Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Etika Sosial Teori Teori Etika

Hari Ketika Beaumont Berkenalan dengan Rasa Sakit dalam Dirinya

J. M. G. Le Clézio
Description
Clezio bisa membawa kita ke hal-ihwal yang lebih jauh--eksistensialisme, makna jati diri, korelasi antara kesakitan dan kebahagiaan
Stock: Tersedia

Kategori : Novel dan Sastra

Clezio penulis Prancis peraih Nobel Sastra tahun 2008 ini jarang disebut-sebut di antara kesusastraan kita. Bukunya yang sudah diterjemahin ke bahasa Indonesia yaitu "Mencari Emas" (Yayasan Obor Indonesia: 2013).

Karya-karya awalnya, seperti di novela "Hari Ketika Beaumont Berkenalan dengan Rasa Sakit dalam Dirinya" ini, bercorak eksperimental. Kemudian Clezio beralih gaya tulis dan memeluk realisme seperti di novel "Mencari Emas". Novelanya ini memperlihatkan bahwa Clezio piawai membuka kemungkinan-kemungkinan dari narasi yang pelik tapi tetap enak dibaca. Dengan pemantik yang terkesan renik macam sakit gigi yang diderita tokoh Beaumont dalam novela ini, Clezio bisa membawa kita ke hal-ihwal yang lebih jauh--eksistensialisme, makna jati diri, korelasi antara kesakitan dan kebahagiaan.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
Lutfi Mardiansyah iv + 87 hlm | Bookpaper
ISBN : 9786025162978
Penerjemah : Lutfi Mardiansyah
Ketebalan : iv + 87 hlm | Bookpaper
Dimensi : 12 x 18 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia, 2019
Stock: Tersedia
Penerbit: Trubadur
Penulis: J. M. G. Le Clézio
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by