Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Ibu yang Selalu Berdandan Sebelum Tidur Ibuku di Surga Republish

Ibuku di Surga

Koesala Soebagyo Toer
Stock: Out of Stock

Kategori : Novel dan Sastra

Ibuku di Surga merupakan salah satu cerita yang ditulis oleh Koesalah Soebagyo Toer ketika mendekam dalam penjara Orde Baru di Salemba, Jakarta (1968-1978), di samping cerita Adik Tenara/Adhine Tentara (1996) yang terbit dalam bahasa Indonesia dan Jawa.

Novel ini melukiskan zaman pancaroba akhir penjajahan Belanda dan awal penjajahan Jepang berdasarkan sudut pandang seorang anak berusia 7-8 tahun. Sudut pandang anak-anak adalah sudut pandang filsuf. Dengan penginderaan, perasaan, dan pemikiran yang masih jernih dan polos, ia mengamati sekitar, mempertanyakannya, dan menyimpulkan masalah-masalah yang terjadi, meskipun tentu tidak seperti rumusan orang dewasa. Meskipun demikian, justru sudut pandang anak-anak merupakan sudut pandang yang menarik. Dengan membaca buku ini, setidaknya pembaca dihadapkan pada potret “alternatif” sebuah masyarakat dan sejarah Indonesia. 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
ISBN : Soesilo Toer
Ketebalan : xii + 168
Dimensi : 14x20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Pataba Press
Penulis: Koesala Soebagyo Toer
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by