ekonomi. Claude Meillasoux, misalnya, menuliskan mengenai masalah kasta di India. Maurice Godelier menggunakan teori Marxis untuk menganalisis agama orang Mbuti di Kongo. Membuktikan bahwa “antropolog Marxis dapat lanjut menganalisis agama di dalam masyarakat prakapitalis” (hal. 249).

Penerjemahan atas karya para antropolog Marxis ini dapat digunakan untuk membantu masyarakat Indonesia. Diskursus mengenai Marxisme di Indonesia dapat diperluas dengan kajian mengenai antropologi Marxis dari para antropolog terkemuka di dunia. Begitu juga dengan disiplin ilmu antropologi diperkaya dengan kehadiran suatu metode baru yang dianggap dapat mencari penyelesaian masalah di masyarakat pada saat ini. Karena seperti yang dikatakan Marx dalam tesisnya tentang Feuerbach nomor 11, “Para filosof hanya menginterpretasikan dunia secara berbeda, yang perlu ialah mengubahnya!”.

  •  

Judul : Marx, Kapital, & Antropologi

Penulis : Dede Mulyanto dan Dicky P. Ermandara (Editor)

Penerbit : Ultimus

Tebal : x + 258 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: