Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Filsafat Mencintai

Oleh: Afthonul Afif         Diposkan: 03 Aug 2019 Dibaca: 5578 kali


Gejala yang sangat menonjol dalam kehidupan manusia modern adalah gaya hidup yang diorientasikan pada pasar dan kesuksesan materiel. Kecenderungan ini mewarnai hampir semua sisi kehidupan mereka, tidak terkecuali dalam cara membangun hubungan-hubungan antar orang, yang mengalami kuantifikasi besar-besaran mengikuti prinsip-prinsip yang bekerja di dalam pasar. Kualitas hubungan diukur dari seberapa banyak atribut-atribut dan fungsi-fungsi tertentu yang dapat dipertukarkan satu sama lain. Seseorang menginginkan orang lain semata karena ia berharap orang lain juga menginginkannya. Seseorang mencintai orang lain karena ia berharap orang lain juga mencintainya.

Dua orang akan saling mencintai apabila mereka sanggup menemukan objek-objek terbaik yang dapat saling dipertukarkan. Ketertarikan terhadap orang lain muncul bukan karena orang lain benar-benar hadir sebagai pribadi manusia, melainkan karena ia adalah objek yang dalam dirinya melekat sederet fungsi. Arti “menarik” dalam konteks ini bukanlah karena terdapat kualitas-kualitas psikologis yang sepenuhnya memancar dari dalam diri seseorang, melainkan karena orang lain menanggapinya sebagai pihak yang pantas diharapkan lantaran sederet atribut yang ia miliki, atau model karakter yang selalu dicari dalam pasar-pasar kepribadian. Kepribadian telah menjadi komoditas yang dilekati harga, diperjual-belikan, yang nilainya akan fluktuatif seturut perilaku pasar.

Dalam berurusan dengan cinta, orang-orang modern juga cenderung menanggapinya sebagai sebuah komoditas, sesuatu yang dapat diperoleh semata karena cinta dikehendaki, bukan lagi sebagai sebuah kemampuan yang tujukan untuk orang lain. Lalu orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi pribadi yang layak dicintai ketimbang menjadi pribadi yang sanggup mencintai. Motif untuk mendapatkan atau menerima jauh lebih dominan dibanding motif menciptakan atau memberi.

baca juga: Genderuwo di Siang Bolong

Dalam sebuah risalah yang sudah menjadi klasik, Seni Mencintai (1958), Erich Fromm menyebut bahwa sikap mental yang terobsesi pada kepemilikan dapat menjerumuskan orang ke dalam jurang masokhisme dan sadisme. Pribadi masokhis selalu berusaha mempertahankan situasi kesatuan dengan pribadi lain yang ia anggap dapat memberikan kesenangan dan perlindungan. Pribadi seperti ini kurang memiliki kemerdekaan dalam menentukan pilihan-pilihan penting hidupnya. Ia senantiasa dalam kendali orang lain, namun anehnya ia justru menikmati situasi ini. Sementara dorongan memburu kenikmatan yang bersifat aktif akan melahirkan sosok pribadi yang sadistik. Pribadi sadistik terdorong untuk melepaskan diri dari kesendiriannya dan perasaan terkungkungnya dengan menjadikan orang lain sebagai bagian dari dirinya. Ia akan mengukuhkan dirinya dengan cara membenamkan orang lain ke dalam dirinya. Ia senantiasa mengalami ketergantungan terhadap pribadi-pribadi yang tunduk kepadanya; esksistensinya akan jatuh ketika pengakuan dan ketundukan orang lain tidak lagi ditujukan kepadanya.

Pribadi sadistik mengukuhkan eksistensinya dengan cara memperbudak orang lain, dan sebaliknya, pribadi masokhis justru akan kehilangan eksistensinya ketika ia terlempar dari situasi diperbudak oleh orang lain. Sepintas tampak perbedaan menonjol, namun jika kita menelitinya lebih dalam, keduanya sebenarnya dikuasai oleh motif dasar yang sama, peleburan diri tanpa integritas dengan orang lain.

Kedua jenis patologi mencintai tersebut berakar dari anggapan bahwa cinta seolah-olah berhubungan dengan hasil akhir yang dapat dinikmati, bukan sebagai kemampuan diri berproses terus-menerus. Pribadi yang menanggapi pengalaman mencintai sebagai suatu momen perolehan, ia menjadi mudah terserap ke dalam diri orang yang dicintainya, karena cinta ia perlakukan seperti sebuah objek yang dihasrati. Berbeda dengan ketika pengalaman mencintai ditanggapi sebagai upaya memahami terus-menerus orang yang dicintai dalam rangka mencapai taraf persekutuan objektif: Mencintai yang didasari kesadaran bahwa hanya dengan memberikan sesuatu yang berharga kepada orang yang dicintai yang akan menjadikan orang waspada terhadap setiap kemungkinan yang akan terjadi. Karena itulah, pengalaman mencintai yang terakhir ini akan lebih tepat bila digambarkan sebagai momen standing in love, waspada karena cinta, dibanding momen falling in love, terjatuh karena cinta.

baca juga: Harga untuk Kebebasan yang Disangkal

Bersiaga dalam cinta

Berkebalikan dengan mencintai yang didasari oleh penyatuan diri patologis, cinta yang matang dibangun melalui penyatuan diri yang tetap mempertahankan integritas dan individualitas masing-masing. Cinta yang demikian adalah kekuatan yang sanggup merobohkan tembok yang memisahkan orang dari sesamanya, atau cinta yang sanggup mengatasi problem kerterisolasian manusia dengan tanpa mengorbankan integritas dan keunikan masing-masing. Cinta yang matang, oleh Fromm disebut sebagai momen yang menyatukan dua orang menjadi satu namun keduanya tetap memiliki kedirian masing-masing (become one and yet remains two).

Mencintai merupakan sebuah aktivitas, namun bukan jenis aktivitas dalam pengertian fisikal atau aktivitas yang sejak semula ditujukan untuk mencapai target-target tertentu, namun ini adalah aktivitas pada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu aktivitas jiwa. Orang yang berkontemplasi, misalnya, meski terlihat pasif, pada hakekatnya batin dan jiwanya aktif dan siaga. Seorang pecinta umumnya memiliki batin yang lebih peka, lapang, sehingga sikapnya terhadap orang lain tidak eksploitatif. Ia mengembangkan sejenis kesadaran diri untuk lebih siap memberi ketimbang menerima, namun makna memberi di sini tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.

Bagi pribadi eksploitatif, memberi akan dimaknai sebagai tindakan untuk mengorbankan sesuatu, sehingga dalam kadar tertentu dapat dimasukkan sebagai tindakan memiskinkan diri. Sementara bagi pribadi dengan karakter produktif, tindakan memberi memiliki makna yang sama sekali berbeda. Potensi ini menjadi bagian yang sudah menyatu dalam dirinya. Pribadi berkarakter produktif akan mengalami dirinya sebagai mahluk yang berkelimpahan, yang penuh berkah, dan oleh karenanya mereka selalu merasa gembira. Memberi baginya akan menjadi tindakan yang lebih menggembirakan dibanding menerima. Ia tidak memaknainya sebagai suatu bentuk kerugian, namun pada dirinya sendiri ia merupakan sebuah cara mengungkapkan kehidupan (aliveness).

baca juga: Narasi-narasi Laut pada Peta Rasio Masa Kini

Dalam tindakan memberi selalu ada sesuatu yang dilahirkan, dan bagi mereka yang berpartisipasi di dalamnya, mereka akan menysukuri atas kehidupan yang telah mereka lahirkan. Mereka akan memaknai cinta sebagai suatu keaktifan untuk mencapai persekutuan yang dilandasi semangat saling memberi.

 

Cinta adalah keberanian

Kesiagaan dalam cinta tidak dapat dipahami sebagai sikap menunggu yang pasif, melainkan sebuah kesiagaan yang partisipatif. Kesiagaan memungkinkan pribadi yang terlibat dalam cinta untuk berani bergumul dengan hakekat eksistensi masing-masing. Eksistensi orang lain merupakan wilayah yang membutuhkan perhatian serta keterlibatan besar, supaya selubung eksistensinya dapat terbuka hingga kemudian mempersilahkan kita masuk dan bersekutu dengannya.

Ketertarikan kita terhadap orang lain sepenuhnya bersumber dari dalam diri kita sendiri, bukan karena tanggapan kita atasnya sebagai pihak yang memiliki sederet fungsi. Kita menjumpainya semata sebagai seorang pribadi. Pertemuan kita dengannya menciptakan suatu momen kehadiran bersama (co-presence), sebuah kehadiran yang selanjutnya mengantarkan kedua pihak pada sebuah persekutuan (communion). Persekutuan tidak sama artinya dengan peleburan, karena di dalam persekutuan kedirian masing-masing pihak tetap dihargai dan menjadi perhatian utama. Hubungan yang terbangun tiada lain merupakan hubungan antarpribadi, bukan hubungan antara pribadi dengan objek, apalagi antara objek dengan objek.

baca juga: Mental Issue, Fiksi Populer, dan Syahid Muhammad

Kita terpanggil untuk menunjukkan dan mengakui kenyataan bahwa kita mencintai orang tersebut. Gabriel Marcel, dalam Metaphisical Journal (1952) menyebutkan: “Cinta itu datang bagaikan sebuah himbauan. Ia datang seperti suatu panggilan dari Aku ke Aku yang lain… Justru karena aku bertemu pribadi orang lain itu, maka ketertarikanku untuk mencintainya muncul bukan karena orang itu memiliki banyak hal yang menarik bagiku, melainkan aku mencintainya karena ia adalah ia.”

Mengapa mencintai membutuhkan suatu keberanian dan kejujuran?

Pertama-tama kita harus membedakan cinta sebagai objek dan cinta sebagai aktivitas, cinta sebagai kata benda dan cinta sebagai kata kerja. Orang seringkali menganggap bahwa mencintai sama artinya dengan mengenali secara utuh sesuatu yang dicintainya, sebagai sesuatu yang konkret. Padahal, justru dari kesadaran inilah kegagalan mencintai sering terjadi. Ketika cinta kita tanggapi sebagai objek, seolah-olah ada yang benar-benar hadir dalam kesadaran kita, sebenarnya kita tidak sedang mendekati cinta itu sendiri, melainkan hanya mendekati sesuatu yang kita asumsikan sebagai cinta. Ada orang yang beranggapan bahwa hubungan seks merupakan puncak tertinggi, atau paling tidak, perwujudan cinta, dan hanya dengan melakukannya kita dapat merasakan pengalaman persekutuan dengan orang yang kita cintai. Bila cinta pada dasarnya adalah aktivitas yang terus-menerus, sementara aktivitas seks mengenal titik akhir, lalu bagaimana dengan pasangan yang tetap saling mencintai meski secara seksual mereka sudah tidak mampu, sebut saja karena faktor usia. Belum lagi misalnya, kita juga dapat melakukan hubungan seks dengan orang yang sama sekali tidak kita cintai. Benar adanya, bahwa seks merupakan sarana yang memungkinkan cinta menemukan bentuknya, namun keduanya tentu bukan sesuatu yang identik.

Cinta adalah gerak batin yang tidak kelihatan, sebuah misteri yang selalu luput kita singkap setiap kali kita mengidentikkannya dengan perwujudan-perwujudan tertentu. Namun demikian, kita juga tidak dapat menyimpulkan bahwa cinta menolak setiap perwujudan. Kita perlu menyadari bahwa cara kita mewujudkan cinta menjadi sesuatu yang dapat kita saksikan, dapat kita ukur, atau dapat kita bandingkan, bukanlah cinta itu sendiri, melainkan hanyalah bentuk-bentuk yang mungkin dapat kita upayakan untuk menghadirkan sesuatu yang misterius itu. Justru karena kehadirannya sebagai misteri inilah, cinta menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh nyata dan hadir. Kehadirannya, sekali lagi, hanya mungkin dapat kita kenali ketika kita berani dan jujur untuk ambil bagian, melibatkan diri, dan bergumul dengannya.

baca juga: Melihat Diri Sendiri

Mengingat cinta pada dasarnya adalah potensi yang dimiliki setiap orang, untuk itu kita hanya perlu jujur di hadapan suara hati (invocation) kita sendiri untuk membuatnya aktif. Suara hati ibarat sebuah radar yang mampu menangkap kehadiran orang lain dalam wujudnya yang paling polos, sekaligus yang membuat kita jujur di hadapannya. Jujur pada orang lain bukan sekadar membiarkannya mengetahui cara kita berada, namun juga berani mengambil tanggungjawab untuk menjamin keberlangsungan eksistensinya.

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: