Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Heavy Metal dan Identitas Kultural Kaum Muda

Oleh: Nurrochman         Diposkan: 13 Jun 2019 Dibaca: 1685 kali


Sepanjang sejarah, musik nyaris selalu diidentikkan dengan keindahan. Namun, identifikasi musik sebagai representasi keindahan itu tampaknya tidak berlaku bagi heavy metal. Heavy metal merupakan salah satu percabangan dari musik metal (genre musik yang memadukan unsur rock, blues dan psychodelic).

Heavy metal dicirikan dengan tempo musik yang tinggi, distorsi gitar yang kasar, ketukan drum super cepat dan karakter vokal yang berat. Di awal kemunculannya, heavy metal sempat dianggap bukan musik. Tersebab, secara musikal heavy metal terbilang juah dari representasi keindahan. Lester Bangs, kritikus musik legendaris bahkan berseloroh, “heavy metal is nothing more than a bunch of voice”.

Pandangan  miring pada heavy metal tidak hanya datang dari kritikus musik, namun dari tokoh sosial, politik dan agama. Para tokoh agama menyebut heavy metal sebagai musik iblis, lantaran lirik-liriknya yang bermuatan isu satanisme, ateisme, okultisme dan anti-Tuhan. Pendek kata, heavy metal adalah musik yang kontroversial.

baca juga: Ralat dan Telat

Tidak ada sejarah pasti mengenai asal-usul kemunculan heavy metal. Halfin dan Manikowski sebagaimana dituturkan Deena Weinstein dalam Heavy Metal: The Music and Its Subculture berdebat mengenai asal-usul heavy metal. Halfin menganggap heavy metal berakar dari grup band Led Zeppelin. Semetara Manikowski menganggap Black Sabbath-lah yang lebih cocok dan pantas disebut sebagai pelatak dasar heavy metal.

Istilah heavy metal pertama kali dipopulerkan oleh Lester Bangs dalam artikelnya untuk majalah Creem dan Rolling Stone. Kala itu, Bangs memakai istilah heavy metal untuk menyebut aliran musik yang dimainkan oleh Black Sabbath. Bangs mengambil istilah itu dari penggalan lirik lagu Steppenwolf, berjudul “A Born to be Wild” yang merupakan lagu tema film Easy Rider tahun 1968.

Pada tahap selanjutnya, heavy metal berevolusi tidak hanya sekadar sebagai genre musik rock. Lebih dari itu, heavy metal tumbuh menjadi subkultur yang memiliki identitas, ciri dan karakter yang khas yang membedakannya dari subkultur lain.

baca juga: Mudik Bukan Sembarang Mudik

Di Amerika Serikat dan Eropa, perkembangan kultur heavy metal disambut kepanikan moral masyarakat, utamanya golongan konservatif-tua. Spirit anti kemapanan dan kredo sex, drug, rock n roll yang diimani metalhead (sebutan untuk penggemar heavy metal) ditengarai sebagai ancaman bagi tatanan sosial, politik, agama yang mapan.

Perlawanan Simbolik

Globalisasi budaya populer yang terjadi di awal era 1990-an membuat subkultur heavy metal berkembang ke seluruh dunia. Termasuk ke sejumlah negara dunia ketiga, tidak terkecuali Indonesia. Buku berjudul Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an hasil tandem dua penulis, Yuka Dian Narendra dan Gita Widya Laksmini mencoba menghadirkan (kembali) pengalaman anak muda Indonesia menimati subkultur heavy metal.

Menjadi anak muda, baik secara psikologis maupun sosiologis selalu tidak mudah. Masa muda adalah fase penting bagi pembentukan identitas. Jika masa remaja, seseorang disibukkan dengan pencarian identitas, maka masa muda adalah fase di mana pembentukan identitas dengan melibatkan banyak aspek. Dalam tataran sosiologi, identitas dapat di(ter)bentuk salah satunya oleh mendengarkan musik.

baca juga: Religiusitas Si Kepala Suku

Barangkali, banyak dari kita yang mungkin kadung skeptis; apakah musik mampu menginspirasi terbentuknya identitas, apalagi menjadi latar terjadinya transformasi sosial? Buku ini menjawab skeptisisme tersebut. Mengutip pemikiran sejumlah pakar sosiologi dan psikologi, Yuka dan Gita menjelaskan bahwa mendengar musik bukanlah aktivitas yang bebas nilai.

Mendengarkan musik adalah aktivitas kompleks yang melibatkan unsur biologis, psikologis juga sosiologis. Secara biologis, gelombang suara ditangkap oleh telinga akan menggetarkan membran timfani yang kemudian diperkuat oleh tulang-tulang telinga sehingga mampu menggetarkan cairan di dalam rumah siput lalu menstimulasi sel-sel rambut yang mengantarkan pesan ke otak (hlm. 30).

Setelahnya, terjadilah aktivitas memaknai bebunyian. Aktivitas pemaknaan tentu mustahil berdiri sendiri, alih-alih berkelindan dengan aspek psikologis dan sosiologis yang melingkupi si pendengar. Artinya, ketika seseorang mendengarkan musik, sejatinya ia tengah mengonstruksi dirinya ke dalam jejaring realitas sosial, budaya dan politik yang pada akhirnya membangkitkan kesadaran akan identitas dirinya. Pada titik inilah, musik memainkan perannya sebagai penanda identitas.

baca juga: Dongeng yang Tak Melulu tentang Pesan Moral

Musik heavy metal diyakini Dian dan Gita sebagai salah satu unsur penting yang membentuk identitas kultural anak muda Indonesia di era 1980-an. Adaptasi subkultur heavy metal di kalangan anak muda Indonesia era 80-an dilatari oleh setidaknya tiga alasan.

Pertama, meski berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia tidak sepenuhnya melarang penyebaran subkultur heavy metal. Berbeda dengan Sukarno yang cenderung anti-Barat, Suharto justru menjadikan Barat sebagai kiblat modernitas dan kemajuan. Menjadi wajar jika politik-kebudayaan rezim Suharto sangat permisif pada penyebaran budaya populer Barat, di mana salah satunya adalah heavy metal.

Rilisan album band metal luar negeri, meski sebagian di antaranya bukan rilisan orisinal, dengan mudah dapat ditemukan di pasar. Begitu pula dengan artefak-artefak heavy metal lain seperti kaus, dan poster. Alhasil, konsumsi heavy metal di kalangan anak muda pun menjadi semacam gaya hidup.

baca juga: Samuel Huntington di Sela Timur dan Barat

Kedua, bagi anak muda generasi 80-an heavy metal mewakiliki semangat pemberontakan dan anti-kemapanan. Menjadi anak muda di bawah rezim otoriter yang mengontrol penuh kebebasan warganegaranya, bahkan sampai ke urusan paling privat, adalah hal yang tidak mudah. Melawan dengan terbuka otoritarianisme-militerisme rezim Orde Baru juga bukan pilihan rasional. Perlawanan kultural adalah jalan paling memungkinkan. Di sinilah konsumsi heavy metal menjadi lebih dari sekedar kesenangan (leisure), namun lebih mengarah pada sesuatu yang ideologis.

Mendegar musik cadas, berdandan laiknya rockstar hingga menggondrongkan rambut, adalah perlawanan simbolik atas norma sosial yang dilembagakan oleh Orde Baru. Mungkin terlalu berlebihan untuk menyebut bahwa Reformasi 1998 berhutang pada subkultur heavy metal. Namun, bahwa Reformasi diinisiasi oleh kaum muda dan mahasiswa yang akrab dengan subkultur heavy metal itu agaknya fakta yang tidak dapat dinafikan.

Negosiasi Identitas

Konsumsi metal yang dilakukan anak muda Indonesia era 80-an adalah upaya untuk mengidentifikasi diri. Di satu sisi, mereka berupaya menikmati masa muda dengan menjadi bagian dari tren budaya populer global. Namun, di sisi lain, bagaimanapun juga mereka tetap merupakan generasi yang hidup di bawah narasi besar yang diciptakan oleh rezim Orde Baru. Negosiasi identitas inilah yang menjadikan perkembangan subkultur heavy metal di Indonesia cenderung berbeda dengan apa yang mengemuka di tanah asalnya yakni AS dan Eropa.

baca juga: Kita Sama Resahnya

Di Eropa, tema-tema seputar satanisme, okultisme sampai anti-kristus menjadi subject matter heavy metal. Di Indonesia, tema-tema tersebut diadaptasi ke dalam lingkup yang lebih kontekstual, yakni kritik terhadap persoalan sosial-politik. Heavy metal menjadi semacam ruang eskapistik kaum muda atas corak pemerintahan Orde Baru yang represif dan tatanan sosial masyarakat yang serba normatif. Keterasingan dan kemarahan khas anak muda itu mendapat representasinya dalam (konsumsi) heavy metal.

Upaya menegosiasikan subject matter heavy metal dengan realitas sosial-politik juga terjadi di kawasan Timur Tengah. Di negara-negara Islam-Arab, metalhead berhadapan dengan setidaknya dua otoritas, yakni politik dan keagamaan. Bagi anak muda di negara-negara Arab-Islam, subkultur heavy metal menjadi semacam antidote bagi praktik politik otokratis dan corak keberagamaan yang fundamentalistik.

Harus diakui bahwa buku ini masih menyisakan celah kelemahan di sana-sini. Di satu sisi, banyak sekali informasi penting yang sayangnya tersaji secara sepotong-sepotong dan kurang lengkap. Di sisi lain, banyak hal yang seharusnya cukup disimpan rapi di folder Yuka dan Gita justru dimasukkan dalam buku ini. Salah satunya adalah bab “Data dan Perolehan Data” yang berisi profil informan dan metode penelitian. Tindakan itu tentu menggemaskan karena saya seolah tengah membaca bab pertama skripsi. Ada kesan, ihwal teknis penelitian itu dimasukkan demi menambah jumlah halaman buku.

baca juga: Perlawanan Mangir: Jalan Pedang Menentang Mataram

Meski demikian, buku ini nisbi berhasil menjelaskan bagaimana konsumsi heavy metal menjadi subkultur yang berpengaruh pada pembentukan identitas anak muda Indonesia era 1980-an. Lebih dari itu, di tengah lesunya publikasi ilmiah-populer terkait subkultur anak muda Indonesia, kehadiran buku ini sangat layak dirayakan.

  •  

Judul : Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an

Penulis : Yuka Dian Narendra dan Gita Widya Laksmini

Penerbit : Octopus

Tebal : xxvii + 228

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: