Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi Eutanasia

Etika Sosial

Jenny Teichman
Stock: Out of Stock

Kategori : Agama dan Filsafat

Buku ini mengupas berbagai persoalan mendasar yang hingga kini tetap aktual, seperti hidup dan mati (aborsi,eutanasia), diskriminasi gender, kebebasan berfikir dan menyatakan pendapat (misalnya menyangkut penghinaan nama dan pencemaran nama), pengaturan ekonomi masyarakat, hormat pada binatang, persoalan ekologi, dan sebagainya. Dengan bahasa yang jelas dan lugas, penulis berani melawan arus etika modern yang cenderung bersifat utilitaris dan sering didewakan sebagai ‘moralitas baru’. Menurut penulis, etika sosial harus kembali kepada dasar keyakinan yang paling fundamental, yakni hormat pada kemanusiaan.

Di tegah kelangkaan tersedianya buku-buku etika sosial dalam bahasa Indonesia, kehadiran buku ini dapat menjadi acuan berhadapan dengan berbagai persoalan etika yang merebak akhir-akhir ini. Sebuah buku yang layak dibaca baik oleh para mahasiswa, dosen, pengamat filsafat maupun pengamat masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, dan budaya.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Agama dan Filsafat
A. Sudiarja, SJ 214 hlm | HVS
Penerjemah : A. Sudiarja, SJ
Ketebalan : 214 hlm | HVS
Dimensi : 15,5x22,5 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Kanisius
Penulis: Jenny Teichman
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by