Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Dimensi Puisi dan Tahun Politik

Oleh: Aditya Ardi N         Diposkan: 15 Jan 2019 Dibaca: 723 kali


Sejak hampir dua ribu tahun yang lalu sudah terdapat tiga sokoguru filsafat negara: Pertama, keyakinan yang bersifat religious—bahwa negara tak berhak menuntut ketaatan mutlak, manusia harus lebih taat pada Tuhan. Kedua, bahwa negara dalam menjalankan tugasnya harus berdasar pada norma etis, di mana ide keadilan harus menjadi dasar. Ketiga, bahwa kekuasaan negara harus mengalir berdasarkan suatu sistem hukum.

Seorang pemikir besar tentang negara, Niccolò Machiavelli dalam bukunya Il Principe, dengan tegas menyerukan tentang bagaimana seorang pemimpin dapat mempertahankan kekuasaannya dalam berbagai intrik politik. Menurutnya hanya ada satu kaidah etika politik: yang baik adalah apa saja yang memperkuat kekuasaan, dalam konteks ini politik dan moral merupakan dua hal yang tidak berkonstelasi. Gagasan Machiavelli ternyata sangat relevan dengan masa kekinian, kita tentu ingat suksesi kepemimpinan dari era Sukarno ke Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, merupakan manifestasi dari gagasan Machiavellian tersebut. Intrik politik, teknik, dan taktik itulah yang dilakukan untuk mendapat sekaligus melanggengkan kekuasaan Orde Baru.

Korelasi sastra dan politik laiknya dua sisi koin yang tidak bisa dipisahkan. Dalam artian, hubungannya akan selalu beriringan, baik saling bergandengan tangan maupun saling bertentangan. Itu suatu hal yang wajar jika sastra akan kontra dengan politik, apabila bertemu dengan rezim represif karena prinsip dasar seorang manusia menginginkan kebebasan. Adalah nama besar penyair legendaris WS Rendra, membaca puisi Rendra adalah mendengar bunyi dari kalimat pemberontakan yang tersusun dengan bahasa; ke dalam entitas politis dan historis yang disebut bahasa; bahasa yang menjelma menjadi realitas dalam sajak. Sejak kumpulan sajaknya yang pertama “Ballada Orang-Orang Tercinta” pada 1957 hingga kumpulan “Potret Pembangunan dalam Puisi” pada 1983, nada dasar puisi Rendra sudah jelas: pemberontakan, Sebagai counter attack terhadap proses dehumanisasi yang terjadi pada masa itu. Puisi pamflet Rendra mereaksi para penyelenggara negara yang korup, serta situasi kemasyarakatan yang bangkrut harga diri dan moralitasnya.

baca juga: Gerak Industri “Penerbit Jogja” pada Dua Zaman

Berikutnya ada nama penyair Saini KM, Sepuluh Orang Utusan (1989) ditera ketika di negeri ini bergolak peristiwa sosial-politik yang gawat, jika dibandingkan dengan Rendra, Saini lewat lirik sosialnya lebih membangun empati antropologis pada nasib individu kawula alit yang tak berdaya menghadapi tirani kekuasaan. Dengan penuh nyali Saini menulis: “Kini soalnya bukan takut atau berani / hidup atau mati / melainkan sia-sia atau berarti.

Kekuasaan dalam praksisnya memang cenderung korup, hal ini ditegaskan Nietzsche melalui gagasan will to power-nya, bahwa dunia adalah kehendak untuk berkuasa, hidup adalah kehendak untuk berkuasa, dan moralitas adalah ungkapan kehendak untuk berkuasa. Sejak awal karya-karyanya, Nietzsche memperlihatkan minatnya pada bidang seni sebagai pengganti bidang moral. Penghayatan hidup melalui jalur seni yang kreatif dan jenius merupakan jawaban baginya. Hampir semua karyanya tidak ditulis secara sistematis. Untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya, ia menulis dalam bentuk aforisme-aforisme yang tentu saja sangat puitis dan multi interpretasi, sebab aforisme memiliki bentuk yang padat serta sarat makna seperti puisi.

Puisi tidaklah selalu gagal dalam menyampaikan pesan kemanusiaan ditengah silang-sengkarut dan keruhnya persoalan di negeri ini, meminjam istilah Wowok HP (presiden penyair buruh) puisi adalah mulut untuk menyampaikan aspirasi dan gagasan besar tentang kebebasan dan keadilan. Dominasi artifisialisasi bahasa dan lunturnya kepekaan dalam mencerap pelbagai persoalan menyebabkan puisi mengusir dirinya sendiri dari realitas, masih banyak penyair di negeri ini yang asyik dengan dirinya sendiri, lemah dalam kerja kepenyairan yang berempati terhadap problematika sosial yang mengemuka, banyak penyair yang hanya mabuk diksi tapi tak memiliki makna, dan daya tawar lebih besar secara kebudayaan. Sekadar contoh sebuah sikap kepekaan sosial seorang penyair, Indra Tjahyadi pada masa Orde Baru, ia menulis puisi berjudul “1997” yang menjurus vulgar, berikut kutipannya: “menanami mataku dengan beringin, menguningi seluruh mataku, menguningi seluruh tanganku. Tapi sebuah berita ekonomi datang lagi, inflasi!”

baca juga: Menggumam Seperti Goenawan Mohamad

Mungkin kita mengenal Penyair Octavio Paz Seperti juga Joseph Brodsky, Eugene Montale, Juan Ramon Jimenez, W.B. Yeats, Vicente Aleixandre serta penyair-penyair pemenang Hadiah Nobel lainnya, ada fakta yang menarik, bahwa kebanyakan dari penyair-penyair itu adalah aktivis politik atau malah pembangkang politik di negerinya. Namun mereka tidak menyangkutkan aktivitasnya berpolitik dengan kemurinian puisi-puisinya, apalagi memperalatnya untuk propaganda.

Octavio Paz berpendapat bahwa penyair seharusnya tidak sekadar berbicara tentang cinta atau horor, tapi juga harus menunjukkannya. Kata-kata dalam puisi tidak bisa dibatalkan atau diganti, juga tak bisa dijelaskan kecuali oleh puisi itu sendiri. Menurutnya, makna yang dikandung puisi tidak berada di seberang puisi tapi di dalam puisi itu sendiri. Begitu juga imaji-imaji dalam puisi tidak berada di luar makna, tetapi di dalam makna. Paz mengakui bahwa aktivitas kepenyairan kemudian akan menjadi lebih tersembunyi, terisolir namun tetap unik. Perhatian yang besar pada masalah-masalah sosial, politik dan sejarah.

Tahun ini, negeri kita akan menggelar perhelatan akbar pesta demokrasi, banyak calon legislatif-eksekutif berlomba merebut simpati masyarakat dengan berbagai cara untuk dapat duduk di kursi kekuasaan, bahkan ada yang ikut-ikutan menulis puisi sebagai media kampanye untuk memfamiliarkan jargon-jargon politik yang tidak akrab di telinga masyarakat. Bahasa puisi yang sarat ambigu tentu saja berisiko sebaliknya, yaitu menjauhkan atau tidak mengakrabkan istilah-istilah yang sudah dikenal. Namun demikian puisi sejatinya adalah milik siapa saja sehingga Politisi atau tukang becak memiliki derajat yang sama dihadapan puisi. Mereka bebas mengekspresikan kegelisahannya melalui puisi.

baca juga: Menengok Papua Lewat Buku

Mengingat puisi merupakan rekaman dari jiwa zaman dimana puisi itu lahir. Maka penciptaan puisi sangat penting dan harus dilakukan dalam kondisi apapun, sebab proses penciptaan puisi merupakan upaya penemuan kembali segala kekuatan purbani yang dibutuhkan manusia, termasuk juga untuk menyatakan sikap kepada kekuasaan.  

  •  

Judul: IL PRINCIPE (Sang Pangeran)

Penulis: Niccolo Machiavelli

Penerjemah: Dwi Ekasari Aryani

Penerbit: Narasi

Tebal: 184 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: