Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Estetika; dari dalam Sangkar ke Kamar Gelap

Oleh: Dwi Rezki H.         Diposkan: 16 Jan 2020 Dibaca: 1393 kali


Estetika memang tak mudah untuk ditafsirkan, sejak dulu ia seperti berada dalam sangkar dan sekarang berada di kamar gelap – dari  era yunani klasik hingga pascamodern—dari Platon sampai Danto.

Di era yunani klasik, terdapat dua filsuf yang saling bersitegang dalam mendefinisikan seni sebagai medium untuk mencapai titik estetika yang objektif, yakni Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Mereka saling bertengkar melalui arus pemikirannya. Plato, memandang seni sebagai alat yang menyeramkan dan buruk, sebab seniman menempatkan realitas sebagai keindahan yang menghasilkan kebenaran relatif. Realitas tak hanya menampilkan itu saja, sebagiannya memiliki kelebihan serta kekurangan yang lainnya. Meskipun, menurutnya keindahan yaitu satuan ukuran, proporsi dan harmoni. Melalui arus pemikirannya—cerminan terhadap dunia ide, keindahan inilah yang mampu mengantarkan kita pada kebenaran yang abadi. Pada posisi ini, sebenarnya Plato menentang bakat nyata kepenyairannya sendiri.

Begitu berbeda dengan muridnya, Aristoteles. Ia banyak berbicara soal kesusastraan, terkhusus tragedi. Pada seni, ia mengartikannya sebagai kerja tiruan (mimesis) terhadap realitas, namun memiliki arti yang positif. Namun, penggambaran tersebut, tak hanya diunggah melalui realitas semata (persitiwa atau tragedi), tetapi juga melalui efek dari pengamatnya. Sebab, pelakon dan penonton mesti menyatukan rasa dari sumber realitas objektif. Mengatur “arfek-arfek” ketegangan dalam seni tugas estetika untuk menggoyahkan kepercayaan itu menuju pada kebenaran objektif.

baca juga: Seneca, Kawan Lama yang Hadir Kembali

Perkembangan estetika masih dimaknai sebagai bentuk yang memiliki batasan. Abad pertengahan adalah era yang panjang dalam buku Seni – Apa itu? : Posisi Estetika dari Platon sampai Danto. Hauskeller memandang bahwa era ini memiliki beberapa tokoh di antaranya Johannes Scotus Eriugena, Thomas Aquinas serta masih banyak lagi yang belum disebutkannya. Era ini mengacu pada estetika dalam sebuah karangan mistis yang memiliki pemahaman ketuhanan, berjudul Nama-Nama Allah, yang dikarang oleh Dionysios.

Seni dapat dianggap, jika mampu mencapai kebenaran Ilahi sebagai puncak estetik era ini. Seni atau dikenal dengan bahasa latin Ars memanifestasikan “cahaya” sebagai medium. Sebab era ini menganggap bahwa cahaya dijelaskan melalui simbol yang menghasilkan warna-warni kehidupan dunia. Tampak, penafsiran ini dikuasai oleh gereja yang menjadi poros penafsiran soal seni. Sehingga simbol seperti gereja byzantium atau khatedral sebagai simbol surga dijadikan patokan dalam menghasilkan seni yang dimaksud—yang substansinya melambangkan kemewahan serta warna-warna terang yang telah dikonstruksi. Tetapi era ini yang disebut sebagai darkness ages (era kegelapan) sangat dikuasai oleh penafsiran-penafsiran terbatas dari gereja. Di era ini, Thomas Aquinas, mencirikan estetika dengan sangat mewah, yaitu keutuhan atau kesempurnaan, hubungan tepat dengan ilahi serta warna cemerlang dalam menggambarkan realita.

Era pertengahan sangat mengungkung estetika, bahwa objektivitas kebenaran adalah penggambaran ilahi yang ditafsirkan melalui simbol-simbol keagamaan serta menematkan warna terang sebagai manifestasi cahaya. Itulah estetika!

Berlansungnya abad pertengahan dari akhir abad kelima hingga abad ke-12, direspon oleh para pemikir di era Renaissance. Kebebasan berseni era ini, menjadikan manusia sebagai lokus utama. Individu antau kelompok memiliki permainan gelap dan cahaya dalam menampakkan estetika yang objektif. Tentunya, berprespektifnya para seniman dilandasi pada pengetahuan tentang hakikat serta ilmu-ilmu terapan untuk menggambarkan realitas dan memiliki proses kreativitas untuk mencapai nilai estetika yang tinggi.

baca juga: Perempuan, Cinta dan Belenggunya

Beberapa tokoh yang menengarainya, antara lain, Leon Battista Alberti (1404-1472) dan Leonardo da Vinci (1452-1519). Namun, lain hal dengan Immanuel Kant (1724-1804). Melalui filsafat kritisismenya, memandang bahwa rasionalitas mampu untuk dikonstruksi maupun direkonstruksi. Menurutnya, kebebasan manusia akan melahirkan subjektivitas. Estetika mesti terlepas dari kaidah-kaidah subjektivitas, yang mana akal budi mesti terbebas darinya. Menggabungkan antar rasa prespektif David Hume dan rasio adalah alat dalam melahirkan karya seni yang estetis. Apabila keduanya dipisahkan, maka rasa nyaman atau suka pada karya seni tak mampu diabsatraksikan dengan objektif, begitupun sebaliknya.

Pemikiran Kant, dikritik oleh Friedrich Schiller (1759-1805), pasca Revolusi Prancis 1794. Melalui pendidikan estetikanya, Rasio dan rasa mestilah selaras. Ia tak mampu untuk saling menindih antar satu sama lainnya. Landasan kedua ini menjadikan seni sebagai medium dalam melaksanakan makna. Ada permainan estetis dalam pelaksanaan tersebut sehingga kenyataan mampu untuk dilampaui. Hasilnya seniman dapat memproduksi kenyataan sendiri dan terbebas dari semua paksaan moral, jasmani dan termasuk politik.

Estetika semakin rumit untuk didefenisikan, akibat pengaruh dari realitas yang dikonstruksi oleh kelas atas. Arthur Scohopenhaur (1788-1860), mulai mengembalikan semangat platonia—bahwa estetika terbentuk dari dunia idea dalam menampakka kebenaran melalui seni. Schopenhaur mendefenisikan seni sebagai alat pembebasan dan menolak segala bentuk kehendak dari luar objek benda. Tetapi, seniman mesti mempertimbangkan kehendak bebas manusia sebagai subjek sehingga karya memiliki makna yang otonom. Otonom itulah yang membebaskan seni.

baca juga: Pendidikan Yang Menjajah

Semasa dari Arthur Schopenhaur, filsuf dialektika idealisme, Friedrich Hegel (1770-1831) bertengger dalam memaknai estetika. Hegel berkeinginan menjadikan filsafat sebagai seni. Berawal dari defenisinya soal dunia, yakni sebagai roh yang saling berdialektika dalam subjek menemukan dirinya sendiri. Ia menunjukkan bahwa estetika adalah bagian dari roh. Sehingga keakraban antara jasad dan indra yang ditopang oleh roh harus menghasilkan seni yang indah. Hegel bermaksud bahwa bahwa perdamaian sebagai manifestasi keindahan mesti ditampakkan dan terbebas dari isi kesengsaraan, penindasan dan keluhan-keluhan sosial. sebab, estetika adalah ilmu seni yang indah.

Dalam buku ini, pandangan Hegel, dikritik tegas oleh Karl Rosenkranz (1805-1879). Menurutnya, kedua-duanya – antara kebaikan dan keburukan harus ditampakkan sebagai poros estetika dalam berseni. Tetapi, seni yang dimaksud oleh Rosenkranz adalah seni yang komikal yang dibumbuhi oleh candaan.

Di lain hal, Benetto Croce (1866-1952), memiliki pandangan yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Teori esetetikanya dikonkritkan sebagai ilmnu tentang ekspresi dan linguistik umum. Ia menerangkan, bahwa estetika harus dipahami dengan yang logis maupun secara intuitif. Dalam artian seni adalah bentuk ungkapan melalui konsep dan fantasi yang menggabungkan antara rohani maupun rasa.

Ia menegasikan linguistik sebagai ilmu ungkapan bahasa yang tidak terpisah dengan seni dalam membentuk estetika. Namun, estetika tersebut mesti terbebas dari institusi apapun, dalam artian estetika bersifat otonom yang dimiliki oleh manusia tersendiri. Di sini Croce beranggapan bahwa semua manusia adalah penyair.

Satu patahan pemikian yang dilupakan oleh Hauskeller, dalam merangkai pemikiran Croce, yakni ia tak secara gamblang memasukkan konsep linguistik Ferdinan de Saussure dalam pandangan Croce. Padahal ia terpengaruh dengan pemikiran Ferdinan de Saussure dalam membentuk konsep.

baca juga: Jejak Madilog dalam Ilmu Sosial Indonesia

Realitas semakin berkembang, bahkan ilmu-ilmu terapan dikuasai oleh seni. Seperti defenisi seni, Walter Benjamin (1892-1940), dalam arus seni modern. Ia mulai mendekonsturksi seni lama menjadi karya seni baru – dari lukisan dan sandiwara ke karya seni fotografi dan film – yang menghasilkan karya seni yang dapat bertahan cukup lama. Melihat bahwa pandangan politik di zamannya cukup kompleks dengan hadirnya berbagai indoktinasi massal sampai pembunuhan massal. Sehingga estetika harus secara terang masuk dalam perpolitikan (Pengestetisan politik) serta mengabadikan setiap persitiwa sebagai bukti sejarah melalui karya seni fotografi dan film. Namun, kesenian itu muncul dari aura yang menjembatangi antara realitas dan lensa.

Ia menempatkan seni sebagai media politik dan indoktrinasi yang dinikmati oleh penonton atau subjek otonom sebagai pengkritik dan penikmat seni. Semasa dari pikirannya, ia dikritik oleh eksistensialis, Martin Heidegger (1889-1976), ia mendefinisikan estetika sebagai eksistensi yang terlepas dari pemasaran, dalam artian kebenaran yang berada. Estetika menampakkan keindahan melalui karya yang dipotret oleh seniman, yang selanjutnya dibangun oleh konsep baik atau buruk dan saling berkontradiksi serta benda (materi) yang diolah melalui realitas. Sehingga secara gamblang eksistensi sebuah karya akan berada.   

Dari fragmen pemaknaan seni dan memosisikan estetika, Benjamin dan Heidegger, telah mulai memasuki pintu yang gelap serta menempatkan subjek untuk terlepas dari saling menguasai atau keluar dari oposisi biner. Sama halnya dengan Theodor W. Adorno (1903-1969), menempatkan seni yang mampu membongkar kenyataan yang ada. Ia memandang, sega seni itu utopi yang menunjuk pada realitas empiris, di mana kebahagiaan yang langgeng tak ada. Ia lebih bersepakat jika seni menampakkan kekacauan dalam ketertiban. Pada posisi ini pascamodern mulai nampak kepermukaan.

baca juga: Kafka, Absurditas dan Alienasi Sisifus

Ia juga berpandangan, seni sebagai alat politik dalam membongkar ideologi dibalik kenyataan yang ditafsirkan oleh pengalaman estetika subjek masyarakat melalui nalar dan proses interpretasi. Sebaliknya bagi filsuf Amerika Nelson Goodman (1906-1998), bahwa satu media pengadaan dunia yang serbaluas adalah seni. Prosesnya adalah dengan merepresentasikan segala bentuk denotasi. Goodman beranggapan, seni tak harus menampakkan realitas yang sesungguhnya, ia mampu melewati proses metafor atau lebih lazim disebut sebagai eksemplifikasi metaforis.

Istilah tersebut, diperkenalkan oleh Goodman sebagai acuan simbolis dalam menampakkan ekspresi dalam seni. Ia juga beranggapan bahwa seni dan ilmu pengetahuan merupakan cara pengadaan dunia yang berbeda, tetapi tak mampu untuk menentukan batasannya. Setidak-tidaknya mengetahui sintom-sintom estetiknya dalam untuk mendekati unsur keindahan. Kemudian, Jean F Lyotard (1924-1998) sebagai filsuf pascamodernisme, yang menurutnya bahwa seni harus mengguncang kesadaran dengan ketelanjangan atau faktisitas benda sebagai sublim estetis, tetapi hal itu terjadi jika seniman mampu mendobrak kemapanan.

Lain hal dengan Arthur C. Danto (1924), yang menjadi penutup dari buku ini. menurutnya karya seni dapat dinyatakan seni jika subjek mampu untuk menerangkannya. Dengan kekuatan tersebut, maka seni dan estetika bisa saja mampu teredefenisi kapan dan dimana saja. Pemikiran Danto terpengaru dengan Andy Warhol dan seniman-seniman Pop-art lainnya. Ia memutus tali antara substansi dengan benda meterilnya, sehingga tak ada kuasa dalam pemaknaan dari karya seni.

Ini membuktikan, betapa gelapnya estetika hingga saat ini. sampai estetika masuk ke dalam ruang kosong yang gelap. Siapa sja mampu untuk membentuk interpretasi estetiknya pada karya seni apapun.

 

Judul Buku      : Seni – Apa itu? : Posisi Estetika dari Platon sampai Danto

Penulis            : Michael Hauskeller

Penerjemah    : Satya Graha dan Monika J. Wizemann

Penerbit          : Kanisius

Tebal              : 112 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: