Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Diburu di Pulau Buru Sejarah Filsafat Nusantara - Alam Pikiran Indonesia

Dinihari, tanggal 11 Maret 1966 merupakan saat-saat yang menggetarkan bagi Soekardjo Wilardjito. Waktu itu ia menyaksikan sendiri satu sekuel sejarah kelam bangsa ini. Empat jenderal mendadak mengunjungi Istana Bogor, mereka adalah Jenderal M. Yusuf, Amir Machmud, Basoeki Rachmat, dan M. Panggabean. Mereka meminta Presiden Sukarno untuk menandatangani sebuah surat yang sangat penting. Dalam memoarnya ia menulis:
.
Hanya mengenakan baju piyama, Bung Karno menemui keempat jenderal tersebut. Lantas Jenderal M. Yusuf menyodorkan sebuah surat dalam map warna merah jambu. Setelah membaca surat tersebut, dengan nada terkejut, Bung Karno spontan berkata: "Lho, diktumnya kok diktum militer, bukan diktum kepresidenan!" Mendengar kata Presiden seperti itu, secara refleks aku yang berada di ruangan tersebut tak kalah terkejutnya. Surat itu tidak terdapat lambang Garuda Pancasila dan Kop surat tersebut bukan berbunyi Presiden Republik Indonesia, melainkan kop di kiri atas, Markas Besar Angkatan Darat (Mabad).
.
"Untuk merubah, waktunya sudah sangat sempit. Tanda tangani sajalah, Paduka. Bismillah," sahut Basoeki Rachmat, yang diikuti oleh M. Panggabean mencabut pistol FN 46 dari sarungnya. Secepat kilat aku juga mencabut pistol.
.
"Jangan! Jangan! Ya sudah kalau mandat ini harus kutandatangani, tetapi nanti kalau masyarakat sudah aman dan tertib, supaya mandat ini dikembalikan kepadaku." Keempat jenderal itu lantas mengundurkan diri. "Mungkin aku akan meninggalkan istana, hati-hatilah engkau," kata Bung Karno kepadaku. Dan benar itu menjadi malam terakhirku berjumpa dengan Bung Karno....
.
Buku ini banyak menguak tabir sejarah yang selama ini terpendam. Berikut kisah pilu dan mengharukan dari penulisnya yang notabene seorang eks tapol Orde Baru. Luar biasa, di hari senjanya ia masih mampu merekam kisah hidupnya dan terus menuliskannya menjadi jejak sejarah yang tak pernah kering.
.
Letda. Inf. Soekardjo Witardjito, S.Miss., Lahir 22 Februari 1927 di SidomuLyo, Godean, Sleman, Yogyakarta. Selama 14 tahun dipenjarakan tanpa proses dan vonis pengadilan, "di-PKI-kan" oleh rezim Orde Baru. Dari LP Wirogunan (Yogyakarta), LP Katisosok (Surabaya), dan terakhir di LP Ambon, bebas tahun 1978. Namanya mencuat setelah "membeberkan" peristiwa Supersemar di Harian Umum Bernas, 22 Agustus 1998. Hasilnya 29 kali persidangan untuknya dengan tuduhan 'memberitakan kabar bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat'. Akhirnya pada tanggal 14 Agustus 2007, Mahkamah Agung (MA) membebaskannya dari segala tuduhan.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
Ketebalan : 352 hlm | Bookpaper
Dimensi : 15x23 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Galang Press
Penulis: Soekardjo Witardjito
Berat : 400 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa