Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Hidup Sehat ala Murakami, Takdir, dan Pramoedya

Oleh: Widyanuri Eko Putra         Diposkan: 13 Oct 2018 Dibaca: 1984 kali


Menulis adalah aktivitas yang gampang menyedot energi. Otak diajak bekerja dan bersamaan dengan itu tubuh memerlukan kondisi dan suasana yang tenang. Seseorang yang menulis akan berada dalam posisi tetap/diam selama berjam-jam. Aktifitas ini tentu saja bikin tubuh kurang gerak. Menulis seringkali secara jasmani lebih dekat dengan hal-hal buruk ketimbang yang baik.

Adalah Haruki Murakami novelis yang secara tuntas mengisahkan kisah kisut selama masa awal ia menulis novel di memoarnya What I Talk About Mhen I Talk About Running (2016). Murakami tak sejak awal masa mudanya berkeputusan jadi novelis. Membuka usaha bar tengah ia tekuni ketika keinginan menulis novel pelan-pelan tak bisa ia bendung. Rutinitas bekerja di bar mengharuskannya melayani pelanggan dari sore hingga malam tinggal separuh.

Membaca buku dan menulis baru bisa ia kerjakan setelah bar tutup. Kerja berhuruf ia penuhi sembari bertarung dengan kondisi tubuh yang lelah. Merokok jadi karib agar otak tetap konsentrasi dan mata tak gampang mengantuk. Pembaca sekalian boleh tak percaya, enam puluh batang rokok sehari biasa Murakami tandaskan selama ia sibuk membaca dan menulis.

baca juga: Terjebak di Labirin (Sejarah) Sebuah Kota

Malam-malam lelah seringkali terlewatkan bersama asap rokok yang mengepul pekat dan mata sembab tersebab begadang membaca-menulis sampai pagi. Tidur baru ia nikmati saat matahari mulai menembus kaca jendela dan menyuguhkan terang yang bikin kantuk kian menguasai. Dalam situasi semacam inilah lahir novel Kaze no Uta o Kike yang terbit dalam bahasa Indonesia berjudul Dengarlah Nyanyian Angin.

Kebiasaan itu membuatnya berpikir ulang tentang jalan hidup yang kini tengah ia tekuni. Jika terus-terusan berkhusuk masyuk dengan kebiasaan semacam itu, menulis lebih tepat diartikan sebagai cara cepat untuk terserang stroke dan mati muda. Dan keputusan berisiko besar itu pun akhirnya Haruki ambil.

Pada mulanya Murakami memutuskan berhenti merokok. Keputusan ini jadi simbol perpisahan dengan kehidupan yang Murakami jalani sebelumnya. Murakami menutup usaha bar yang ia tekuni lantas memilih sepenuh waktu berjibaku sebagai penulis. Selepas berhenti bekerja, menjaga pola hidup sehat jadi prioritas utama. Sebelum jam 10 malam ia bersiap tidur dan bangun tak lebih dari jam 5 pagi.

baca juga: Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

Belum cukup, demi menjaga kesehatannya agar stamina menulis tetap terjaga Murakami memilih menekuni hobi berlari. Pilihan ini rasional karena lari adalah olahraga paling sederhana. “Untuk menghadapi sesuatu yang tidak sehat, seseorang perlu menjadi sesehat mungkin,” ucap Murakami. Seorang pengarang harus sehat karena kerja menulis sangat ditentukan oleh kesehatan tubuh. Untuk itu bukan hal aneh jika tiap-tiap pengarang mesti punya jurus jitu dalam menjaga kebugaran dan kesehatannya agar ritual menulis tetap langgeng dan produktif.

Novelis dan budayawan Sutan Takdir Alisjahbana punya resep khusus agar ingatannya tetap cermat meski tubuh mulai ringkih dan rambut di kepala mulai memutih dan rontok. Semasa muda, Takdir itu seniman galak dan berpendirian. Di saat ia berumur 81 tahun, ingatannya masih panjang dan ia pun masih sregep menulis novel secara manual.

Ketahanan tubuh yang kokoh itu ia peroleh berkat kebiasaan jalan kaki di pagi hari, bepergian sendirian ke tempat sepi agar beroleh ide menulis, serta rutin mengonsumsi jeruk peras. Tentang kebiasaan yang saya belakangan, Takdir mengaku sering beroleh jeruk kesukaannya di Bali yang ia kunjung tiap bulan. Tiap datang ke Bali, Takdir membawa majalah bekas untuk ditukar dengan jeruk peras. Sebanyak 25 kilogram jeruk tandas dalam sebulan.

baca juga: Masa: Bersastra dan Berpolitik

“Saya tidak punya makanan khusus. Hampir semua makanan saya mau. Tapi, untuk sari buah, harus setiap hari minum,” aku pengarang novel Grotta Azzura dan Layar Terkembang ini (Senang, No.06/ 25 Agustus – 7 September 1989). Bisa kita hitung rata-rata Takdir menyeruput rata-rata 2,5 kilogram jeruk peras tiap hari. Minuman ini rahasia Takdir waras dan bergas di usia tua.

Tua memang persoalan serius bagi pengarang tapi bukan sesuatu yang tak bisa disiapkan jauh-jauh hari. Di masa tua pengarang memang punya dua tantangan: sehat dan terjaga ingatannya. Pramoedya Ananta Toer punya resep tersendiri agar kesehatannya terjaga sampai tua. Kita tahu, Pramoedya gemar bekerja dan bakar-bakar sampah. Itu ia anggap sebagai kebiasaan sehari-hari agar tubuh tak gampang lungkrah. Bahkan dalam dokumentasi video yang pernah diterbitkan oleh Yayasan Lontar, saat hendak mandi pun Pramoedya terbiasa melakukan peregangan otot-otot tubuh.

Selain itu, Pramoedya punya beberapa tips agar tetap sehat: minum air putih tiap bangun tidur, makan bawang putih. Makan bawang putih menjaga agar tak gampang terserang darah tinggi sekaligus untuk daya tahan tubuh. Untuk kesehatan perut, minum air putih setiap pagi akan membuat perut nyaman dan racun-racun lekas terkeluarkan.

Resep itu Pramoedya peroleh saat ia dibuang ke Pulau Buru semasa Orde Baru. “Jadi diajari teman-teman: begitu bangun minum air putih. Setelah itu perut segala nggak bertingkah. Air putih biasa aja,” kenang Pramoedya (Sirait, 2011). Saran ini secuplik saja dari kebiasaan Pramoedya dalam menjaga tubuh tetap sehat. Bahkan di masa tuanya, saat tubuh mulai ringkih, ia percaya menenggak sesloki anggur merah bisa bikin tidur nyenyak. 

Cara-cara itu upaya agar tubuh sehat sehingga produktivitas membaca dan menulis tahan lama. Kita pun diingatkan: membaca dan menulis memerlukan pengorbanan besar. Saat tubuh terdera sakit kepala, kaki kesemutan, bokong panas, dan mata mulai rabun, membaca dan menulis pun jadi terganggu.[]

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: