Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Hawa, Feminitas, dan Masa Depan

Oleh: Habiburrachman         Diposkan: 20 Feb 2020 Dibaca: 2607 kali


Dalam agama Abrahamik, kisah Hawa dan Adam menentukan sejarah umat manusia. Doktrin tentang “dosa asal” sampai diskusi tentang gender—dalam sebagian aspek—yang merujuk pada kisah mereka. Kisah mereka sempat mengisi masa remaja saya. Di sekolah guru gemar mendongengkannya dalam pelajaran Sejarah Islam dan di rumah, saya senang membacanya di serial komik kisah para Nabi, dan di pesantren, saya membacanya di kitab-kitab tafsir. 

Namun tidak ada pengalaman membaca yang membuat saya merasa dekat dengan Hawa dan Adam sampai bertemu novel Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya, karya Gioconda Belli yang diterjemahkan Fransiscus Pascaries dengan mengagumkan. Novel ini mengisahkan Hawa dan Adam dengan begitu hidup dan kaya detail. Adegan demi adegannya berlangsung seperti di depan mata. Saya ikut mengalami bingung menentukan pilihan seperti Adam ketika Hawa mengajaknya mendekati Pohon Kehidupan dan saya ikut tertekan seperti Hawa ketika Adam menyalahkannya karena mereka terusir dari surga.

Jadi, saya kira pengantar Belli yang mengatakan bahwa “Tanpa perlu menjadi religius, saya pikir perempuan pertama dan laki-laki pertama itu memang ada dan bahwa ini mungkin memang cerita mereka” adalah benar. Novel ini membuktikannya. 

baca juga: Rosa Luxemburg, Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi

Novel ini membuat saya belajar tentang awal mula yang asali dari manusia. Misalnya, bagaimana sejarah manusia berawal dari telapak tangan yang darinya menetas keajaiban dan kengerian. Perannya dalam mengubah wajah dunia sangat tidak berhingga. Penciptaan baju dan alat berburu atau memetik buah larangan dan menbunuh adalah sebagian contohnya. Dari novel ini saya juga mengkademati bagaimana Hawa dan Adam bergulat memaknai pengalaman mereka dan memahami segala sesuatu, yang kemudian menjadi pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat, dan yang tak jarang pula menjadi keragu-raguan atau pertanyaan tanpa ujung. Bahkan dari novel ini saya belajar sebuah tema klasik dalam teologi—tentang mana yang lebih berperan antara akal dan wahyu dalam konteks kebebasan dan takdir manusia.

Feminitas untuk Meretas Masa Depan

Salman Rushdie mengatakan bahwa novel ini merupakan sebuah parabel tentang zaman kita sendiri dan masa depan yang serba tak pasti. Mengikuti pendapatnya tersebut, saya mencermati beberapa poin yang bisa didaras. Dan hal itu menunjukkan betapa relevan novel pengarang Nikaragua ini untuk menghadapi masa depan kita sendiri. Poin tersebut antara lain: pertama, karakter mendasar dari Hawa dan Adam. Segala penggambaran tentang Hawa berasosiasi dengan tumbuh-tumbuhan dan alam, sementara Adam dengan binatang dan kekuatan fisik. Ketika menjalani hari-hari setelah terbuang dari Taman, sementara Adam berburu, Hawa mencari buah atau tanaman yang dapat mereka makan tanpa harus membunuh makhluk lain. Hawa pula yang pertama mengembangkan pengetahuan bercocok tanam.  Bahkan deskripsi tentang tubuh Hawa menggunakan metafor “laut”, “sarang”, dan “sumber mata air”.

Perhatikan bagaimana dialog Hawa ketika menstruasi pertama: “Aku tahu bahwa di dalam diriku ada lautan yang diisi dan dikosongkan oleh bulan.” Dan deskripsi berikut: “Hawa merasakan sarang kehidupan, sebuah mata air yang akan muncul dari diri perempuan itu untuk menyebar ke arah yang tak terduga.” (Hal. 74). Dan penjelasan ketika ia hamil: “Hawa takut laut dalam dirinya akan menenggelamkannya.” (Hal. 114). Itu berbeda dengan Adam yang lebih banyak membandingkan tubuhnya dengan hewan-hewan liar. Saat kali pertama berburu ia belajar dari kucing yang menerkam burung kecil dan dari Kain yang menerkam kelinci. Ketika Hawa hamil pun Adam berkata, “Aku pernah melihat hewan-hewan lain mengembung sepertimu juga, Hawa.” (Hal. 114).

baca juga: Kemiskinan, Identitas dan Senjata

Perbedaan asosiasi keduanya adalah perbedaan katakter. Hawa berwatak seperti tumbuhan dan alam: polos, tulus dan terbuka dalam menerima segala sesuatu. Ia tempat lelah dan luka pulang untuk disembuhkan, tempat yang tumbuh dan mekar menjadi masa depan, dan tempat energi ledakan besar semesta tersimpan. Sedangkan Adam seperti hewan liar: liat dan keras dan mengandung sifat rapuh. Adam adalah ia yang merasa harus berbuat lebih ganas di luar yang ia mampu untuk bisa bertahan hidup.

Perbedaan karakter tersebut berhubungan dengan poin kedua, yakni menyangkut bagaimana mereka mendapat pengetahuan. Dalam proses mendapat pengetahuan Adam cenderung tenang sementara Hawa cenderung meledak seperti gelombang laut. Adam mendapat pengetahuan dengan memperhatikan sekitarnya. Baik kala ia menjalani hari-hari di bumi yang banyak ia habiskan di luar goa ataupun kala ia di Taman sebelum Hawa tercipta. Ia melihat, mengamati, dan lantas mengingatnya. Dan itu yang ia katakan setiap Hawa bertanya kau tahu dari mana: “Aku melihatnya, Hawa.” Hawa memang lebih sering bertanya dan Adam kerap mencapai batas pengetahuannya setiap menghadapi pertanyaan Hawa. “Hari demi hari kita harus hidup dan belajar. Aku tak bisa menjawab semua pertanyaanmu,” kata Adam. (Hal. 85).

Hawa mendapat pengetahuan dengan menantang batas pengetahuannya sendiri. Ia tidak berhenti melihat yang tampak, ia menyelami lebih dalam ke tubuhnya, ke alam. Itu membuat Hawa berpikir menggunakan tubuhnya dan alam. Sehingga bahasa Hawa melampaui rasionalitas bahasa manusianya. Hanya saja cara Hawa memeroleh pengetahuan membuat Adam kerepotan dan bahkan mengantar terusirnya mereka dari surga, tetapi di sisi lain ini membuatnya memiliki kedalaman pengetahuan melebihi Adam dan bahkan membuatnya bisa melihat penampakan sejarah yang akan ia mulai.

baca juga: Mazhab Adiluhung, Kritik Sastra Supersonik, Putri Marino

Asosiasi dengan tumbuhan atau binatang dan perbedaan cara mendapat pengetahuan menunjukkan feminitas Hawa dan maskulinitas Adam. Dalam konsep seksuasi—proses internalisisai subjek ke tatanan simbolik—Lacan menyebut bahwa hasrat subjek terbelah ke dua logika berbeda, yakni hasrat feminin dan maskulin. Logika hasrat maskulin bekerja dengan menyangkal (disavowal) pengecualian yang menopang universalitasnya. Hasrat maskulin mengatakan bahwa “Semua angsa putih” dan ia tahu bahwa ada angsa tidak putih, tetapi ia menolak pengecualian tersebut. Logika ini menunjukkan bahwa subjek maskulin selalu mencari keutuhan, selalu bergerak untuk mencapai totalitas, dan menyangkal kekurangan pemanen (lack) yang mengkonstitusi dirinya dan bahwa kekurangan tersebut selamanya tak akan pernah tertutupi.

Sedangkan universalitas hasrat feminin bekerja dengan mengakomodasi pengecualiannya. Jadi, logikanya ialah “Tidak semua angsa berwarna putih”. Subjek feminin dengan begitu tidak pernah berada dalam totalitas, karena ia menampung kontradiksi-kontradiksi penyusun universalitasnya. Subjek feminin inilah, yang berada dalam “tidak semua”, yang tidak total, yang bisa mencapai keotentikan. Ia memiliki potensialitas melakukan perubahan radikal dan pembaruan demi pembaruan. Karena feminitas menolak final dan menerima kekurangan permanennya, alih-alih menyangkalnya. Ia selalu melampaui tatanan simbolik yang tak putus-putus melakukan upaya totalisasi terhadap subjek.

Melalui konsep Lacan tersebut saya menjadi mengerti alasan kenapa Hawa, dan bukan Adam, yang memetik buah pengetahuan; kenapa keingintahuan Hawa lebih besar; kenapa jawaban Adam selalu “Aku melihatnya, Hawa”; kenapa Adam yang lebih dekat dan patuh pada Elokim (representasi yang simbolik); kenapa Hawa yang sering menantangnya. Akhirnya, ini poin ketiga, menjadi jelas kenapa sejarah bermula dari Hawa.

baca juga: Estetika; dari dalam Sangkar ke Kamar Gelap

Novel ini memang menempatkan Hawa sebagai sentral yang berperan besar terhadap gerak sejarah. Dalam satu adegan di tepi air ia melihat masa depan anak-cucunya, di adegan lain ia memimpikannya, atau merasakannya sendiri dari gelombang yang bergerak dalam tubuhnya. Hawa juga yang menggambar di dinding goa untuk mengarsipkan perualangan mereka di bumi yang serba tak menentu. Bahkan selain itu, novel ini menempatkan Aklia ke dalam tugas yang diemban Hawa. Perhatikan perkataan Ular kepada Hawa:

“Lihatlah Aklia kecil. Masa lalu dan masa depan berlari bersamanya di pantai.”

“Apa maksudmu?”

“Ia kembali ke kepolosan, Hawa, kepolosan sebelum Firdaus, sesudah Firdaus. Sejarah melompat dari dirimu ke dirinya sekarang dan waktu yang panjang dan lambat akan segera dimulai.” (hal. 198-9).

Hawa Jawabannya

Saya tahu resiko reduktif pembacaan dalam tulisan ini. Tetapi, tiga poin tersebut adalah aspek berharga dari novel ini dan bisa membantu kita. Kalaulah memang novel ini parabel tentang zaman kita, saya pikir penting untuk mempertimbangkan feminitas Hawa, dan juga Aklia, dalam agenda menciptakan masa depan yang Firdaus. Di tengah krisis ekologi akibat eksploitasi kapitalisme—ini sistem yang maskulin—feminitas adalah jawaban untuk mengatasi krisis dengan memanfaatkan esensi sifat alam yang terkandung di dalamnya, dengan memanfaatkan potensialitasnya melampaui bahasa manusia untuk bisa berkomunikasi dengan alam. Di tengah ketidakpastian iklim politik global kita bisa memanfaatkan feminitas untuk mengakselerasi perubahan radikal. Feminitas memungkinkan untuk melampaui totalitas sistem kapitalisme. Logika universalitas hasrat feminin yang mengakomodasi kontradiksinya membuatnya histeria. Dan tak ada perubahan radikal, revolusi, tanpa histeria. Namun Hizkia Yosie Polimpung dalam Ontoantropologi: Fantasi Realisme Spekulatif Quentin Meillassoux mengingatakan bahwa sejauh ini potensi feminitas belum terelaborasi. Penyebabnya dua hal: subjek feminin terjebak dalam histerianya sendiri atau justru bergerak ke dalam logika maskulin.

baca juga: Seneca, Kawan Lama yang Hadir Kembali

Interpretasi ini tampak seperti terlalu jauh. Namun, ada interpretasi serupa terhadap kisah Hawa dan Adam di pertunjukan teater berjudul Khuldi (2016-2017). Di pentas tersebut Hawa representasi feminitas atau nafsu nabatiah dan Iblis representasi masukilinitas atau nafsu hewaniah. Yang satu mewakili pengetahuan organik yang berasal dari cinta, satunya mewaikili rasionalitas pencerahan yang melahirkan banyak tragedi dalam kehidupan sosial-politik kita. Keduanya berada di dalam diri Adam, representasi manusia, dan keduanya bertarung untuk saling merebut kendali atas Adam. Di pentas tersebut Hawa adalah jawaban untuk mengatasi berbagai fenomena sosial.

Arkian, saya sadar akan keterbatasan-keterbatasan pembacaan saya ketika hanya bertolak untuk mengambil hikmah demi menghadapi masa depan kita sendiri. Saya melewatkan banyak kekayaan novel ini, seperti bagaimana terciptanya pembagian peran Hawa dan Adam sebagai keluarga, bagaimana Tuhan berbicara dengan mereka, dan seterusnya. Di sini saya hanya ingin menekankan bahwa dua poin mendasar tentang karkater Hawa dan caranya mendapat pengetahuan adalah pelajaran tentang bagaimana mengaktifkan feminitas, sehingga ia menggerakkan sejarah. Saya rasa membaca novel ini tidak bisa berhenti pada ketakjuban terhadap jalinan gambarnya yang puitis. Tetapi, mestilah menggali pemikiran tentang bagaimana feminitas bisa tidak membiarkan yang maskulin berbuat lebih ganas mengarungi masa depan yang serba belum serba pasti. Novel ini betul-betul kaya dan saya takzim pada Belli.

 

Judul: Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya

Penulis: Gioconda Belli

Penerjemah: Fransiscus Pascaries

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: i-xii + 220 hlm

 

 

Rujukan:
Robertus Robert, “Subyek atau Mengapa Perempuan Tidak Eksis”, dalam Subjek yang Dikekang, kumpulan makalah diskusi salihara.
Zuhdi Sang, “Khuldi dan Tafsir Kegagalan Sosial Politik”, diakses dari https://lpmarena.com/2016/12/04/khuldi-dan-tafsir-kegagalan-sosial-politik/


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: