Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Dongeng yang Tak Melulu tentang Pesan Moral

Oleh: Widyanuari E P         Diposkan: 28 May 2019 Dibaca: 1693 kali


Sebuah dongeng yang bagus memang harus menarik saat diceritakan secara lisan. Itu sebabnya dongeng sudah sepantasnya memiliki alur cerita yang tak terlalu rumit, mudah dibayangkan secara visual, dan memungkinkan diceritakan ulang kapan dan di mana pun. Biarpun pada mulanya dongeng tersebut tersaji dalam bentuk teks. Dan meski dengan berbagai syarat tersebut, dongeng tetap hadir sebagai cerita yang memanggul pesan dan amanat, baik itu perihal moralitas, kearifan, budi pekerti, hingga petuah-petuah mendidik. Namun, bukan berarti dongeng mesti terjebak dalam bahasa vulgar yang mentah-mentah menasihati pembacanya. Dongeng yang menarik tetap berpegang teguh pada cerita yang menarik dengan tetap memasukkan pesan tanpa harus terperosok dalam frasa-frasa ultra didaktis.

José Saramago sadar itu, dan karenanya ia menyuguhkan dongeng berupa sebuah novela singkat berjudul Dongeng Pulau Tak Dikenal (Circa, 2019) dengan prasyarat seperti yang telah saya sebutkan di atas. Secara singkat bisa diringkas ceritanya begini. Seorang lelaki dari kalangan masyarakat biasa mengajukan permohonan kepada rajanya agar ia diberikan sebuah kapal. Bagi raja tentu permintaan warganya ini terbilang nekad dan terdengar ganjil. Ketika ditanya untuk apa kapal itu hendak ia gunakan, lelaki itu menjelaskan ia berniat menemukan pulau yang belum dikenal di dalam peta. Dengan berbagai bujukan dan alasan, akhirnya raja memenuhi permintaan tersebut, meski raja sendiri pesimis misi besar itu bakal terwujud. Ambisi lelaki itu untuk menemukan pulau tak dikenal lalu membuat banyak orang tergiur ikut menumpang misi tersebut. Padahal, raja hanya memberi lelaki itu kapal, sedangkan bekal perjalanan ia harus mengupayakannya sediri. Pelan tapi pasti, orang-orang yang numpang ikut ekspedisi itu pun pesimis misi tersebut bakal berbuah manis.

baca juga: Kita Sama Resahnya

Cerita semacam ini, dengan latar kerajaan dan gagasan tentang menemukan pulau baru, tentu saja sangat imajinatif ketika disajikan secara lisan, apalagi ditambah kemampuan teknis mendongeng yang mumpuni. Namun, yang menarik dari novel karya dari peraih nobel sastra tahun 1998 ini ialah ia sanggup menghadirkan teksnya dengan teknis sastrawi. Maksud saya, dongeng ini tak disuguhkan dengan pola kalimat yang sederhana dan kadang terlalu kering seperti kebiasaan penulis dongeng di Indonesia. Saramago malah memilih berkisah dalam teknik penulisan yang menuntut pembaca berkonsentrasi penuh dalam membaca kalimat-kalimat panjang. Saya menangkap, Saramago memang membayangkan teksnya ini tengah diucapkan oleh seorang pendongeng. Artinya, gaya narasi tekstualnya dibayangkan seperti halnya deretan kalimat yang keluar dari mulut pendongeng. Alhasil, paragraf demi paragraf di buku ini memang tak menyediakan percakapan langsung. Narasi cerita muncul dari narator utama sebagai pendongeng.

Saya kutipkan sebuah kalimat panjang agar pembaca sekalian menangkap dengan jelas apa yang saya maksudkan. Saramago menulis kalimat dengan pola seperti ini: Karenanya, terbelah antara rasa penasaran yang tak terbendung dan kesebalannya melihat begitu banyak orang bergerombol bersama sekaligus, sang raja dengan kasar memberondongkan tiga pertanyaan satu disusul yang lain, Mau apa kau, Mengapa tidak katakan langsung saja apa yang kau inginkan, Apa kau pikir aku tidak punya kerjaan lain yang lebih baik, tapi si lelaki cuma menjawab pertanyaan pertama, Beri hamba kapal, katanya. Pembaca sekalian tidak sedang membaca kalimat salah ketik. Memang begitulah cara Saramago menghadirkan kalimat demi kalimat dalam buku ini. Saya bayangkan Saramago memang menyediakan cerita ini untuk diceritakan ulang kepada penikmat dongeng, seperti anak kecil atau bocah sekolah dasar. Namun, secara tekstual, teks dongeng ini tetaplah bukan bacaan “sederhana”. Untuk hal semacam ini, kita sekalian pantas membungkuk hormat kepada Ronny Agustinus selaku penerjemah. Sungguh rumit membayangkan beliau menerjemahkan teks sastra dengan pola kalimat semacam itu.   

baca juga: Perlawanan Mangir: Jalan Pedang Menentang Mataram

Dan satu hal yang tampaknya sangat kuat dari dongeng ini ialah Saramago berhasil melayangkan kritik dan pesan-pesannya lewat teksnya tanpa harus terjebak kalimat-kalimat ceramah. Di bagian awal, kita jumpai Saramago ingin menyindir sistem birokrasi yang sangat lamban dan berbelit. Ini bisa kita simak dalam adegan saat lelaki itu berjuang agar permintaannya untuk mendapat kapal didengar oleh sang raja. Meski sebenarnya sang raja memiliki perhatian kepada rakyatnya, namun sistem birokrasi yang lamban membuat kepeduliannya itu seperti kura-kura yang berjalan pelan. Raja, sibuk sebagaimana biasanya oleh hadiah-hadiah yang dipersembahkan padanya, akan butuh waktu lama untuk menjawab, dan tidaklah kecil kadar kepedulian akan kebahagiaan dan kemakmuran rakyatnya sampai akhirnya ia memutuskan untuk meminta kepada menteri pertama pendapat otoritatif secara tertulis. Menteri pertama, tanpa perlu dikata lagi, akan mengoperkan perintah ini kepada menteri kedua, yang akan mengoperkannya pada menteri ketiga dan begitu seterusnya sampai turun sekali lagi pada si babu wanita, yang akan menjawab ya atau tidak bergantung pada suasana hatinya waktu itu.

baca juga: Jalan Terjal Pembangunan Jalan Tol

Selain kritik tersebut, cara Saramago menyisipkan amanat dari dongengnya ini tak usahlah pembaca sekalian ragukan. Ia bukan tipe penulis dongeng ala buku anak terbitan P dan K di era Orde Baru yang gemar berpetuah terang-terangan, bikin dongeng jadi terlalu membosankan. Beberapa terkesan agak terkesan filosofis memang. Salah satunya saat lelaki itu dicemooh oleh rekan-rekannya karena dianggap gagasan menemukan pulau sungguh tak masuk akal. “Tapi bagaimana soal pulau tak dikenal, tanya lelaki di kemudi, Tak ada pulau tak dikenal selain sebagai ide di kepalamu…” Sejak awal, gagasan tersebut sudah beroleh penolakan dan olol-olok, tetapi lelaki itu tetap saja ngotot ingin mewujudkan cita-citanya demi kehidupan yang menurutnya lebih baik. Jangan pernah takut untuk mewujudkan gagasanmu biarpun orang lain menganggapnya mustahil—ini bisa dibilang salah satu amanat paling edukatif dari cerita ini, umpamanya saya diminta menyebut suara apa yang terdengar palig lantang dari membaca dongeng ini. Selebihnya, boleh saya singgung sebagai penutup: tentang praktik suap, persoalan imigran, dan sebagainya, dan sebagainya…[]

  •  

Buku: Dongeng Pulau Tak Dikenal

Penulis: José Saramago

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Circa

Tebal: 50 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: