Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Dildo: Kisah Daud Melawan Jalut

Oleh: Robi Mardiansyah         Diposkan: 26 Jan 2019 Dibaca: 1360 kali


Di hari-hari penuh khianat, bicara politik memang tak gampang. Apalagi melucu.

Sebuah acara televisi bernama Rosi baru-baru ini bikin heboh. Acara itu tayang dengan tajuk: “Politik Tronjal Tronjol, Menolak Fanatisme Buta Pada Capres.” Fanatisme? Siapa yang ambil bagian dalam fanatisme?

Banyak orang, ternyata. Humor lantas kita duga porno. Kritik terhadap elit politik kita curigai upaya menggulingkan negara – menjadi golput. Demokrasi rupanya tidak mendidik orang efektif menggunakan akalnya. Orang mendadak serius, bermain gawai atau menonton televisi dengan raut muka masam. 

Kira-kira Januari 1978, di Amerika, tatkala humor sudah lazim jadi langkah awal menuju pemikiran politik yang matang, Mel Brooks diwawancarai oleh seorang wartawan Rolling Stone. Komposer jenius sekaligus kocak asal Brooklyn itu mengemukakan pandangannya soal humor dengan kata-kata yang kelak tak urung jadi masyhur, “Humor hanyalah satu dari sedikit cara bertahan dalam melawan semesta.”

baca juga: Peristiwa-Peristiwa yang Perlu Diwartakan

Dua abad sebelumnya, ketika Amerika belum merdeka sampai beberapa tahun ke depan pasca kemerdekaan, waktu-waktu di mana wajah politik Amerika terbagi menjadi Patriot (-kemerdekaan) dan Loyalis (-Inggris), Anthony Marenna mencatat: lewat humor, mereka yang tergabung dalam kompatriot mengkampanyekan agenda politik mereka untuk keluar dari belenggu kolonialisme Inggris. Propaganda diartikulasikan lewat karikatur yang dicetak berjuta-juta copy, lewat teater dan lagu semangat. Orang-orang kemudian mengenal Thomas Nast sebagai pencetus “politik komedi modern”; James Montgomery Flagg menggambar seorang laki-laki tua, dengan raut cemberut dan telunjuk menantang menunjuk, sketsa yang kelak membuat kita menyebut Amerika sinonim negeri “Paman Sam”.

Di tengah-tengah masyarakat yang semakin frustasi akibat teror dan sensor yang dilakukan pihak penguasa, humor bisa membuat politik berarti. Humor juga bisa membuat politik dewasa – dan orang-orang waras. 

“Humor,” kata seorang cerdik strategi politik, Robert Shrum, “secara ajaib memangkas apa yang retorika politik mustahil lakukan.” Politik memang bisa jenuh akibat bebodoran dan manuver subtil para politisi dan partai; humor ada untuk mengatasi wacana politik yang mampat. Kekuasaan boleh jauh dan tak bisa diakses, namun humor memungkinkan orang-orang yang tak punya kuasa untuk saling terhubung, bersama-sama berada tepat di pusat kekuasaan – dalam gelak yang menjadi-jadi atau olok-olok yang merendahkan.

Dengan kata lain, tiap kali politik genting, tiap kali juga humor bisa datang sebagai sikap awas. Humor memiliki peran penting dalam cara kita memandang dan terlibat di dalam politik. Ia tampil dalam ekspresi spontan. Kita tertawa, dengan bahak atau senyum kecil, tanpa sempat mencerna dan memahami apa yang sebenarnya sedang kita tertawakan. Apakah hasil refleksi pikiran berbeda atau tak sependapat setelah itu, tak ada kaitannya dengan konten yang kita tertawakan. 

Maka, humor berbeda dengan strategi politik, yang melulu diberlakukan sebagai upaya terencana demi mencapai sebuah hasil (kemenangan politik) – sehingga boleh berkubang dusta. Tawa menghapus hierarki, mengikat solidaritas, membawa orang untuk bersama-sama tertawa. Itulah mengapa, bagi Shrum, politisi dengan sifat flamboyan yang natural dan tak dibuat-buat adalah “aset” untuk setiap agenda politik yang mapan. Kita melihat bagaimana Ustadz Abdul Somad yang jenaka itu memiliki jutaan pengikut beda paham dan aliran, namun padu dalam gurau yang menggelitik atau lawak yang menggelikan.

baca juga: Lubang Hitam Manusia Modern

Hidup pada masa di mana realitas semepet skrin gawai dan layar monitor, politik memang kerap membuat latah. Sebuah lembaga riset yang berbasis di Washington, Pew Research Center, pada 2015 merilis hasil temuannya, “media sosial telah menjadi tempat berlangsungnya peristiwa-peristiwa penting di dalam politik.” Mereka berfokus pada Twitter dan Facebook – dari meme-meme yang berseliweran, dari berita-berita yang diposting – yang merupakan “potongan pemikiran populer”. Orang-orang terdorong untuk bersikap dalam komentar, dalam konten yang diposting, terjebak dalam realitas “klik”. Apa yang khas dari kecenderungan ini, orang-orang “mengetahui bahwa sudut pandangnya benar.” Bahwa di belahan bumi lain ada orang yang berpikir seperti dirinya – punya humor yang sama, punya sikap politik yang sama. Kemarin ada Ustad Abdul Somad; hari ini ada Dildo (Nurhadi-Aldo).

Di Indonesia, bangsa yang mati-matian mengaku berdaulat dalam demokrasi tapi juga mudah terjebak dalam sentimentalitas golongan politik dan konservatisme agama, pertautan politik dan media sosial bisa jadi lain. Saya memang hendak menuding orang-orang semacam Rosi, pembawa acara yang lebih menonjolkan tampilan necis dan rambut bling-bling ketimbang wawasan itu yang, tatkala berkomunikasi via telepon dengan Edwin (kreator Nurhadi-Aldo), ngotot menggiring wacana kemunculan Dildo ke dalam pokok permasalahan “pornografi” dan “golput”. Saya akan memberikan beberapa pertimbangan.

Pandangan-pandangan semacam Rosi, alih-alih membebaskan khalayak dari “fanatisme”, malah menjebak orang ke dalam fanatisme lain: demokrasi. Demokrasi yang sekadar konsep, yang selesai secara konstitusional namun gagal dalam pengaplikasiannya. Kehidupan berbangsa dan bernegara rancu, membeku di dalam ideal (tentang demokrasi) dan tak hendak melebur ke tengah arus massa yang serba fluktuatif dan berubah-ubah. Demokrasi sering jadi alasan untuk membela setiap kejahatan politik; atas nama demokrasi, kebohongan-kebohongan yang para politisi lakukan di ranah publik atau lobi-lobi politik melalui saluran telepon dan pertemuan rahasia, dirasa pantas.

baca juga: Kotak Pandora Orang-orang Malang

Mungkin itu sebab mengapa Indonesia tak pernah kurang pemimpin lalim, politisi culas, membentuk sebuah etika politik dari, mengutip Manuel Castells, “realitas politik di balik meja.” Tak heran kalau, di tengah-tengah demokrasi, masih kita dapati orang mengolok-olok politisi yang tak becus kerjanya di tangkap. Kios-kios buku digeruduk – tahun lalu di Jogja, hari ini di Tarakan, Padang dan Kediri, esok entah di mana lagi. Politik dan demokrasi kepalang jadi barang dagangan, hanya bisa dimiliki oleh mereka yang punya uang untuk membeli. Dan kebebasan berpendapat, pijakan dasar bagi setiap demokrasi, sudah tak mungkin lagi.

Ada satu hal yang agaknya tipikal dari orang-orang macam Rosi: mereka tidak tahu mana yang lucu mana yang serius. Tapi, orang yang tidak memiliki selera humor bukan hanya tidak tahu mana yang lucu, tapi juga tidak tahu mana yang serius, bukan? Pornografi? Golput? Siapa peduli – kami tertawa!

Melihat Dildo sekarang, saya teringat dengan kata-kata antropolog terkenal dalam catatan etnografinya tentang kelompok teater bernama “Billionaire” yang giat mengkritik pemerintah di jalanan kota New York, dalam No Billionaire Left Behind: Satirical Activism in America, “banyak komedian politik memandang diri mereka cermin Daud melawan Jalut: kisah orang-orang kecil melawan raksasa.”

baca juga: Melihat Buku Bekerja

Politik harus sehat. Politik memang harus sehat. Tapi bukan berarti orang tak boleh bicara lucu. 

“Humor hanyalah satu dari sedikit cara bertahan dalam melawan semesta.” Barangkali juga negara.

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: