Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Generasi Pasca-Nasionalisme Tradisional

Oleh: M. Fauzi Sukri         Diposkan: 31 Aug 2019 Dibaca: 1234 kali


Pada 27 November 1956, Mohammad Hatta, sebagai tokoh nasionalis utama Indonesia menulis dan memberikan pidato pengukuhan doctor honoris causa di UGM: Lampau dan Datang. Yang menarik dari pidato ini, saat kita membacanya menjelang dekade kedua abad ke-21, adalah sejauh apa pencapaian-pencapaian “yang datang” dari proyek nasionalisme Indonesia saat pidato itu diucapkan.

Hatta membuat tiga pembabakan proyek gerakan nasionalisme: (1) proyek pembentukan “bangsa Indonesia” sebagai kekuatan utama penentangan dan penghancuran kolonialisme-imperialisme di Hindia Belanda yang politiknya bersifat “politie-staat” (negara-kepolisian) demi kemamkmuran hanya ekonomi (negara-orang) Belanda; (2) penggagasan dan pembentukan negara yang berbentuk “Republik” (bukan yang lain apa pun!) yang berdasarkan kedaulatan rakyat jika Indonesia merdeka; (3) dan setelah Indonesia akhirnya merdeka, tujuannya jelas adalah tercapainya “bangsa jang adab, tjinta merdeka, damai, keadilan dan kemakmuran bersama”.

Dua yang pertama, meski masih terlihat geografis-urban sentris, bisa dipastikan sudah berhasilkan dikerjakan oleh para nasionalis awal Indonesia. Tapi, bukan berarti sudah beres dan selesai, bahkan sampai saat ini. Kekecewaan sering menyertai bangsa Indonesia.   

baca juga: Don Quijote dari la Mancha dan Hal-hal yang Belum Selesai

***

Saat pidato itu diucapkan tahun 1956, tentu saja, kita bisa membayangkan betapa kecewa dan masygulnya Hatta menyaksikan kekecewaan rakyat yang hampir terasa di seluruh wilayah Indonesia. Politik terutama di parlemen sangat kacau dan terus terjadi pergantian pemerintahan, para politisi sangat egoistik demi kemakmuran diri sendiri atau kelompoknya (tidak peduli dari aliran ideologi apa), batas geografis kedaulatan Indonesia masih belum stabil baik dari luar atau dari dalam, krisis pangan di beberapa kota, dan terjadinya inflasi maha hebat akibat kegagalan program ekonomi. Terjadilah protes dan demonstrasi di berbagai wilayah terutama di Jakarta.

Yang menarik, pidato Hatta tidak berakhir pesimistik, justru kita melihat nada optimistik yang diarahkan ke masa depan. Dari jalannya sejarah Indonesia sejak 1956, kita sudah menyaksikan banyak hal penting: runtuhnya kekuasaan otoritarian Ir. Sukarno sebagaimana sudah diprediksi Hatta, kemunculan Orde Baru bersama penghancuran partai politik terutama PKI yang jelas tidak pernah terprediksi Hatta, dan munculnya orde ekonomi sentralistik di bawah komando Soeharto dan lingkaran oligarkinya yang justru sangat tidak dianjurkan dan dikritik tajam dalam pidato Hatta.

Dalam perkembangan yang sangat menentukan itu, demokrasi politik dan demokrasi sosial-ekonomi terdepak dan terinjak selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru dengan korban nyawa yang mengerikan. Seperti pernah dikatakan Hatta, demokrasi Indonesia hanya salah langkah saja, tapi ia akan kembali. Kita menyaksikan kembalinya demokrasi Indonesia tentu saja setelah Orde Baru runtuh pada 1998.

baca juga: Penonton Teater yang Membuat Teater Lain Sewaktu Menjadi Penonton dan Puisi Lainnya

Sejak awal 2000 sampai dekade kedua abad ke-21, Indonesia melaksanakan pemikiran Hatta perihal “autonomi daerah” bahkan sampai ke tingkat desa. “Dengan menitik-beratkan autonomi pada Kabupaten, maka Kabupaten dapat memimpin perkembangan autonomi desa berangsur-angsur, sampai djuga didesa tertjapai “mengurus rumah tangga sendiri” didalam arti jang sebenar-benarnja”, kata harapan Hatta. Jika kita memperhatikan perkembangan ekonomi-politik daerah sejak otonomi daerah pada 2004, kita bisa mengatakan bahwa capaiannya jauh lebih berhasil, lebih luas, dan menjanjikan daripada selama 32 tahun sentralisasi ekonomi-politik dalam kekuasaan Orde Baru. Tentu saja, seperti diprediksi beberapa ekonomi, disparitas ekonomi antardaerah dan orang perorang juga semakin tajam, sayang sekali.

***     

Tentu, seperti pidato Hatta, semua itu masih dalam lingkup politik-ekonomi nasionalistik. Pada abad 21 ini, yang dihadapai oleh generasi muda Indonesia atau bahkan rakyat Indonesia secara umum adalah, meminjam frasa sosiolog Ignas Kleden (2001), satu era “setelah ada bangsa, setelah ada negara, dan setelah ada pemerintah dan sistem politik”. Kalau sudah ada semua itu, tidak seperti para nasionalis awal, tentu saja adalah sangat logis jika kita tidak akan mencipta-memperjuangkannya lagi.

Sungguh lucu tak realistis jika generasi muda Indonesia masih mau beraktivitas dan berpikir nasionalistik persis seperti Tan Malaka, Sukarno, Yamin, Hatta, Sudirman, Semaoen, dan seterusnya saat “bangsa”, “negara”, “republik”, “tanah politik” dan seterusnya masih belum ada, masih dirumuskan, dipikirkan, diperjuangkan, dan diterapkan setelah Belanda dan Jepang hengkang. Walaupun ada rakyat Indonesia yang bertindak seperti, bisa dipastikan bahwa tindakan dan pemikirannya hanya bersifat nostalgia ke arah masa lalu.

baca juga: Mengenal Lebih Dekat Nizar Qabbani

Ironisnya, dalam lembaga pendidikan-pengajaran dari tingkat dasar sampai perguruan tertinggi, bentuk “nasionalisme tradisional” itu masih sering dipropaganda kepada generasi muda Indonesia, bahkan banyak juga aktivis mahasiswa yang tak sadar masalah ini. Seakan para nasionalis awal Indonesia telah gagal menciptakan bentuk negara republik Indonesia, gagal merusmuskan dasar-dasar utama negara Indonesia (Pancasila terutama), gagal membentuk jajaran administrasi birokrasi kenegaraan, gagal membuat sistem politik baik di tingkat nasional atau daerah, gagal memikirkan dan melaksanakan sistem ekonomi yang bisa dianggap bakal menyejahterakan rakyat Indonesia, gagal membentuk tentara-polisi nasional untuk menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah Indonesia, dan seterusnya. Semua itu, wajib kita akui, sudah berhasil diperjuangkan para nasionalis awal Indonesia. Itu warisan keberhasilan perjuangan mereka.

Para propagandis “nasionalisme tradisional” memang sering punya alasan yang diklaim kuat: kalau generasi muda Indonesia tidak didoktrin “nasionalisme tradisional” yang lebih bersifat militeristik saja, sayangnya, para generasi muda itu tidak akan punya rasa kebangsaan, tidak berkepribadian nasional, tidak punya jiwa patriotik, tidak cinta tanah airnya, dan seterusnya.

Doktrin patriotik tentu saja sangat penting bagi pendidikan-pengajaran calon tentara dan polisi Indonesia. Tapi, bagi generasi muda sipil Indonesia, doktrin itu tidak akan berefek signifikan. Anak muda Indonesia yang ada di bangku sekolah apalagi yang sudah di perguruan tertinggi sungguh tidak cocok dengan propaganda tradisional konservasi itu.

baca juga: Mengakrabi Mati melalui Hidup

Nasionalisme tradisional sering lebih bersifat konservasi (juga sok curiga pada yang “asing”), tapi sangat sungguh kurang pada bentuk perjuangan daya cipta: dalam mencipta benda-benda teknologis, karya sastrawi, gagasan ilmiah, prestasi olahraga, dan seterusnya.

Yang mereka butuhkan adalah rangsangan daya cipta dan hal ini sering mengharuskan mereka untuk menerabatas batas-batas konvensional. Justru, hasil dan prestasi daya cipta inilah yang sangat dibutuhkan bangsa-rakyat Indonesia. Coba kamu perhatikan: apa yang baru dari perayaan nasionalisme dari waktu kamu kecil sampai dewasa? Sungguh sangat sering hanya itu-itu lagi! Betapa tidak berkembangnya daya cipta bangsa-rakyat Indonesia!

Pendulum ekonomi global sekarang sudah mengarah ke Asia lagi, sebagaimana pada abad-abad sebelum kolonialisme Eropa. Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi-politik yang menentukan jika kita sudah mulai mengganti bentuk-bentuk nasionalisme tradisional yang sudah tidak cocok fungsional untuk kepentingan generasi muda Indonesia yang akan menghidupi Abad Kebangkitan Asia.

baca juga: Makna Hidup Menurut Logoterapi

Maka, seperti yang diingatkan Hatta dalam pidatonya dengan mengutip karya sastrawan Jerman, Schiller, para pendidik bangsa Indonesia wajib memikiran puisi ini: Eine große Epoche hat das Jahrhundert geboren,/ Aber der große Moment findet ein kleines Geschlecht. Zaman besar telah lahir di abad ini/ Tetapi peristiwa besar ini mendapati manusia kecil

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: