Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Ideologi dan Tanda Tanya yang Tak Pernah Cukup

Oleh: Abdullah         Diposkan: 07 Nov 2018 Dibaca: 1487 kali


McLellan menghasut saya. Dan itu tak cuma sekali.

McLellan, dalam bukunya yang berjudul Ideology (diterjemahkan oleh Muhammad Syukri dan diterbitkan oleh penerbit Kreasi Wacana ini dengan judul “Ideologi Tanpa Akhir”), membuka karyanya dengan tesis yang provokatif. “Dari semua konsep yang ada di dalam ilmu sosial, ideologi adalah konsep yang paling kabur.” karya ini pertama kali terbit pada tahun 1995; hampir empat abad setelah Novum Organum Scientiarum (1620) yang kesohor dengan konsep Idol dan selalu jadi rujukan awal dalam setiap upaya untuk mengurai term ideologi itu terbit; satu setengah abad setelah Marx dan Engels bermetafor soal ideologi yang tak ubah camera obscura (Die deutsche Ideologie; 1846) dan hendak mengacak-acak sifat reflektif(-ideologis) filsafat dan ilmu pengetahuan yang sebelumnya telah dirancang Kant dan Hegel yang dibangun di atas asumsi bahwa ide dan tindakan tak sepenuhnya berpaut; lebih dari setengah abad setelah Ideologie und Utopie (1929) mahakarya Karl Manheim terbit dan jadi basis paradigmatik Sosiologi Pengetahuan; beberapa tahun setelah orang-orang macam Lukacs, Gramsci dan Althusser, mengekspos ideologi dalam pelbagai domain dan arena kekuasaan. Kelirukah McLellan?

Kita sudah terbiasa percaya sebelum benar-benar paham. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang sesuatu, kita katakan sesuatu sebagai sesuatu. Di sini, juga yang harus kita perhatikan betul, nalar memahami berbeda dengan nalar mempercayai. Keduanya tak sama – maka tak dapat dibanding-bandingkan. Keduanya jadi bagian yang tak dapat hilang di dalam diri seorang manusia, yang secara diam-diam mampu mengikat identitas dan jadi suplemen untuk daya otonom individu. Keduanya tak ubah pendulum yang bergayut dalam setiap pengambilan tindakan. Melalui tindakan dan pengalaman, dengan atau tanpa keyakinan dan pemahaman, kesadaran terbentuk. Barangkali itulah yang hendak disampaikan McLellan.

baca juga: Stories, Caption, dan Smartphone Culture

Seperti halnya pengetahuan, kesadaran juga rentan oleh pelbagai distorsi. Kesadaran, ketika ia diartikulasikan, senantiasa berkaitan dengan keyakinan. Yang kita katakan benar lantas ialah kebenaran: kesadaran itu membentuk – yang kita anggap suluh dalam hidup, yang kita perjuangkan dengan penuh kegetiran dan rasa was-was – suatu sikap dan pikiran untuk “menjadi benar”. Itulah mengapa McLellan mencantumkan Eagleton: dalam melacak bagaimana konsep kuasa dan pengetahuan yang kepadanya kesadaran dapat tersibak dan kebenaran mungkin terkuak (walau arti dan bentuk tetap saja tak pasti) bagai talu. Ibarat suara, ideologi berakhir dengan gema, bunyi samar-samar yang suaranya tak mungkin utuh ketika sampai di telinga. Sebuah terminologi yang menolak jadi baku akibat sifat abstraksinya yang tinggi sehingga dapat meringkus sejarah umat manusia dalam satu kata: penindasan. Itu pula yang kemudian dipersoalkan McLellan.

Lantas apa yang bisa kita pahami dari sesuatu yang kabur itu? Saya menangkap McLellan seperti punya jawaban lain. Menurutnya, ideologi boleh jadi menipu dalam ketidakjelasannya namun keberpihakan adalah mutlak. Ia merupakan sesuatu yang tidak bisa tidak pasti terungkap.

Itulah sebabnya mempermasalahkan kesadaran berarti juga mempermasalahkan sikap (politis). Kesadaran bukanlah kesadaran jika dilihat dari sikap yang berseberangan dari yang melihat; kesadaran adalah kesadaran jika dilihat dari sudut pandang aktor yang berada dalam satu kelompok politis yang sama. Meski sebagai sebuah term ideologi mendapatkan bentuknya pada konsep "Idol" milik Francis Bacon, disempurnakan oleh Kant, berakhir naas di tangan Marx, dielaborasi dengan apik oleh Lukacs, populer melalui Althusser, ia tetap saja bukan perihal yang memiliki makna spesifik. Agak mirip dengan yang dituturkan McLellan kemudian, “bagaimana bisa kita mempersoalkan ideologi tanpa menilainya dalam kategori dan nilai-nilai ideologis tertentu?”

baca juga: “Rahim Hangat” Bukan Pencapaian Feminisme!

Sebagai sebuah Idea, ideologi mustahil ada tanpa melibatkan kerangka ideologis tertentu sebagai pembanding. Kita mungkin akan bertanya: masih relevankah ideologi jadi label untuk ide atau pemikiran tertentu? McLellan sendiri seolah ingin mempermasalahkan istilah ini dengan memunculkan persoalan spesifik dalam reproduksi wacana ilmu pengetahuan di tingkat global – secara terang-terangan ia mengolok-olok karya Francis Fukuyama (The End of History) dan gejala posmodernisme dalam dua bab terakhir buku ini.

Bagi McLellan, menyatakan sebuah ideologi sudah berakhir adalah argumen yang – kalau bukan ceroboh – terlalu dibuat-buat. Posmodernisme, di satu sisi, telanjur jadi pemikiran “pasca segala sesuatu”, tak ada isi, lebih mirip sebuah merk sabun ketimbang aliran pemikiran yang memiliki basis epistemologi dan metodologi yang jelas. Orang-orang seperti Fukuyama ini, dalam pandangan McLellan, adalah manifestasi subtil yang menjangkiti setiap intelektual masa kini yang selalu tampak serius membahas setiap ihwal dalam “kekosongan yang selalu berputar.”

Saya sendiri rasa-rasanya sulit untuk tidak setuju dengan McLellan. Jika pembahasan mengenai kebenaran ideologi pada level struktur adalah sebuah keharusan untuk mempersoalkan kebenaran pada level individu, bukankah justru mengakibatkan ideologi tak mungkin diperbincangkan? Bagaimana mungkin seorang terdakwa (bukan tersangka) dapat bicara soal keadilan di dalam sebuah peradilannya sendiri?

Sejak lahirnya filsafat abad ke-6 SM hingga ilmu pengetahuan memisahkan diri darinya, sejak zaman Yunani Kuno sampai postmodernisme eksis kini, bagi saya, tak ada yang memaparkan kebenaran secara lebih jelas ketimbang Aristoteles: “Konsekuensi yang sering dicemoohkan dari pendapat-pendapat tersebut adalah bahwa pendapat-pendapat itu menghancurkan diri sendiri. Karena dengan menyatakan bahwa semua benar, kita menyatakan kebenaran pada pernyataan yang sebaliknya, dan dengan demikian menyatakan pula kesalahan tesis kita sendiri (karena pernyataan yang sebaliknya itu tidak mengakui bahwa pendapat kita mungkin benar). Dan jika dikatakan bahwa semua salah, pernyataan itu sendiri tentu juga salah. Jika dinyatakan bahwa yang salah hanyalah pernyataan yang berlawanan dengan pernyataan kita, atau katakanlah yang benar hanya pernyataan kita, kita toh terpaksa mengakui bahwa penilaian yang benar maupun yang salah itu jumlahnya tidak terbatas. Karena orang yang mengeluarkan pernyataannya sebagai benar, pada saat yang sama mengucapkan bahwa pernyataannya adalah benar, demikian seterusnya tanpa ada akhir”.

  •  

Judul: Ideologi Tanpa Akhir

Penulis: David McLellan

Penerbit: Kreasi Wacana

Tebal: +186 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: