Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme

Wishlist
Stock: Tersedia
Terjual : 2
Jumlah:

#TetapKirimBacaan lihat promo di bawah:

Info Pengiriman: 
Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020
Pembelian : Diskon 25% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: radicalmay
Pembelian : #RadicalMay Book Fair disc up to 50%
Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000


MAX WEBER, seorang ilmuan sosiologi dan ekonomi politik, dilahirkan pada tahun 1864 dan dibesarkan di Berlin. Dia adalah seorang mahasiswa hukum dan kemudian bekerja sebagai Privatdozent di Universitas Berlin. Penelitiannya tentang sejarah institusi-institusi resmi telah mengarahkannya untuk menekuni dependensi hukum dalam bidang teknologi dan ekonomi. Weber mendapatkan gelar Profesor Ekonomi di Freiburg, Hiedelberg, dan Munich. Menjadi anggota sebuah komite yang menjadi pencetus rancangan dasar Konstitusi Weimar.Weber meninggal pada tahun 1920.

"Salah satu dari sejumlah karya besar dibidang literatur ekonomi"
Yorkshire Post

"Semua mahasiswa yang mempelajari tentang hubungan antara Reformasi Protestan dengan kebangkitan kapitalisme, mau tak mau harus melihat pada karya-karya Mak Weber sebagai sumber informasi dan analisis ilmiah utama."
-Federal Committee Bulletin


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Berat: gram

Kategori : Agama dan Filsafat
Yusup Priyasudiarja vi+454 hlm | Bookpaper
ISBN : 9789791684132
Penerjemah : Yusup Priyasudiarja
Ketebalan : vi+454 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14,5 x 21 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Narasi
Penulis: Max Weber
Berat : 500 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by