Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Etgar Keret: Menilik Kemanusiaan dari Tanah Yang Dijanjikan

Oleh: Irfan Sholeh Fauzi         Diposkan: 27 Sep 2018 Dibaca: 1405 kali


Demi beberapa keping receh, para dokter berjudi akan nasib bayi itu: sepekan lagi, ia mati. Para dokter yakin betul setelah perkiraan sebelumnya meleset. Wanita itu terelak maut. Wanita itu masih melihat jelas kulit merah bayinya. Wanita itu masih mendengar jelas tangis bayinya.

Wanita itu juga masih mendengar jelas ketika kelak putranya kerap bertanya: “Apa yang kalian inginkan dariku? Tangkas berolahraga? Kaya raya? Atau menggemaskan?”

Senyum wanita dan lelaki di sampingnya barangkali selalu tersembul tiap putra mereka bertanya. Tak peduli minggu lalu, kemarin, atau baru 30 menit lalu suara bom menggetarkan jendela dan kursi-kursi rumah. “Kau telah memberikannya kepada kami. Kami menginginkanmu hidup dan kau melakukannya.”

Bertahun lesat, syarat masih lekat. Dari jauh, suara cemas memaksanya pulang dari sebuah lanskap yang sebenarnya berbeda dari kampung halamannya. Meski memang pernah ada hari-hari penuh ledakan di sana.

Suara itu khawatir kalau “bayi mereka kalah oleh taruhan dokter” meski bukan karena komplikasi dalam sepekan setelah kelahiran, melainkan penculikan dan pembunuhan setelah berpuluh tahun kemudian.

Bayi itu Etgar Keret, penulis moncer asal Israel. Ia mengirimkan suara cemas itu sebuah tautan Wikipedia: mayoritas penduduk Bali memeluk agama Hindu.

Tapi ayahnya, suara itu, tahu, Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia yang begitu anti-Israel. Dia tahu bendera negaranya pernah dibakar di depan kedutaan besarnya. Dia tahu semenjak hubungan diplomatik putus, orang-orang membakarnya di depan kedutaan Amerika. Meski barangkali dia tak tahu alasan orang-orang itu membenci negaranya begitu sempurna.

baca juga: Merekam Tuhan dalam Pemikiran Filsuf Yunani

“Tak perlu pilihan mayoritas untuk membedil kepalamu,” kata ayahnya.

Keret bergeming. Ia mungkin juga takut. Tapi ia tak pernah berniat tunduk.

Meski begitu, dalam tiap wawancara menyoal kondisi Israel, kita sungguh mendengar keletihan dalam suaranya. Ia luntang-lantung di atas muka bumi. Seluruh dunia mengecam, bahkan mengancamnya karena ia seorang Israel, seorang Yahudi.

Orang-orang tak bisa membedakan sikap negara Israel dengan pandangan warga Israel yang mungkin berjarak. Bias ini tak jarang membuatnya diboikot—tapi, sekali lagi, ia enggan tunduk. “Ketika orang-orang berkata padaku tak akan pernah menyelenggarakan acara bersamaku karena aku seorang Israel, aku akan berkata, ‘kamu warga negara Inggris yang membombardir Irak, negara yang bahkan tak berbatasan dengan kalian.’”

Bahkan ketika seseorang mau mengundangnya, masalah tak juga berkilah. Sehabis sebuah acara kesusastraan, seorang Hungaria memaksa Keret melihat tato elang jerman besar yang dia miliki. Orang itu bilang kalau kakeknya telah membunuh tiga ratus orang Yahudi di Holokaus dan berharap dirinya bisa menyombongkan angka yang sama suatu hari nanti—kakek itu barangkali juga membunuh kerabat dekat orang tua Keret.

Namun ancaman yang lebih mencekam justru datang dari negaranya sendiri. Jika di luar negeri Keret mendapat kecaman karena ia seorang Israel, di negaranya, Keret diancam karena memiliki pandangan berbeda. Saking vokalnya menyuarakan perdamaian, Keret bahkan tak menyadari ia menjadi tokoh gerakan kiri terkemuka Israel. Dan ini mesti dibayar mahal. Amat mahal.

Rezim membuat diametral tegas: bersama kami atau pengkhianat. Orang pro-kebijakan rezim memandangnya sebagai pembelot. Seorang supir taksi mencemoohnya karena konsistensi Keret pada perdamaian. “Lihatlah, meski kita berbeda, tapi kita sebangsa,” balas Keret.

“Tidak. Kamu bahkan lebih hina dari Hamas. Kamu musuhku,” cerca supir taxi.

Mulanya, dengan ujaran semacam itu Keret masih mampu mengatakan pada dunia jika Israel adalah keluarganya. Lumrah saja, kata Keret, jika dalam satu keluarga mengalami percekcokan.

Lagi pula, ada ikatan erat antara dirinya dengan Israel. Ia generasi kedua dari penyintas Holokaus. Bagi orang tuanya, Israel adalah tempat di mana “Kita memiliki tempat ketika kita bisa menjadi diri sendiri tanpa orang-orang berkata, ‘Jangan beritahu pendapatmu, kamu Yahudi. Enyahlah!”

Tapi api terus membesar. Kebencian kini malih ancaman pembunuhan. Bukan hanya pada Keret seorang, tapi pada istri dan anaknya. Ia merasa anggapannya selama ini keliru dan terlampau naif. “Jika kita keluarga dan saudaramu berharap kamu mati, itu sungguh keluarga yang amat kacau.”

baca juga: A Tribute to Dangdut

Namun Keret kepalang bandel. Suatu ketika, setelah pulang dari sekolah anaknya yang berumur delapan tahun memintanya untuk tak menyuarakan pendapat. “Aku belajar di sekolah jika tiap orang yang menginginkan perdamaian di bumi pastilah tewas. Rabin, Sadat, bahkan John Lennon tertembak. Aku juga menginginkan perdamaian, tapi aku sungguh lebih menginginkanmu.”

Keret berusaha menjelaskan letak permasalahan pada anaknya. Membuat anaknya menemukan simpati pada Palestina. Simpati. Ia tak mungkin dan tak akan mendukung Palestina sepenuhnya. Ada anasir Palestina yang tak sesuai dengan nilai yang ia anut: Hamas, pendukung terorisme, perisak kaum minoritas. Keret paham betul hidup penuh dengan kompleksitas.

Buatnya terang saja, hal buruk yang dilakukan manusia bersumber dari ketidakmampuan manusia mengendalikan rasa takut: luka yang terus ditaburi garam oleh Pemerintah Israel dan Hamas. Keret selalu yakin jika semua manusia pada dasarnya adalah sama, adalah baik—dan suka mendengarkan musik. “Kita semua mendengarkan musik yang sama, tapi mungkin, di Israel ... volumenya sedikit lebih keras.”

  •  

Irfan Sholeh Fauzi

Pembaca buku dan Takmir liqo Akar Sungai, Solo

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: