Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Ajaran dan Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan Mereka Menodong Bung Karno - Kesaksian Seorang Pengawal Presiden

BURU, sebuah pulau yang menyimpan kisah keterasingan dan ketertindasan. Pulau tempat orang-orang (yang dituduh) PKI diisolasi sekaligus diperbudak oleh rezim Orde Baru akibat peristiwa gerakan 1 Oktober 1965. Mereka dibuang tanpa proses hukum. Hersri Setiawan, mantan aktivis Lekra, selama 10 tahun menjadi bagian dari ribuan orang yang di-buru-kan. Lewat buku ini, ia berkisah bahwa Buru tidak saja menyimpan isak tangis, tetapi juga hilangnya identitas sebagai manusia merdeka.

Sebagai memoar eks-tapol, ia ingin berbagi pengalaman sembari berharap bahwa pengalaman pahit para eks-tapol tersebut juga dicatat dalam narasi sejarah Indonesia mutakhir.Tidak lain agar seluruh tragedi kemanusiaan setelah Peristiwa 1965 tidak berulang kembali. Hanya dengan berhenti meratapi masa lalu, kita dapat menjadikan masa lalu sebagai guru.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
ISBN : Islah Gusmian
Ketebalan : xii+270 hlm | HVS
Dimensi : 14 x 20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Galang Press
Penulis: Hersri Setiawan
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by