Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Genosida Sebagai Buah dari Modernitas

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 27 Oct 2018 Dibaca: 1303 kali


Modern! Dengan cepatnya kata itu menggelembung dan membiak diri seperti Bakteria di Eropa sana. (Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer)

Modern, seperti yang kita ketahui bersama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Hal yang sama patut menjadi perhatian adalah definisi mengenai ‘modernisme’. Modernisme menurut KBBI adalah gerakan yang bertujuan menafsirkan kembali doktrin tradisional, menyesuaikannya dengan aliran modern dalam filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Dari kedua kata tersebut, secara tersirat menggambarkan ada yang salah dengan cara bertindak maupun cara berpikir tradisional, sehingga perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman.

Kata ‘modern’ mulai muncul pada abad ke tujuh belas dan menjadi perdebatan para intelektual di Eropa. Dalam novel Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer pun demikian, dengan tulisan bercetak miring kata modern dituliskan dengan akhiran tanda seru, yang menandakan adanya penekanan dalam kata tersebut. Modern identik dengan apa yang serba canggih, serba cepat, serba mudah—instan.

Apa yang harus sesuai dan disesuaikan tersebut yang kemudian mengubah pola hidup masyarakat modern. Dari yang awalnya Wild Culture menjadi Garden Culture (Bauman, 1987), tak salah jika kemudian modernitas menghasilkan buah berupa Genosida.

baca juga: Pesantren: Keaksaraan dan Indonesia

Genosida merupakan salah satu cara penyesuaian lingkungan, sama seperti penataan taman pada umumnya, apa yang dianggap sebagai gulma akan disingkirkan agar tidak mengurangi keindahan atau merusak isi taman yang lain. Kata “genosida” berasal dari bahasa Yunani genos yang berarti ras atau etnis dan cide yang berasal dari bahasa Latin yang berarti pembunuhan, adalah Raphael Lemkin yang menemukan istilah ini, yang tidak lain juga merupakan seorang Yahudi berkebangsaan Polandia. Genosida terjadi dengan terencana dan terkoordinasikan, cara yang digunakan untuk melakukan pembunuhan secara massal pun diperhitungkan. Misalnya pada kasus holokaus yang dilakukan NAZI, yang paling terkenal adalah dengan memasukkan tawanan ke dalam ruangan gas beracun. Berbeda dengan di Bosnia, genosida yang dilakukan adalah dengan melakukan pemerkosaan kepada para perempuan Muslim. Para tentara melakukan pemerkosaan yang disaksikan oleh masyarakat yang lain bahkan anggota keluarga, baik saudara, suami, ataupun orang tua. Hal ini dimaksudkan untuk menjatuhkan psikologis para laki-laki yang menyaksikan pemerkosaan itu agar merasa bahwa dirinya benar-benar tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Genosida tidak melulu soal pertumpahan darah, tapi juga penghancuran psikologis para korbannya.

Genosida juga tak lepas dari teknologi komunikasi. Pada umumnya genosida bisa terjadi dikarenakan adanya penyebaran berita kebohongan atau yang sekarang dikenal dengan hoaks. Penyebaran hoaks dilakukan untuk menumbuhkan sentimen pada golongan yang ingin disingkirkan untuk membuat garden culture. Meskipun pada umumnya manusia menyadari bahwa dari mereka memang memiliki banyak perbedaan, namun sebelum istilah genosida itu ada, pada masa zaman pra-sejarah hal ini sudah pernah dilakukan.

*

Berbeda dengan kasus di Indonesia. Tragedi 30 September 1965 yang merenggut banyak nyawa, tidak bisa disebut sebagai genosida jika dipandang dari sisi terminologi bahasanya. Kejadian di Indonesia, oleh beberapa peneliti disebut sebagai ‘Pembunuhan Massal’. Penyebutannya sebagai pembunuhan massal tak lain adalah karena kejadian tersebut dilakukan dan ditujukan untuk melakukan penumpasan sebuah ideologi—komunisme.

baca juga: Buku Bawa Petaka

Sampai saat ini memang sudah banyak tesis maupun argumen yang menyusun puzzle G30S, meskipun begitu tampaknya masih sangat buram untuk menerka siapa yang mendalangi kejadian ini. Memang secara terminologi bahasa, tragedi G30S masih memiliki jarak jika diartikan sebagai genosida. Namun, bukan berarti bahwa kasus ini hanya akan dibiarkan mengambang menjadi isu yang seksi untuk dibicarakan tiap kali mendekati 30 September. Sungguh memalukan, isu kemanusiaan yang tak pernah diusut tuntas dijadikan sebagai tedeng aling-aling para politikus.

Berbeda dengan negara-negara di Eropa yang sudah menuntaskan kasus-kasus kemanusiaan serupa, yang pada akhirnya menikmati buah yang manis berupa kemajuan secara intelektual dan teknologi. Indonesia, ingin sekali maju, tapi tiap kali bergerak menuju arah kemajuan itu, kita sebagai sebuah bangsa malah masih saja belum bisa menuntaskan sejarah, lalu kita harus kembali mundur karena persoalan ini.

*

Dalam buku Sapiens yang ditulis oleh Yuval Noah Harari misalnya, kekalahan Sapiens saat menginvasi daerah Neandertal dan menarik mundur kawanannya, dan setelah 30.000 tahun berikutnya mereka kembali dan menghabisi kawanan Neandertal. Kali kedua kedatangan Sapiens, mereka sudah sanggup membuat senjata-senjata yang diperuntukkan untuk menyerang Neandertal. Begitu juga dalam Alkitab tertulis bagaimana keturunan Adam dan Hawa, Yaitu Kain dan Habil. Kain membunuh saudaranya sendiri yaitu Habil, sehingga secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa Kain sudah menghilangkan generasi penerus Habil.

baca juga: Ke Manakah Mata Angin Kesenian Kita?

Genosida memang sudah ada sejak zaman lampau, tapi sebagai istilah, genosida baru dikenal di zaman modern. Jika Modernitas adalah pohon, maka genosida adalah buah busuk yang dihasilkannya, modernitas menawarkan apapun yang serba cepat dan serba mudah, namun ada hal yang perlu dibayar mahal oleh jutaan nyawa karena adanya “penyesuaian” dalam modernitas.

Buku Genosida dan Modernitas Dalam Bayang-bayang Auchwitz ini mampu menjadi pengantar untuk memahami persoalan-persoalan pembunuhan suatu etnis, ras, dan agama tertentu. Genosida bukan hanya soal darah dan nyawa, namun juga soal penghancuran mental. Buku ini tak lepas dari kekurangan teknis seperti kesalahan pengetikan dan pemenggalan kata, tapi yang lebih disayangkan adalah tidak sama sekali membahas Indonesia di dalamnya.

  •  

Judul Buku: Genosida dan Modernitas Dalam Bayang-bayang Auchwitz

Penulis: Antarini Arna

Penerbit: Tonggak Pustaka

Tebal: 176 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: