Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Ibu, Pengembara, dan Puisi Lainnya

Oleh: Jourdan Sabiq M.         Diposkan: 16 Feb 2019 Dibaca: 2009 kali


Pengembara 1

 

lagilagi, hujan

beranda hampa, kursi kosong, meja berdebu, jendela menganga, pintu terbuka, lantai licin, asbak sesak, cangkir melongo, jalanan lengang

 

selokan tersumbat, air naik ke latar mengunjungi selasar mencumbui mata kaki,

sampahsampah bertebar, atap bumi berdebar, daun-daun menggelepar, pohon terkapar, tiang listrik berpijar

 

lagilagi,

aku sedang bersitatap denganmu, dan kau tampak gugup, tapi tak benarbenar gugup, hanya tanganku yang merangkup, atau wajahku yang bernafsu, sementara yang terjadi, tak ada tubuh lain selain tubuhku sendiri

 

lagilagi,

kau melemparku,ke dalam situasi genting, di mana hanya ada candu dan ragu, sedang kopiku membeku dan aku terjebak di dalamnya

 

lagilagi, aku kau tawan

siang kau penjarakan, bintang kau sulam jadi awan—jadi mendung, lalu hujan, lagilagi hujan, lagilagi aku basah—sendirian

 

Lor Kali, 2019

 

Pengembara 2

 

waktu menghajar dan memecah diriku

untuk menjumpaimu, tak ada ujung

serupa pengemis yang bekerja

di bawah tangan preman

 

aku tak berharap bertemu

dengan pecahanpecahan diriku

aku takut kembali menjadi diriku semula

sebab, tak ada kau

di sana

 

Ourongourong, 2019

 

baca juga: Lorong

 

Pengembara 3

 

pengembaraanku tiba pada perpustakaan di balik kacamatamu, kudapati banyak rak dengan bukubuku usang, tembok yang tersusun dari debu masa lalu, serta pintu dengan engsel berderit; membuatku jadi penakut dan gugup menjerit

 

katamu ‘tak ada siapasiapa di sana’. namun, banyak buku bercerita tentang orangorang yang memenggal kepalanya, seakan mereka berbisik untuk memenggal kepalaku pula

 

katamu ‘di dalam sana adalah tempat paling sepi’. tapi, bagaimana mungkin?. keterpurukan, kepiluan, kekecewaan, ketakutan; berseliwaran menangis, memaksa untuk ditulis

 

di balik kacamatamu, kudapati perpustakaan beratap mendung dan berpagar hujan, tak ada listrik, lampu hanya sebagai hiasan, tapi tak pernah gelap, sebab petir begitu padat berkilat

 

Ourongourong, 2019

 

Pengembara 4

 

di depan kafe itu,

aku seperti bayangbayang berlarian di atas pagar

bingung mencari tuan

 

kemanakah engkau?

yang langkahnya selalu kuikuti

yang matanya nyalang bersinar

yang bibirnya selalu kutaati sepenuh rindu

 

sebuah cangkir kosong menatapku

membujuk diriku tersendam dan mengendap

entah sebagai ampas

atau sisa minuman yang lekas dibuang

 

Penjara Suci, 2019

 

baca juga: Kotak Pandora Orang-orang Malang

 

Pengembara 5

 

Kekasih,

kepadamu aku kembali sebagai pengembara

yang lupa

membawa bekal dari istrinya

 

Kau,

rumah paling nyaman

pilang paling tinggi bagi doadoa

untuk dilangitkan

 

padamu,

segala sepi kelabu

bahkan debudebu di baju,

seketika lucut tanpa bau

 

air matamu,

mata air tempatku menyucikan rindu

dan hanya di dadamu

ruang lapang untukku mengarah pulang

 

Ourongourong, 2019

 

Aku Masih Ingat

 

ketika tanganmu melambai—membelai keinginanku

untuk menyeduh kopi

aku datang dengan berbagai kesedihan

 

bijibiji kopi yang kau takar

kutukar dengan kenangan

aku ingin kau melumatnya, lalu dengan panas yang cukup gemas

kuseduh kenangan itu untuk kita nikmati bersama

 

hanya ada satu cangkir di meja

kita bergantian mengecap dan mengecupnya

tak kutemukan rasa pahit di sana

tak kutemukan lagi masa lalu, bahkan diriku

 

sekarang masihkah kopi itu?

setidaknya cangkir yang kita gunakan

 

kau tahu?

saat ini aku seperti ampas yang rindu untuk kau sesap

serupa cangkir yang di dalamnya menggenang kerinduan

 

Ourongourong, 2019

 

baca juga: Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

 

Gelang

 

guratlah lengkung termanis di bibirmu, malam terlalu lelah melelehkan muramnya di kernyit keningmu

 

lalu apa yang kau sanggah?

bukankah gelap sudah menenggelamkanmu dengan sebegitu kejam?

 

tak ada hujan di beranda, mendung pamit minta pulang diantar kenangan, tak ada petir yang membuat ketarketir, kilatnya khawatir keheninganmu akan mencair

 

tak perlu risau padaku, aku telah menjelma wujud baru, menjadi sunyi, menjadi diam, menjadi selingkar gelang yang tersemat di tanganmu.

menjadi hening, menjadi khusyuk, menjadi granula yang kau pilin pada tiaptiap wiridmu. aku akan menemuimu dalam  bentukbentuk lain yang itu bukan aku

 

kini saatnya pipimu menjadi langit; tempat bianglala mengimbit. dan sebagai hujan akulah perlambang sakit, yang lebih dulu berselingkit di paritparit, sebelum ronamu terbit

 

Manisku,

bagian terbaik dari penjelmaanku adalah menjadi sebait tanda,

yang ketika kau baca hatimu terjaga

 

Lor Kali, 2019

 

Ibu

 

kenangan ajari aku mencintainya

agar rindu ini menemukan ibu

dan terpelihara

 

Penjara suci, 2019

 

Beruntung

 

beruntung kursi itu masih betah memangku tubuh

yang tersusun dari sepi

dengan mata binar—memandangkau

 

hujan begitu pandai menyembunyikan suaranya

yang hanya bersuar satu nama

namakau

 

sebuah nama yang dicitacitakan

menjadi satu buku—penuh

dan menghuni

kesepiannya—seluruh

 

dengan sekuat rindu, digalinya liang

yang berlubang di dadanya sangat dalam

agar sewaktuwaktu kau datang,

dengan mudah namanya dibenam

dan menanam nama baru—tak lain, namakau

 

hujan semakin deras, rindu pun semakin gemas

meremas sepi yang terbuat dari arak

memabukkan seisi benak—tak lelah

menjangkau kau yang semakin berjarak

 

Ourongourong, 2019

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: