Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Hari Tanpa Nama: Cinta Tanpa Dosa

Oleh: Riki Kurnia         Diposkan: 13 Nov 2018 Dibaca: 2095 kali


Sudah dua bulan sejak bukumu sampai di tangan, Kang, sudah berkal-kali pula saya membacanya. Bukumu yang bahkan lebih tipis dari tempe itu, bukumu yang seukuran surat undangan nikah itu, bukumu yang hanya 69 halaman itu, serasa sangat berat dibaca, hingga saya perlu membuka dan menutupnya belasan kali untuk membacanya lagi dan lagi, hanya demi berani menuliskan ini. Kang, anggap saja ini hanya curhatan hasil bacaan, tinimbang review yang serius. Maaf karena saya tak mampu menulis ulasan yang serius, untuk anakmu yang tampak digarap di atas ranjang bukumu dengan sangat serius.

Di zaman kiwari, di mana banyak sekali penulis atau penyair dadakan, mereka dengan mudahnya menulis dan menerbitkannya seperti tahu bulat digoreng dadakan, saya ucapkan tabik dan bangga padamu, sebab bukumu jelas digarap dengan serius. Saya membayangkan ide-ide yang kau endapkan seperti fantasi erotis yang dibayangkan saban malam sebagai pengantar tidur, diam-diam kau pelihara fantasi erotis itu, lalu dalam mimpi, kau merangkainya menjadi baris narasi dan, karena bercerita bukan keahlianmu, sesaat setelah bangun, kau melupakan alur dan menemukan baris-baris narasi itu berserakan di sekitar ranjang. Lalu kau merangkainya ulang—kali ini setengah mimpi—dan lahirlah puisi ini. Puisi yang bikin saya frustasi, Kang, sebab kerap mengajak saya masuk ke ruang mimpi—atau setengah mimpi, ruang yang sangat berantakan.

Kenapa saya bilang berantakan, sebab memang tak ada mimpi yang jelas bukan? Dan memang puisi yang kau tulis bersandar pada hal-hal yang tak jelas. Saya harus menyebutnya apa, Kang? Apakah puisimu semacam saduran, atau rekonstruksi dari folklore yang beredar di tengah-tengah kita, masyarakat Sunda? Kau ambil serpihan cerita Sangkuriang, kau tumbangkan Tumang, lalu diam-diam membayangkan Dayang Sumbi sebenarnya muak bercinta dengan seekor anjing, dan diam-diam jatuh cinta pada anaknya yang terlanjur kita cap durhaka.

baca juga: Buku Melulu Pahlawan

Seperti Oedipus Complex, dan memang kau tampak sengaja membawa saya ke sana, ada teriakan pemberontakan yang terdengar serak sebab berada di ruang sempit yang sesak. Kadang sebagai bagian dari teriakan pemberontakan itu, kau maki para dewata sebagai pemabuk, atau kau ambil tradisi Semit, lalu mempermainkannya, kau bilang kita adalah turunan seorang pendosa yang mengarang fabel pertama, lalu taubat jadi pendoa (p. 8) Apa yang hendak kau sangkal, apakah kau anggap Dia yang kita sebut Tuhan cukup punya waktu luang untuk melayanimu bermain-main, Kang?

Kau juga membayangkan masa lalu sebagai tempat wisata, lalu kenangan mengalami komodifikasi dimana repih serpih yang kau ambil itu kau susun, hasilnya kau seperti tengah membangun sebuah karya seni instalasi, atau, jika itu terlalu luas untuk menjelaskan buku yang tak lebih tebal dari tempe ini, kau seperti bermain kolase, di mana cerita-cerita yang telah ada sebelumnya kau petik begitu saja, kau keringkan dan kau endapkan beberapa lama, lalu kau rangkai jadi suatu bentuk yang baru dan, simsalabim, jadilah buku puisi yang kadang dengan tergesa-gesa membawa pembacanya pergi ke beberapa tempat dalam jeda yang hanya sepersekian detik saja.

Visit kenangan memang mengasyikkan, Kang, terlebih jika yang menunggu di sana adalah hal-hal yang indah. Kita akan kembali ke sana sebagai perjalanan pulang yang menyenangkan. Tapi tidak buatmu, Kang, kau membawa dendam sejarah yang mempertanyakan ulang hal-hal yang kini terlanjur mapan. Kau teriak dan berontak, sungguh tak dapat saya bayangkan sebenarnya, bahwa di balik tubuhmu yang tampak ringkih dan jarang olahraga, tersimpan pertanyaan-pertanyaan besar yang akan banyak menguras energi ini.

baca juga: Peristiwa yang Terekam, Sejarah yang Tak Pernah Mati

Pertanyaan pertama yang mendasari seluruh isi buku puisi semi narasi ini adalah tentang dosa tadi, dan diam-diam kau ambil jawaban sendiri, kau bilang bahwa dosa lahir dari kisah yang direka para dewa saat mereka mabuk, dan hati mereka penuh cemburu gerakkan kutuk. (p. 43) Apa kau tengah terang-terangan menyangkal Tuhan? Tapi, saya rasa bukan demikian, kau hanya ingin bercanda dengan Tuhan, dan memberi alamat kedekatan lewat pernyataan-pernyataan yang sekilas tampak meledak-ledak.

Kau berkali-kali berusaha mengaburkan ukuran benar dan salah, ukuran dosa dan pahala, hanya demi membuka atau membongkar gerbang menuju pertanyaan berikutnya: tentang cinta. Di sini saya sebenarnya ingin memakimu, Kang. Buku ini susah-susah kau tulis hanya untuk menunjukkan bahwa kau seorang pecinta yang gagal. Bahkan untuk sekedar mengakuinya saja, Kang, kau begitu payah, hingga harus meminjam kisah Sangkuriang. Tapi di sini, saya yang masih sangat dangkal ini tentu akan dengan mudah kau sangkal. Saya tahu bahwa saya sangat prematur saat melompat pada simpulan ini, karenanya barangkali saya perlu membaca ulang bukan hanya belasan kali, bahkan ribuan kali lagi, agar jelas, agar tegas garis batas, mana kamu dan mana tulisanmu.

Saya kadang lupa bahwa kau seorang Freudian, Kang. Kenyataan itu akan menyeretmu pada pandangan dari banyak orang—termasuk saya, barangkali—bahwa seorang Freudian kadang menyamakan cinta dengan birahi. Oleh karenanya, buku yang ditulis dalam jumlah 69 halaman ini, angka yang jadi simbol salah satu gaya aktivitas anu, juga berisi banyak hal erotis. Hal-hal yang sebenarnya dapat kau tulis dengan cara lain yang lebih sopan. Tapi tentu saja tak perlu demikian, sebab walau bagaimana pun, cara yang ditempuh menunjukkan bentuk yang hendak direngkuh. Dan kau jelas menuju ke sana. Jadi, saran tadi bukan dalam rangka membatasi otoritasmu sebagai penulis Kang, anggap saja ini strategi marketing demi mewujudkan apa yang menjadi harapanmu bahwa buku ini akan dicatat dan mendapat tempat.

baca juga: Advocatus Diaboli

Kamu lupa atau sengaja tak peduli bahwa masyarakat kita terlalu relijius, Kang, dan jika mereka membaca bukumu ini, mereka akan menghakiminya sebagai buku cabul. Nah Kang, pada posisi ini bukumu terancam fatma MUI, dan karena di dalamnya kamu juga mengaduk-aduk banyak bentuk kepercayaan, saya bayangkan long march yang pernah dilakukan orang Ciamis beberapa waktu lalu tak perlu dilakukan berkilo-kilo dan berjilid-jilid ke Monas sana, sebab untuk membela agama mereka hanya perlu tumplek blek ke rumahmu dan membakar bukumu.

Kembali membahas bukumu, Kang. Sebenarnya saya hanya ingin fokus pada dua hal utama ini: dosa dan cinta. Kenapa demikian, sebab diam-diam kau mengimani dan mengamini bahwa tidak ada benar dan salah, tidak ada dosa dan pahala dalam cinta. Sebab katamu cinta adalah palindrom gagal, birahi yang kerap diringkus tertib transaksi (p. 28) Kalimat ini sebenarnya pengantar untuk menyampaikan kisah cinta Sangkuriang yang kamu reka ulang itu, tapi entah kenapa sekilas ini seperti curhatanmu, Kang. Kamu seperti sedang bilang bahwa ketika berulang kali ingin menyalurkan birahi, sebagai manifestasi cinta tentunya, kau kerap berhadapan dengan transaksi, dalam hal ini lembaga sosial, terutama agama, yang melulu dan selalu meminta tertib.

Tapi kau memang pemberontak sejati, Kang, kau tahu bahwa bertemu itu tak cukup jika hanya bertemu, itu akan jadi sesuatu yang menjemukan, maka di awal, ketika kau buka cerita Sangkuriang ini, kau bertanya untuk apa bertemu tanpa melakukan hal yang diinginkan? (p. 5) Hal-hal yang diinginkan itukah yang kau sebut cinta? Apakah cinta melulu tentang aktivitas itu? Duh, saya lupa bahwa saya masih di bawah umur, Kang dan tentu belum mendapat jawaban akan hal itu.

baca juga: Genosida Sebagai Buah dari Modernitas

Lalu kau kembali berkhotbah tentang cinta, kau bilang sebab cinta sejak zaman purba mengada tanpa catatan, menolak raib dalam pikiran. (p. 68) Apa karena cinta ada tanpa catatan, cinta tak perlu tertib, Kang? Maka kita bisa dengan cara apa saja dalam mengungkapkannya, termasuk dengan menempuh cara yang terlanjur disebut dosa. Lalu, seperti menjawab diri sendiri, kau tulis begini, mungkin hanya lewat dosa, kita bisa hargai tempat wisata (p. 62) O, tentu, Kang, tentu saja, hanya dengan sesuatu yang dianggap dosa, kita menciptakan kenangan, bukan?

Kini saya mengerti, Kang, kenapa anakmu ini tak kau beri nama. Kenapa buku ini bertajuk Hari Tanpa Nama. Itu sebenarnya alamat kegagalan, bahwa seluruh cerita yang kau susun dan kau bangun dalam bentuk puisi ini, sebenarnya tak pernah ada, hadir tapi segera tersingkir di kehidupan nyata, sebab tak tertib tadi, tak pernah tertib transaksi. Kau hanya meminjam cerita Sangkuriang untuk berteriak dengan suara serak di tengah-tengah dunia, yang karena aturannya terlalu banyak, menjadi demikian sempit dan sesak.

Sudahkah kau izin pada mereka, Kang, sudahkah kau izin? Pada Sangkuriang yang dibuat mengapung dan melambung saat dihidupkan lagi harapannya, pada Tumang yang dengan brutalnya kau buat tumbang, juga terutama pada Rarasati yang kau buat seolah-olah bejat, karena mau ditiduri anaknya? Tapi, saya suka Kang, saya sangat suka pikiran nakal begini, cerita yang sejak kecil saya terima sebagai wadah menyalurkan nilai oleh orang tua kita. Cerita yang seolah bendera permusuhan dari seorang bapak yang takut bersaing dengan kita—anaknya—dalam mendapatkan cinta mama. Meski Kang, meski dalam cerita yang berlangsung di hari-hari tanpa nama ini, hanya akan menjadi sajak purba yang tak akan pernah mati. (p. 69)

baca juga: Memahami Gimik Para Literature Snob

Terlalu banyak yang kau sampaikan dalam buku ini, Kang, hingga saya sempat bingung harus membahas apa. Bahkan hingga saya tulis curhatan ini pun, sebenarnya saya sadar bahwa saya tak mampu membahas apa-apa, saya hanya mengomentarinya, atau menyinyirinya, atau bahkan memakinya. Tapi tak masalah, bukan? Sebab saya sedang membuat dosa atas bukumu, saya sedang berbuat dosa di tempat wisata ini, demi menciptakan pengalaman, demi menciptakan kenangan dalam membaca bukumu, membacamu. []

  •  

Judul : Hari Tanpa Nama

Penulis : Cep Subhan KM

Penerbit : Tanda Baca

Tebal : xi + 69 hlm



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: