Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Dunia Alika

Oleh: Daisy Rahmi         Diposkan: 11 May 2019 Dibaca: 1118 kali


Layar dari kamera pengawas di kamar Alika memperlihatkan gadis tersebut duduk bersila di atas tempat tidur. Bibirnya bergerak-gerak, ekspresi wajahnya gembira. Gadis malang itu sedang bercakap-cakap dengan seseorang yang hanya ada di dunianya.

Putih. Itu warna yang dilihat Alika. Tatapannya menelusuri langit-langit berwarna putih, kemudian beralih ke empat sisinya. Ia ada di sebuah ruangan, terbaring di ranjang. Bola mata Alika bergerak ke kiri ketika sebuah suara menyapa. Di ambang pintu yang terbuka berdiri seseorang.

          “Selamat pagi, Lika.”

          “Siapa Anda?” tanya Alika heran karena belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.

          “Kau aman di sini,” jawabnya.

          “Di mana ini?”

          Wanita itu tak menjawab. Ditutupnya pintu sebelum si gadis sempat mencegah. Terdengar langkah-langkah menjauh.

          Alika bangkit dari pembaringan. Selain tempat tidur, ada televisi di depan sebuah kursi. Tiga langkah sebelum pintu di mana wanita tadi berdiri, ada pintu lain di sebelah kanan. Tangan Alika menekan gagangnya. Kamar mandi berlantai keramik biru muda ada di balik pintu. Dindingnya putih bersih .Pancuran untuk membasuh tubuh terletak berdampingan dengan sebuah kloset duduk.

          Keluar kamar, Alika mendapati dirinya berada di selasar. Pintu berderet-deret di kanan kirinya. Ada jendela kaca di bagian atas pintu yang memungkinkan seseorang melihat ke dalam tapi Alika tidak berniat melakukannya. Keadaan lorong yang begitu lengang dan temaram disertai dengung pelan terus menerus terdengar menyeramkan. Alika mempercepat langkah.

baca juga: Akrobatik Kata-kata dan Puisi Lainnya

          Bunyi gemerincing membuatnya membeku ketakutan. Bunyi yang semula samar menjadi jelas. Gadis itu panik. Dicobanya membuka salah satu pintu. Terkunci. Gerakannya terhenti oleh seruan dari depan.

          “Siapa di sana?”

          Alika mengangkat tangan, refleks melindungi matanya yang silau tersorot cahaya senter. Ia tak bisa melihat siapa yang datang. Orang itu berjalan mendekat seraya mematikan senter. Sesaat kemudian ia tiba di depan Alika.

          “Kembali ke kamarmu, Lika.”

          Alika menatap lelaki di hadapannya. Pakaian yang dikenakan pria itu tampak terlalu sesak untuk tubuhnya yang besar. Sebelah tangannya memegang senter. Sekumpulan kunci tergantung di pinggang.

          “Kenapa?” tanya Alika.

          “Karena kau lebih aman di sana,” jawabnya singkat, “Biar aku antar.”

          Diraihnya lengan gadis tersebut lalu menggandengnya, penegasan untuk perintah yang tak boleh dibantah. Alika terpaksa menurut. Sesampainya di depan kamar, si pria membukakan pintu dan menyuruh Alika masuk.

          “Masuklah,” perintahnya.

          Alika bergeming. Perasaannya melarang kembali ke sana. Laki-laki itu mendorong pundak Alika, memaksanya masuk kemudian menutup pintu dan menguncinya.

          “Hei, apa-apaan ini? Buka!” teriak Alika sambil memukul daun pintu.

          Hening. Alika memandang sekeliling. Ia baru menyadari sesuatu, kamarnya tak berjendela. Hanya tembok yang terlihat ke mana pun matanya terarah. Gadis itu terhenyak ketika kesadaran menghantamnya. Ia seorang tawanan.

***

          Pintu dibuka oleh seorang wanita berpakaian putih yang masuk sambil membawa nampan berisi makanan di tangannya. Diletakkannya ke atas meja di depan Alika. Ia tersenyum ramah kepada si gadis.         

          “Selamat pagi, Lika. Bagaimana kabarmu hari ini?”

          Alika diam saja. Pertanyaan itu telah didengarnya puluhan kali. Wanita itu tak tersinggung melihat reaksi si gadis. Tanpa berkata-kata, dirapikannya seprai tempat tidur kemudian berjalan ke pintu.

          “Habiskan sarapanmu,” pesannya sebelum pergi.

          Alika menatap nampan di hadapannya. Lauk pauk serta sayur yang selalu sama diletakkan dalam piring kecil di dekat sepiring nasi. Perutnya bergolak. Alika menarik napas untuk meredam mual. Sekuat tenaga ia melawan keinginan untuk melempar benda di depannya. Sadar bertingkah hanya akan menyulitkannya, gadis itu mulai menyendok makanan.

baca juga: Mak Sumay

          Alika tidak ingat sudah berapa lama di sini. Suatu hari kesabarannya habis. Alika berontak dan berusaha melarikan diri. Si wanita datang, dengan tegas diseretnya gadis itu masuk ke salah satu ruangan berpintu jendela kaca di atasnya. Meski hanya semalam, tempat tersebut memberi mimpi buruk pada Alika. Itulah pertama dan terakhir kalinya ia berulah.

***

          “Hei, bangun… Ayo, bangun…”

          Bisikan bernada mendesak membangunkan Alika. Perlahan-lahan matanya terbuka. Gadis itu hampir menjerit melihat wajah yang hanya berjarak sejengkal darinya.

          “Diam,” desisnya. Tangannya menutup mulut Alika. “Kamu ingin mereka mendengar kita?”

          “Siapa kau?” tanya Alika setelah orang itu menyingkirkan tangan dari mulutnya. Pemilik wajah itu seorang gadis sebaya Alika. Tubuhnya kurus tak terawat, bajunya kumal.

          “Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang ada di sini.”

          Tanpa permisi gadis itu berbaring di samping Alika. Bibirnya tersenyum puas.

          “Ranjangmu empuk sekali.”

          “Bagaimana kamu masuk?” desak Alika teringat pintu kamar terkunci.

          “Aku tahu caranya. Hei…,”

          Gadis itu berpaling pada Alika yang curiga.

          “Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya ingin berteman denganmu.”

          Alika terdiam sesaat kemudian mengulurkan tangan.

          “Namaku Alika. Siapa namamu?”

          “Mia,” balas si gadis sambil menjabat tangan Alika.

          Mia kembali membaringkan tubuh.

          “Aku ingin tidur di sini malam ini,” gumamnya dengan mata terpejam.

          Tak lama berselang ia pulas. Alika menutup mata dan turut terlelap.

          Sapaan di pagi hari membuatnya terjaga. Seperti biasa wanita itu masuk ke kamarnya untuk mengantar sarapan.

          “Selamat pagi, Lika.”

          Ia tersenyum melihat si gadis berbaring di ranjang dengan mata mengantuk.

          “Tidak biasanya kau masih tidur sampai sekarang.”

          Alika tak melihat Mia yang semalam tidur di sisinya. Hanya dirinya yang ada. Diam-diam gadis tersebut lega.

          Wanita tersebut beranjak pergi.

          “Mandilah sebelum sarapan. Nanti aku datang lagi mengambil piring kotor dan merapikan tempat tidurmu.”

          Pertanyaan Alika menghentikan langkahnya.

          “Siapa Mia?”

          Wanita itu berpaling, menatap Alika. Sikapnya waspada.

          “Apa katamu?”

          Tatapan tajam lawan bicara menyadarkan Alika. Dia telah mengatakan hal terlarang. Gadis tersebut bergegas bangkit dari pembaringan, masuk ke kamar mandi dan menutup pintu sebelum datang pertanyaan lebih lanjut.

***

          Alika duduk termenung. Ia tak pernah lagi bertemu Mia sejak malam itu. Alika mulai meragukan gadis tersebut benar-benar ada. Mungkin saat itu ia bermimpi. Bunyi yang datang dari kolong tempat tidur membuyarkan lamunan Alika. Seketika matanya terbelalak melihat Mia merayap keluar.

          “Mia!” jeritnya senang.

          Gadis itu menengadah.

          “Hai, apa kabar?” sapanya.

          Alika menarik tangan Mia agar duduk bersamanya di tepi tempat tidur.

          “Aku tidak melihatmu pagi itu. Ke mana kau pergi?”

          “Pulang ke rumah.”

          “Di mana rumahmu?”

          Mendadak tubuh Mia menegang. Matanya tertuju ke pintu masuk.

          ”Dia datang,” bisiknya panik.

          “Siapa?”

          “Wanita itu. Aku harus sembunyi.”

          “Tunggu, Mia.”

          Alika berusaha mencegah. Terlambat. Mia menyelinap kembali ke kolong ranjang.

baca juga: Anjelo

          Mendengar anak kunci diputar, Alika segera menjauhi tempat tidur. Dia tak mau memberi petunjuk keberadaan Mia kepada siapa pun yang masuk. Pintu dibuka oleh wanita pengantar makanan. Matanya yang mencari-cari bertemu pandang dengan mata Alika.

          “Dengan siapa kau bicara?” tanyanya tanpa senyum seperti biasa.

          Alika memasang wajah polos.

          “Anda pasti salah dengar. Hanya aku yang ada di sini.”

          Wanita itu menatap tajam gadis di hadapannya. Alika tidak mau kalah. Ia menentang mata lawannya tanpa berkedip. Akhirnya si wanita berpaling dan memeriksa kamar Alika. Dibukanya lemari serta menjenguk ke kamar mandi. Saat dia membungkuk untuk melongok kolong tempat tidur, Alika berdebar. Kelegaan memenuhi dada Alika ketika wanita tersebut menegakkan tubuh dan berlalu tanpa mengatakan apa-apa. Gadis itu menuju tempat tidur, melongok ke kolongnya dan bertatapan dengan Mia yang tersenyum.

          “Dia sudah pergi?”

          Alika mengangguk.

          “Kenapa dia tak bisa melihatmu?”

          Senyuman Mia melebar.

          Setelah mengunci pintu kamar, wanita itu berjalan ke arah timur, naik tangga kemudian masuk ke sebuah ruangan.Tangannya terulur, menekan tombol di meja. Layar monitor berkedip menyala. Seorang pria tinggi besar menghampiri dari belakang.

          “Bagaimana dia?” tanyanya.

          Yang ditanya menggeleng sedih.

          “Buruk. Awalnya aku begitu berharap pengobatan yang kita berikan dapat menyembuhkannya, tapi…,”

          Wanita itu tak sanggup melanjutkan perkataannya.  

Layar dari kamera pengawas di kamar Alika memperlihatkan gadis tersebut duduk bersila di atas tempat tidur. Bibirnya bergerak-gerak, ekspresi wajahnya gembira. Gadis malang itu sedang bercakap-cakap dengan seseorang yang hanya ada di dunianya.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: