Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Epistemologi Selatan bagi Ilmu Sosial Indonesia: Prawacana

Oleh: Hartmantyo P. Utomo         Diposkan: 09 Mar 2019 Dibaca: 1228 kali


Dibutuhkan usaha untuk menghadirkan pemikiran alternatif dalam upaya meradikalkan gagasan ilmu sosial Indonesia yang berada di luar kanon keilmuan global (global north), atau dengan kata lain, meneguhkan posisi tawar ilmu sosial selatan (global south). Langkah pertama berpijak pada konsep ulayatisasi ilmu sosial yang berusaha untuk menghadirkan pemikiran ulayat dalam kancah pemikiran global (Alatas, 2010). 

Pertama, ulayatisasi tidak hanya membongkar selubung ideologis Orientalisme dan Eurosentrisme, tetapi juga membangun pemikiran baru yang diolah dari berbagai sumber pengetahuan lokal. 

Kedua, bukan sekadar usaha untuk mengelaborasikan prosedur keilmuan global dengan selatan begitu saja, tetapi telaahnya lebih mendalam terkait masalah metodologis dan epistemologis. 

Ketiga, ulayatisasi Ilmu Sosial tidak begitu saja menolak bahkan memutus hubungan secara radikal dengan ilmu sosial global secara keseluruhan. Ilmu sosial global dipilah secara selektif dan sangat hati-hati pada saat dikaji. Terakhir, keseluruhan kajian ilmu sosial di dunia sebenarnya merupakan proses ulayatisasi sebuah nilai-nilai kebudayaan di sebuah tempat. Setelah diproses lalu kemudian diterapkan secara universal lewat internasionalisasi (lewat kolonialisasi pada konteks jaman penjajahan), maka dari itu diperlukanlah ulayatisasi ilmu sosial untuk menyandingkan ilmu sosial global dengan selatan pada taraf yang lebih setara.

baca juga: Kejeniusan Pram di Mata Penerjemah

Syed Farid Alatas menghadirkan jalan radikalnya melalui Sociological Theory Beyond the Canon (2017) yang digarapnya bersama Vineeta Sinha. Diawali dengan pijakan pada kanon teori sosiologi Eropa Kontinental: Marx, Weber, dan Durkheim. Sekaligus juga dengan menghadirkan cara pandang dari selatan melalui Ibn Khaldun, Harriet Martineau, Jose Rizal, Florence Nightingale, dan beberapa lainnya. Dua persoalan mendasar yang coba digugat adalah Eropa-sentris dan Andro-sentris dalam pergulatan ilmu sosial global yang maskulin dan kurang kontekstual bagi selatan.

Langkah kedua dengan memberikan posisi yang kontektual dan relevan bagi pemikiran ulayat tersebut pada lanskap politik ilmu pengetahuan bagi negara Selatan (periphery). Raewyn Connell menghadirkan Teori Selatan guna melakukan kritik terhadap kanon teori-teori sosiologi yang berasal dari Eropa dan Amerika. Konsep mendasar dari Teori Selatan adalah global difference (perbedaan global) yang terkandung dalam setiap teori sosiologi di abad 19 dan 20 (Connell, 2016). Global difference mendikotomi masyarakat dalam dua posisi kebudayaan. Pertama adalah masyarakat yang berada di Eropa dan Amerika sebagai representasi kebudayaan yang beradab. Kedua adalah masyarakat yang berada di luar dua ranah masyarakat tersebut sebagai bentuk kebudayaan yang masih primitif.

Raewyn Connell mengawali kemungkinan dialog ilmu sosial dengan merujuk pada kondisi di Australia yang menjadi latar belakang intelektualnya. Hegemoni ilmu pengetahuan negara-negara metropole senyatanya hadir dan membentuk cara pandang keilmuan di Australia sedari paruh kedua abad 19 hingga awal abad 20 yang terafiliasi dengan gagasan Auguste Comte, Herbert Spencer, hingga Emile Durkheim. Kondisi dan situasi yang tidak terlepas dari ekspansi penduduk Eropa ke Australia. Hingga disiplin sosiologi yang terbentuk secara formal pada pertengahan abad 20 yang turut mengadopsi gagasan modernisme sosiologi Amerika Anglo-Saxon. Kedua gagasan yang digunakan untuk memahami situasi dan kondisi masyarakat, baik pendatang maupun ulayat, yang menetap di Australia.

baca juga: Sastra dan Hutang-Hutang Pemberontakan

Perluasan lanskap posisi tawar ilmu sosial selatan dihadirkan Raewyn Connel dengan mengidentifikasi konsep ilmu pengetahuan secara lintas benua. Sedari African Oral Poetry yang diperkenalkan Akinsola Akiwowo, sejarah subordinasi Muslim melalui teks al-Afghani dan Jalal Al-e Ahmad, juga sejarah panjang dan posisi Amerika Latin sebagai benua pertama di dunia yang berhasil keluar dari dominasi Eropa. Hingga pemaparan mengenai posisi India yang berhasil menonggakkan kajian subaltern sebagai gugatan terhadap kolonialisme Inggris.

Upaya melakukan ulayatisasi dan menguatkan posisi tawar ilmu sosial selatan tentu tidak dihadirkan dengan mudah. Tidak lain disebabkan oleh prosedur keilmuan yang berpijak pada standardisasi ilmu sosial global yang berposisi sebagai pusat ilmu pengetahuan. Dampaknya tentu legitimasi pemikiran yang berat sebelah dan hanya berkutat pada kanon pemikiran negara global Eropa Kontinental dan Eropa Anglo-Saxon (Dabashi, 2015).

Oleh karenanya, untuk mematangkan usaha dialog perlu dirasa untuk melakukan kritik radikal terhadap standarisasi, prosedur keilmuan dan legitimasi ilmu sosial global. Persoalan paling krusial yang senyatanya luput dari perhatian kajian ilmu sosial yang terus menerus berkutat pada ketimpangan relasi kuasa dan identitas adalah problem epistemologi yang menjadi jantung ilmu pengetahuan. Tanpa mempermasalahkan problem-probelm epistemologi ilmu sosial global, posisi tawar ilmu sosial selatan hampir tak dimungkinkan untuk merengkuh kesetaraan.

baca juga: Cinta, Psikoanalisis, Erich Fromm

Persoalan epistemologi adalah jantung dari tatanan ilmu pengetahuan yang menjadi penanda krisis bagi ilmu sosial, terutama sosiologi dalam lanskap global (Boudon, 1980). Begitu pula yang terjadi pada ilmu sosial Indonesia sangat bergantung penuh pada kanon demarkasi epistemologi global: empirisisme dan rasionalisme. Jalan ketiga yang memungkinkan ditempuh secara dua kaki adalah dengan menggunakan kolaborasi kedua kanon epistemologi yang membasiskan pada filsafat pragmatisme. Gaung dari filsafat pragmatisme bagi ilmu sosial di Indonesia dihadirkan dalam wacana seputar mix method yang problematik karena sebatas menjejalkan data-data statistik-kuantitatif bagi analisa kualitatif (Tashakkori & Teddlie, 2010). Oleh karenanya, posisi keilmuan Indonesia yang berada di negara selatan secara terang membutuhkan epistemologi alternatif guna meminimalisir beban ketergantungan dengan prosedur keilmuan sosial global.

Kritik terhadap epistemologi modern ilmu sosial Indonesia dilakukan dengan merujuk pada pemberangusan epistemologi (epistemicide) yang terkandung dalam teks-teks kanon. Reproduksi ilmu sosial melalui relasi kuasa dalam teks-teks kanon secara terang membentuk cara berpikir dan perkembangan wacana dalam setaip kajian. Sedari lahirnya ilmu sosial Indologie jaman Hindia Belanda hingga berpaling pada modernisme Amerika Serikat yang melahirkan disiplin sosiologi yang berpuncak pada Orde Baru (Samuel, 1999).

Dominasi prosedur keilmuan global di Indonesia tentu dapat ditengok pada tataran permukaan melalui kuantifikasi ilmu sosial yang berhaluan nomotetik. Keterpakuan metodologi nomotetik pada teori-teori kanon menjadikannya sumbat bagi reproduksi wacana ilmu sosial. Paling jauh, logika nomotetik hanya berhasil menjual keilmuan sosial sebagai “metodologi proyek”. Tidak lepas dari sistematika yang deduktif-empiris untuk “sekadar” menerapkan teori kanon bagi realitas negara selatan. Juga sifatnya yang general, kausalistik, dan tentu saja hanya mengikuti kaidah-kaidah usang ilmu alam yang linear. Rezim kuantifikasi ilmu sosial secara terang tidaklah mampu menghadirkan alternatif keilmuan di Indonesia.

baca juga: Jerat Negara Terhadap Perempuan

Salah satu wacana epistemologi alternatif adalah dengan merujuk pada epistemologi selatan (Santos, 2014). Sebuah konsep yang melakukan kritik radikal terhadap proses pemberangusan epistemologi yang dilakukan oleh legitimasi prosedur keilmuan global terhadap dunia keilmuan di negara Selatan. Meski sebenarnya, pemberangusan epistemologi bisa saja terjadi di negara utara, begitu juga epistemologi selatan bisa saja dikembangkan di negara utara. Karena secara mendasar, epistemologi selatan berusaha untuk menggugat tiga hal: kapitalisme, kolonialisme, dan patriarki (Santos, 2018). Namun, ketiga persoalan tersebut memiliki relevansi dan kontekstualisasi secara lebih tepat bagi negara selatan.

Akan tetapi, yang perlu dihadirkan tentu saja adalah upaya menilik sejauh mana kemungkinan menghadirkan epistemologi selatan serta bentuk yang kontekstual dan relevan bagi ilmu sosial Indonesia saat ini. Dikarenakan kontekstualisasi kajian ilmu sosial memilki keterkaitan yang erat dengan implikasi epistemologi (Cen, 2010). Ulang alik antara realitas dekat dan formasi epistemologi menjadi basis utama dalam upaya menghadirkan epistemologi selatan bagi ilmu sosial Indonesia yang sekarat dan hanya mampu bernafas menggunakan bantuan tabung oksigen global yang, meminjam istilah yang dikenalkan Raewyn Connell dari Jalal Al-e Ahmad, beracun (Westoxication)!

Daftar Pustaka

 

Alatas, S. F. (2010). Diskursus Alternatif dalam Ilmu Sosial Asia. Yogyakarta: Mizan.

Alatas, S. F., & Sinha, V. (2017). Sociological Theory Beyond the Canon. London : Palgrave Macmillan.

Boudon, R. (1980). The Crisis in Sociology; Problems of Sociological Epistemology. London and Basingstoke: The Macmillan Press.

Cen, K.-H. (2010). Asia as Method; Toward Deimperialization . Durham and London: Duke University Press.

Connell, R. (2016). Southern Theory. Cambridge: Polity Press.

Dabashi, H. (2015). Can Non-Europeans Think? London: Zed Books.

Samuel, H. (1999). The Development of Sociology in Indonesia: The Production of Knowledge, State Formation, and Economic Change. Disertation: Swinburne University og Technology.

Santos, B. d. (2014). Epistemologies of The South; Justice Against Epistimicide . London and New York: Routledge.

Santos, B. d. (2018). The End of Cognitive Empire; The Coming of Age of Epistemologies of The South. Durham and London: Duke University Press.

Tashakkori, A., & Teddlie, C. (2010). Mixed Methodology; Mengombinasikan Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: