Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Gerak Industri “Penerbit Jogja” pada Dua Zaman

Oleh: Hartmantyo         Diposkan: 12 Jan 2019 Dibaca: 754 kali


/1/

Kompleksitas industri penerbitan buku di Yogyakarta disebabkan oleh tegangan dua hal. Pertama adalah kebutuhan terhadap keuntungan finansial. Kedua, upaya mewacanakan gagasan alternatif bagi setiap pembaca, terutama setelah pengekangan 32 tahun masa otoritarian Orde Baru.

Kebutuhan penerbit untuk merespon pasar demi keuntungan finansial disebabkan oleh kebutuhan dasar dalam proses produksi dan distrbusi. Proses produksi terkait langsung dengan rezim ekonomi global yang berpatok pada kebutuhan cetak seperti harga kertas, biaya jasa percetakkan, biaya kontrak dengan penulis, hingga biaya desain sampul buku. Sedangkan proses distribusi terkait dengan biaya mendistribusikan buku melalui jalur kerjasama distributor untuk masuk melalui jaringan toko-toko buku berskala nasional.

Pada upaya mewartakan gagasan-gagasan alternatif yang kritis tak pelak mesti berurusan dengan konteks dan relevansi selera baca masyarakat di Indonesia pada umunya, dan tentu saja Yogyakarta secara lebih khusus. Bawasannya, pasca runtuhnya kekuasaan otoritarian Orde Baru yang melalukan pemberangsuan buku jelas menghambat laju ilmu pengetahuan. Namun, yang menjadi persoalan adalah sejauh mana publik merespon wacana alternatif tersebut, dan sekiranya gagasan seperti apa yang perlu ditawarkan melalui produk penerbitan.

baca juga: Pertemuan dengan F. Budi Hardiman: Sebuah Renjana Filsafat

Penerbit Jogja dilahirkan tepat pada siasat dan strategi menghadapi tegangan antara kebutuhan pasar dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, diembannya posisi menjadi kutub geliat industri penerbitan tidak serta merta menjanjikan perkembangan penerbitan lancar dan jauh dari persoalan. Sebagaimana kehadiran resiko yang selalu tegap berdiri bersama menjulangnya popularitas, beragai ragam persoalan dari proses cetak, kurasi dan editorial naskah, hingga stigma negatif lekat sebagai catatan yang mengiringi pasang surutnya aktivitas penerbitan.

Gerak industri penerbitan membawa pemahaman  yang setidaknya dapat dibagi dalam dua posisi. Posisi pertama adalah masa booming Penerbit Jogja pertama sedari tahun 1998 hingga 2007. Berbagai penerbit legendaris seperti Bentang Budaya, Jendela, IndonesiaTera, LkiS, Pustaka Pelajar, Kreasi Wacana, Ombak, InsistPress, hingga ResistBook menjadi nama-nama yang menghiasi generasi tersebut.

Sedangkan posisi kedua merupakan periode booming kedua sedari tahun 2013an dan masih berkembang hingga saat ini. Sederet nama dari Indie Book Corner, Octopus, Circa, Kendi, KalaBuku, WarningBook, Jalan Baru, Buku Mojok, Basa Basi, hingga Jual Buku Sastra dan beberapa lainnya. Keduanya lahir dari arena pergulatan yang masih sama: tegangan antara kebutuhan pasar dan ilmu pengetahuan. Selain juga  beberapa figur dari generasi pertama yang masih turut andil dalam mengenalkan wacana industri penerbitan pada generasi muda saat ini.

baca juga: Natal dan Cerita-cerita yang Terbaca

/2/

Terma “Penerbit Jogja” digunakan dengan berlandaskan pada Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007). Terma tersebut dipilih karena sifatnya yang lebih luwes dan mengacu pada Yogyakarta sebagai gagasan arena reproduksi. Terdapat beberapa terma lainnya yang senyatanya lebih akrab seperti penerbit indie (independen), penerbit alternatif, dan model self-publishing. Dikarenakan kompleksitas wacana independen dan alternatif yang terpendar beragam pemakanaan, maka terma Penerbit Jogja dianggap lebih tepat dan relevan.

Siasat dan strategi industri Penerbit Jogja pada masa 1998 hingga 2007 dipahami melalui dua hal. Pertama adalah gerak kolektif antar penerbitan yang memiliki latar belakang sebagai mahasiswa, intelektual, anggota lembaga swadaya, hingga pebisnis yang menghasilkan keriuhan semangat untuk melahirkan dan mengembangkan penerbitan. Kedua adalah kucuran dana dari Ford Foundation yang bekerja sama dengan IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Yogyakarta melalaui Program Pustaka Yayasan Adikarya pada tahun 1998-2003.

Semangat kolektif industri penerbitan telah berhasilkan ciri khas tersendiri yang sangat lekat bagi Penerbit Jogja. Pertama adalah alur manajemen kerja yang sederhana. Kedua, proses penggarapan produksi dengan mengandalkan lingkungan pertemanan. Ketiga pengelolaan pasar buku yang berbentuk event pameran buku yang rutin diagendakan. Terakhir, sekaligus yang cukup tenar dalam industri penerbitan Indonesia adalah estetika sampul buku yang mendekatkan produk buku sebagai ruang penciptaan berkesenian antara penulis, penerbit, dan perupa yang merepresentasikan semangat kolektif Penerbit Jogja.

baca juga: Deforestasi dan Bayang-bayang Zoonosis

Kegemilangan booming Penerbit Jogja pertama juga tidak lepas dari kucuran dana Ford Foundation. Berdasar laporan tahunan Ford Foundation terkait kucuran dana yang diberikan bertahap secara rutin kepada IKAPI Yogyakarta pada tahun2001 dana sebesar 405 dolar AS difokuskan untuk program penerbitan buku dan penelitan tentang penerbitan di Indonesia. Pada 2001 kucuran 200 dolar AS diberikan pada pemberian subsidi penerbitan buku dan mengembangkan jejaring alternatif distribusi penerbitan. Terakhir pada tahun 2002 dukungan sebesar 300 dolar AS ditargetkan untuk penerbitan buku-buku ilmu sosial dan humaniora dengan kualitas tinggi. Ford Foundation akhirnya memutus kerjasama dengan IKAPI Yogyakarta pada tahun 2003 dikarenakan indikasi penyalahgunaan dana yang mengakibatkan proses produksi dan distribusi buku yang buruk dan tidak sesuai dengan kontrak yang disepakati.

Beranjak pada gerak industrial Penerbit Jogja pada booming kedua sekiranya masih mempertahankan bentuk kolektifitas yang disokong beberapa figur lama dan manajemen yang sederhana. Perbedaan yang paling mendasar adalah persentuhan dengan teknologi dan meningkatnya platform digital. Generasi yang pertama menggunakan platform digital milis Yahoogroup sebagai alat komunikasi dan mengandalkan gerai toko sebagai corong penjualan. Namun, saat ini platform digital justru menjadi arus utama bagi gerak penjualan.

Pembaruan teknologi mesin cetak menjadi salah satu pemantik bagi kemudahan melahirkan penerbitan. Melalui mesin PoD (Print on Demand) dengan harga cetak buku yang terbilang murah dan batasan minimal hanya sebesar dua ratus eksmplar. Juga, jangka waktu yang dibutuhkan untuk proses pencetakan yang tidak selama ketika menggunakan mesin cetak offset. Karenanya, penerbit dapat secara luwes untuk meminta proses cetak ulang ketika stok buku sudah menipis tanpa perlu menimbun buku dengan jumlah ribuan yang jelas membutuhkan biaya perawatan seperti pada generasi yang pertama.

baca juga: Buku Bekas dan Senjakala Kertas

Perpindahan arus utama penjualan produk penerbitan dari gerai toko ke platform digital tidak lain disebabkan oleh siasat dan strategi mengakomodir kecenderung perkembangan generasi saat ini dan kuasa new media. Perkembangan generasi net yang sedang tumbuh pada zaman sekarang sangat bergantung pada kebutuhan media sosial dan cenderung ke arah visual, yang utamanya pada smartphone. Oleh karenanya, mau tidak mau, penerbitan jelas mengikuti kecenderungan tersebut demi menjaga cashflow sekaligus melebarkan jangkauan ke seluruh Indonesia, bahkan ke beberapa negara Asia Tenggara. Sebuah kecenderungan yang senyatanya juga terjadi pada industri secara global yang disebut dengan rezim “industri kreatif”.

Jika generasi pertama ada kebutuhan kontekstual dan relevansi mengenalkan gagasan kritis pasca Orde Baru yang bergantung pada hibah dana Ford Foundation, maka generasi kedua merepon kecenderungan global dengan megakomodir kebutuhan generasi net yang sangat bergantung pada kehadiran media sosial.

/3/

Posisi dan gerak industri Penerbit Jogja dalam dua periode tidak bisa dilepaskan dari kecenderungan global. Kecenderungan yang merupakan bentuk ketimpangan relasi yang diciptakan oleh Ford Foundation. Juga kecenderungan mangkomodir platform digital secara berlebihan bagi generasi net saat ini yang tentu membawa pada konsekuensi ketahanan bagi penerbitan jangka panjang. Sehingga bentuk-bentuk kerja sama pada negara industri maju tidak lagi dipahami sebagai bentuk pertumbuhan industri menuju tingkat yang paling mutakhir, tetapi sebagai relasi kebergantungan yang menghasilkan resiko industrial yang tak terelakkan.

baca juga: Semaoen: Sang Anak Ayam Berkokok

Kebergantungan terlihat jelas pasca dicabutnya hibah dana Ford Foundation yang membuat para penerbit yang semula mumpuni untuk mencetak tiga ribu eksmplar perjudul harus kelimpungan dan menurunkan intensitas penerbitan produk baru hingga gulung tikar sebagai resiko yang tak terhindarkan. Pencabutan kerjasama tidak sekedar sebagai problem internal antar penerbit dalam IKAPI, tetapi juga konsekuensi dari model ekonomi Fordisme yang berusaha menciptakan produk secara massal dengan memberikan beban kerja yang berlebih demi akumulasi kapital.

Sedangkan kebergantungan pada pasar jelas hadir secara langsung ketika usaha mengakomodir platform digital sebagai corong penjualan. Ragam dampak mulai dari keseragaman secara visual hingga narasi wacana yang ditawarkan tidak lepas dari usaha mengakomodir kebutuhan generasi net saat ini. Risiko yang tak mungkin terelakkan adalah usia penerbitan yang cenderung pendek ketika menawarkan gagasan kritis alternatif yang tidak populer sehingga tidak dapat diserap pasar dengan baik. Dampak tersebut bisa mulai dirasakan, atau justru baru akan meledak dalam beberapa tahun mendatang.

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: