Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Harga untuk Kebebasan yang Disangkal

Oleh: Afthonul Afif         Diposkan: 27 Jul 2019 Dibaca: 1975 kali


Apa yang akan terjadi apabila seseorang tidak lagi berdaulat atas kebebasan yang dimilikinya? Masih pantaskah ia disebut sebagai manusia?

Mungkin terkesan biadab, menanggalkan status kemanusiaan seseorang karena ketidaksanggupannya menyadari makna kebebasannya. Atau boleh jadi, inilah sebutan yang justru paling pantas ia sandang karena telah menyangkal potensi kemanusiaannya itu? Lagi pula, tampaknya kita masih meyakini ajaran yang menyebutkan bahwa hanya manusialah ciptaan yang paling menyadari takdir hidupnya di dunia ini.

Dalam membuat penjelasan tentang persoalan ini kita harus menyebut Franz Kafka, seorang penulis yang sangat serius dalam menanggung keprihatinan ini. Dalam novel Kafka, The Trial (1925), yang kemudian difilmkan tahun 1962, kita dapat melihat sebuah gambaran yang menyedihkan tentang seseorang yang kehilangan kemampuannya untuk melawan para penyerangnya. Tuan K, tokoh utama dalam novel tersebut, tiba-tiba ditahan, kemudian diserahkan ke majelis hakim untuk diadili. Ia mengeluh mengapa ia dituduh, tanpa diberi kesempatan menuntut hak-haknya, namun ia juga tak mampu berkata “Saya tidak akan mundur selangkahpun walau mereka akan membunuh saya.”

baca juga: Narasi-narasi Laut pada Peta Rasio Masa Kini

Para pendeta gereja yang prihatin kemudian berteriak, “Tidakkah Anda mengerti apa-apa?” Suatu perbuatan yang dianggap kurang sopan oleh golongan kelas menengah. Namun, menunjukkan empati yang mendalam terhadap penderitaan sesamanya. Makna yang terkandung dalam teriakan itu kira-kira begini: “Tidak adakah setitik api di dalam hati Anda? Tidak dapatkah Anda berdiri untuk membantu diri sendiri?” Di akhir persidangan, dua orang algojo yang bertugas untuk memenggal kepalanya menawarkan sebilah pisau untuk bunuh diri. Namun, tawaran sang algojo ditolaknya. Ia memilih pasrah, menyaksikan detik-detik terakhir kepalanya dipenggal oleh sang algojo tanpa menyisakan daulat apapun.

Melalui novelnya itu, Kafka tidak sekedar menyindir, tetapi telah menampar muka manusia modern, yang begitu lemah dalam memerjuangkan kebebasannya, bahkan untuk mengakhiri hidupnya sendiripun, ia tak sanggup. Dengan demikian, melepas status sebagai “manusia” bagi seseorang yang tidak lagi mampu memerjuangkan kebebasannya tidak dapat dimaknai sebagai sinisme yang biadab, melainkan bentuk keprihatinan di titik yang paling akhir.

Novel Kafka tersebut juga dapat dianggap sebagai kritik langsung terhadap moralitas borjuis yang melandasi peradaban modern. Orang-orang dilarang untuk mengungkapkan kebenciannya, amarahnya, impuls-impuls seksualnya, karena dianggap sebagai ketidakpantasan dan kekotoran. Emosi-emosi negatif yang kadang-kadang timbul ini tidak sesuai dengan gambaran tentang masyarakat borjuis yang dikenal santun, ramah, mampu mengendalikan dan menyesuaikan diri dengan baik. Akibatnya, emosi-emosi negatif itu sedapat mungkin harus ditekan. Oleh Freud, moralitas borjuis inilah yang dianggap sebagai representasi dari super ego, aturan-aturan moral puritan yang dituduh sebagai penyebab bagi gangguan-gangguan mental yang diderita oleh manusia modern. Dan psikoanalisis, ilmu baru yang diciptanya kemudian menjelma menjadi ajaran dengan misi suci yaitu membebaskan manusia dari tekanan peradaban super ego tersebut.

baca juga: Mental Issue, Fiksi Populer, dan Syahid Muhammad

Betapa pentingnya memiliki kebebasan bagi seseorang untuk menegakkan identitasnya sebagai manusia sehingga semua upaya untuk mempertahankannya meski ditempuh dengan cara yang destruktif masih tetap dapat dianggap sebagai tindakan yang bermartabat. Dalam hal ini kita dapat berkata bahwa tidak mungkin seseorang menyerahkan kebebasannya tanpa menggantinya dengan sesuatu yang dihasrati sebagai penyeimbang batinnya. Kita dapat menyebut kebencian dan kemarahan sebagai reaksi paling awal dan sering dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memelihara harkat dan identitas seseorang.

Kita semua tahu bahwa apabila seseorang dipaksa menyerahkan kebebasannya, maka ia pasti akan membenci orang yang merampas kebebasannya itu. Potensi kemarahan ini sangat disadari oleh setiap pemerintahan otoriter sehingga harus disediakan obyek lain sebagai sasaran kebencian dan kemarahan rakyatnya agar kelanggengan kekuasannya tidak terancam oleh pemberontakan massal. 

Pada masa rezim Nazi Hitler berkuasa, orang-orang Yahudi dijadikan sebagai kambing hitam, musuh bangsa, untuk meredakan kebenciaan rakyat Jerman terhadap dirinya. Stalin juga telah mengubah kebencian rakyat Rusia terhadapnya menjadi kebenciaan terhadap negara-negara Barat yang disebutnya sebagai negara-negara penghasut perang. Strategi pengalihan ini digambarkan dengan sangat gamblang oleh George Orwell dalam novelnya 1984: bila sebuah pemerintahan memutuskan merampas kebebasan rakyatnya, maka ia harus mampu mengalihkan kebencian rakyatnya kepada orang-orang lain di luar lingkaran bangsanya agar tidak terjadi revolusi sosial. Entah disadari atau tidak, strategi ini dengan sangat jitu juga dipraktekkan oleh rezim Orde Baru yang selalu mengalihkan kebencian rakyat Indonesia terhadapnya dengan selalu menjadikan minoritas Tionghoa sebagai kambing hitam.

baca juga: Melihat Diri Sendiri

Ancaman terhadap kebebasan juga muncul dalam kecenderungan psikologis untuk menekan kebencian dan amarah seseorang kepada orang yang dibencinya justru dengan cara menghormati orang yang semula dibencinya. Dalam hal ini kita jangan mudah terkecoh dengan dalih rekonsiliasi maupun pemaafan. Selagi kebencian dan kemarahan itu tidak dikelola dengan cara terbuka, diwujudkan semata-mata untuk menjamin kebebasan kembali, maka yang terjadi hanyalah penyatuan yang narsistik. Merapatnya para aktivis di zaman Orde Baru kepada kelompok-kelompok yang dulu memusuhi dan mengancam keselamatan jiwa mereka jangan-jangan adalah contoh terbaik untuk fenomena ini. Jika demikian, maka ini adalah wujud kekalahan yang paling nyata (bandingkan dengan tokoh K dalam novel Kafka).

Bila kita tidak memiliki kemampuan menghadapi kebencian dan amarah dengan cara terbuka, cepat atau lambat kedua emosi negatif itu akan merongrong kesehatan mental kita, dan seringkali berujung pada belas kasihan kepada diri sendiri. Belas kasihan kepada diri sendiri merupakan bentuk pelanggengan kebencian dan kemarahan. Seseorang dapat menekan kebencian dan amarahnya sebagai bentuk kompensasi psikologis: setiap kebencian dan amarah merupakan tindakan yang tercela, sehingga untuk mengurangi rasa bersalah yang ditimbulkannya, seseorang akan menghibur dirinya dengan menanamkan pikiran bahwa betapa banyaknya penderitaan yang harus ditanggungnya.

Friedrich Nietzche merupakan representasi pemikir terbaik yang semasa hidupnya berjuang dengan spirit martir untuk menjelaskan pusat-pusat konflik psikologis manusia modern yang lahir dari penampikan terhadap kebebasan manusia. Ia merasa bahwa masyarakat borjuis Eropa merupakan contoh terbaik kelompok manusia yang menyangkal kemarahan mereka. Mereka terkejut, bahwa ternyata moralitas yang mereka yakini selama ini bersumber dari kemarahan-kemarahan yang mereka represi tanpa sadar. Ia menyatakan bahwa “kemarahan terletak pada inti moral kita, dan kasih Kristiani merupakan mimikri dari kebencian dan kemarahan yang impoten....” (W. Kaufmann, Nietzche, 1950: 91).

baca juga: Yang Dikeruk dan Berkobar

Bagi siapapun yang sejalan dengan Nietzche, akan setuju dengan pendapat bahwa tak seorangpun mampu memberikan kasih, moralitas atau kebebasan yang sesungguhnya sampai ia benar-benar mengalami dan mengatur amarahnya. Kebencian dan kemarahan hendaknya digunakan sebagai motivasi untuk kembali mewujudkan kebebasan hakiki seseorang, karena jika tidak, ia tidak akan mampu mengubah emosi-emosi destruktifnya menjadi emosi-emosi konstruktif. Ia harus mengetahui apa dan siapa yang sedang dibencinya. Misalnya, ketika rakyat berada dalam cengkeraman seorang diktator, langkah pertama untuk menjatuhkannya adalah dengan mengubah kebencian dan kemarahan mereka menjadi kekuatan-kekuatan perlawanan untuk sebuah kondisi yang lebih baik. Reformasi 1998 saya pikir adalah contoh paling dekat dengan kehidupan kita di Indonesia.

Rollo May, eksistensialis terkemuka Amerika, dalam Mans Search for Himself (1953:167) berpendapat bahwa kebencian dan kemarahan untuk sementara waktu memang dapat memelihara kebebasan batin seseorang, namun cepat atau lambat orang itu harus menggunakan kebencian dan amarahnya untuk mewujudkan kembali kebebasan dan martabatnya. Jika tidak, kebencian dan amarah itu akan menghancurkan dirinya sendiri secara meyakinkan.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: