Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Filsafat Sebagai Revolusi Hidup Filsafat Seni Marx Republish

Filsafat Seni Marx

Mikhail Lifshitz
Stock: Out of Stock

Kategori : Filsafat

Karl Marx tidak berangkat dari teori seni, tapi ia mewariskan banyak komentar singkat dan tulisan tentang seni dan sastra. Pada 1933, untuk pertama kalinya, karya-karya Marx itu diseleksi oleh Mikhail Lifshitz dan dimanfaatkan untuk menyusun model provisional filsafat seni Marx

Meskipun Karl Marx harus mengurusi tugas yang lebih penting, yaitu merumuskan teori estetika secara sistematis, judul buku ini boleh jadi tampak seperti penilaian yang berlebihan. Namun judul ini bukan tanpa dasar dan baru jelas setelah pembaca mengarungi kawasan luas yang telah memungkinkan Lifshitz memasuki tema ini. Meskipun banyak kajian lain yang mengulas tulisan-tulisan Marx mengenai seni dan sastra, tidak banyak pengamat yang bersedia menganalisis evaluasi estetik Marx sebagai bagian dari perkembangan teori umum dia. Itulah yang dilakukan buku ini.

Menurut Lifshitz, tulisan-tulisan Marx menekankan kesenjangan kesenjangan perkembangan sosial dengan artistik, dan memandang sasaran tertinggi estetika Marx adalah memecahkan kontradiksi perkembangan kekuatan-kekuatan produktif dengan meningkatnya alienasi kelas-kelas produktif. Ia melihat dalam Marxisme ada sarana untuk menghapus kontradiksi penindas dengan yang ditindas; kerja fisik dengan mental, sehingga memungkinkan terciptanya kebudayaan universal yang nirkelas dan tidak mengasingkan.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Filsafat
Ari Widaja x+182 hlm | Bookpaper
Penerjemah : Ari Widaja
Ketebalan : x+182 hlm | Bookpaper
Dimensi : 13x19 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Octopus
Penulis: Mikhail Lifshitz
Berat : 200 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by