Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Gorky, Para Jelata dan Aksi Massa

Oleh: Anindita ST         Diposkan: 16 Sep 2020 Dibaca: 1752 kali


Dalam satu kesempatan, Pramoedya Ananta Toer mengumpamakan kekuatan tulisan Maxim Gorky ibarat, “seseorang yang memegang tiang-tiang rumah, lalu menggoyang-goyangkan sampai seluruh rumah menjadi goyah.” Gorky dikenal sebagai salah satu peletak aliran sastra realisme sosialis. Lahir dari keluarga jelata, karya-karya Gorky tak henti-hentinya menyuarakan perlawanan terhadap penindasan. Tak mengherankan kalau salah satu karyanya, Ibunda, menjadi pegangan bagi aktivis gerakan untuk melawan tirani.

Realisme sosialis yang dikembangkan oleh Gorky, yang kemudian menjadi ideologi berkesenian di Uni Soviet pasca Revolusi Oktober 1917, menitikberatkan pada kesenian yang terlibat dalam revolusi. Prinsip “seni untuk seni” yang menjadi pegangan kaum borjuis dalam berkaya mendapatkan kritik tajam dari realisme sosialis. Bagi realisme sosialis, sejatinya seni adalah untuk rakyat dan demi mendukung perubahan sosial kelas buruh, tani, serta rakyat tertindas lainnya.

Sebagimana dijelaskan oleh Pramoedya dalam risalahnya Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, konsep realisme sosialis tidak berhenti pada penggambaran realitas. Paham ini memandang realitas bukan sebagai kebenaran mutlak, melainkan hanya bagian dari kebenaran yang terus berubah sesuai proses dialektika dalam masyarakat. Disebutkan pula oleh Pramoedya, tersebab sastra berada satu front dengan medan perjuangan maka realisme sosialis pun mempunyai dua watak. Pertama, memegang militansi dalam perjuangan sehingga tidak mengenal kata kompromi dengan lawan-lawan politik. Kedua, sebagai bagian dari perjuangan rakyat, dan itulah mengapa sastra realisme sosialis terus menerus melakukan serangan kepada musuh-musuh rakyat, juga dengan cepat mengkonsolidasikan diri di kalangan sendiri. Kedua watak inilah tercermin dari kumpulan cerita pendek (cerpen) Si Tukang Onar karya Maxim Gorky.

Kumpulan cerpen yang diterjemahkan dari Tales of Italy ini merekam pondasi berkesenian Gorky. Berisikan lima belas cerpen dengan berbagai latar, pembaca disuguhi pemihakan Gorky kepada para jelata. Kemanusiaan Gorky bukanlah kemanusiaan universal ala borjuis, melainkan kemanusiaan yang berpihak pada para jelata, orang-orang yang disingkirkan oleh sistem kapitalisme. Di sisi merekalah Gorky memilih untuk berdiri.

Para Jelata

Yang membedakan manusia dengan lebah, menurut Karl Marx, adalah lebah bekerja dengan insting yang dimilikinya, sementara manusia bekerja dengan rasionya. Inilah mengapa bentuk rumah lebah tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Sebaliknya, di sepanjang proses sejarah, manusia telah membangun berbagai jenis rumah yang berbeda satu sama lain. Inilah mengapa manusia mampu bertahan hidup di bumi kendati lemah secara fisik.

Dalam cerpen Terowongan, Gorky menarasikan kisah para jelata, dalam hal ini para pekerja, yang berani menantang hidup dengan kerja keras. Ini mematahkan argumentasi yang sering terdengar bahwa orang miskin terlahir dari orang-orang yang malas bekerja. Pendapat tersebut dihancurkan Gorky dengan menunjukkan bahwa justru para jelatalah yang rajin bekerja meskipun hasil jerih payah mereka terus dirampas oleh Tuan-tuan Kapitalis. Cerpen Terowongan merekam dialog reflektif dua orang pekerja yang begitu militan dalam bekerja sehingga mampu membuat terowongan yang harus menembus gunung.

Baca juga: Kisah-kisah Keturunan Arab Betawi

Sementara itu, dalam cerpen Perkawinan, militansi dalam bekerja juga ditunjukkan oleh tokoh Pak Tua bermata satu. Sejak usia 13 tahun, Pak Tua sudah bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Tanpa kenal menyerah, semua derita hidup telah dihadapi dan ditanggungnya dengan penuh keberanian. Lewat dua cerpen ini, Gorky membabarkan optimisme hidup para jelata, bahwa mereka yang sering dituduh pemalas sesungguhnya adalah pekerja-pekerja keras yang pantang mundur dalam menjalani kehidupan.

Moster merupakan cerpen yang paling menyentuh hati dari keseluruhan karya Gorky yang ada dalam buku ini. Kisah seorang ibu yang melahirkan anak cacat sehingga orang-orang di sekitarnya, bahkan orang asing yang sekadar lewat, memanggilnya moster. Orang-orang pun menyarankan sang ibu agar anak itu diserahkan kepada panti perawatan. Namun, tokoh ibu yang hidup di pinggir pantai itu memberikan jawaban yang tegas, “Aku melahirkannya...aku harus merawatnya.” Melihat keadaannya yang miskin, banyak orang lantas menyarankan sang ibu untuk membawa anaknya ke pelataran gereja agar siapapun yang lewat di sana tergerak memberikan sedekah. Namun, lagi-lagi ibu itu menggelengkan kepala. Dia tetap berpegang teguh pada pendiriannya untuk merawat anak itu dengan kedua tangan dan usahanya sendiri. Begitulah Gorky menggabarkan watak pantang menyerah para jelata. Mereka tidak digambarkan sebagai orang yang suka mengemis iba atau uang, melainkan sebagai manusia yang mempunyai harga diri dan tidak gampang berputus asa.

Cerpen-cerpen Gorky bisa dilihat sebagai upaya sang pengarang untuk membalik anggapan masyarakat tentang para jelata. Mereka disajikan apa adanya dalam porsi yang tepat. Kondisi para jelata tidak dilebih-lebihkan, pun kemiskinan mereka tidak dieksploitasi demi mendapatkan simpati. Gorky justru menggambarkan para jelata sebagai sosok yang mandiri, rajin bekerja,  memiliki harga diri serta pantang mengemis belas kasihan. Para jelata ditampilkan sebagai manusia-manusia yang memuliakan kerja. Gorky konsisten dengan pandangan Marxisme bahwa kerja merupakan esensi kehidupan manusia. Lewat kerja, manusia menjadi ada.

Baca juga: Pergulatan Wacana dan Pesan Pencarian Pangeran

Aksi Massa

Disebutkan dalam Manifesto Komunis, "Sejarah umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas." Yaitu, perjuangan antara kelas yang ditindas melawan yang menindas, budak melawan pemilik budak, petani berhadapan dengan tuan tanah, dan proletar melawan pemilik modal. Lewat perjuangan kelas inilah, menurut Marxisme, peradaban manusia berkembang hingga saat ini. Agar berhasil, dalam perjuangan kelas  ini maka mereka yang ditindas haruslah bersatu. Itulah mengapa, dalam penutup Manifesto Komunis, terdapat sebait kalimat yang sangat terkenal: Kaum Buruh Sedunia, Bersatulah!

Seruan dalam Manifesto Komunis tersebut merasuk dalam diri Gorky yang kemudian mengejawantahkan ke dalam karya-karyanya. Sebagaimana dalam novel Ibunda, dalam kumpulan cerpen ini pun Gorky menarasikan perlawanan para jelata. Sebagai kelas yang tertindas, senjata paling ampuh yang dimiliki para jelata adalah aksi massa dalam bentuk pemogokan.

Pemogokan merupakan cerpen Gorky yang menggambarkan salah satu bentuk perjuangan para jelata. Cerpen ini menceritakan tentang pemogokan pekerja kereta trem. Di tengah-tengah situasi itu, seorang tokoh bertanya dengan lugas dan berani, “Ah, Signor! Apa yang dilakukan seseorang jika ia tak dapat memberi makroni bagi anak-anaknya?” Di hadapan polisi, para pekerja mengelompokkan diri sambil menuntut hak mereka. Sebagaimana watak sastra realisme sosialis, tokoh-tokoh ini tak mengenal kompromi dan akan terus berjuang serta bertahan hingga tuntutan mereka terpenuhi. Lewat adegan tersebut, Gorky seolah ingin mengatakan bahwa kunci keberhasilan dalam perjuangan adalah persatuan.

Baca juga: BERDIKARI: Berkarya Demi Kebahagiaan Sendiri 

Aksi massa dalam wujud pemogokan ini sudah pasti membuat para pemilik modal marah sekaligus merasa dikhianati dan ditantang oleh pekerjanya sendiri. Mereka yang menuntut haknya pun sertamerta dicap sebagai pengacau. Kondisi ini digambarkan dengan sangat baik oleh Gorky dalam cerpen Si Tukang Onar. Lewat dialog antara seorang insinyur dengan seorang propagandis serikat buruh bernama Trama, pembaca bisa mengikuti jalan pikiran pemilik modal saat merespon sebuah aksi kelas pekerja. Tuan Insinyur yang mempunyai usaha mengganggap bahwa usaha para pekerjanya untuk menuntut hak hanyalah sebentuk keonaran. Aksi-aksi pemogokan, menurutnya, justru menyebabkan perusahan merugi. Dia pun membujuk Trama, sebagai propagandis yang dikenal ulung, untuk berbicara dan bernegosiasi dengan serikat buruh agar mau bekerjasama.

Lewat cerpen-cerpen dalam kumpulan Si Tukang Onar, Gorky telah memberikan contoh tentang sebentuk sikap kepengarangan. Seorang pengarang memang bisa menyuarakan apa saja dan berdiri di sisi manapun dia mau, entah berdasarkan kepentingan, ideologi atau kesenangannya, begitu pula Gorky yang lebih memilih berada di samping para jelata bersama karya-karyanya yang mengobarkan semangat perlawanan. Sebuah sikap yang tidak main-main dan membutuhkan keberanian.***  

 

Judul: Si Tukang Onar

Penulis: Maxim Gorky

Penerbit: Baca

Cetakan: I, 2019

Tebal: 147 halaman

ISBN: 978-602-6486-27-1



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: