Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Genderuwo di Siang Bolong

Oleh: Bandung M.         Diposkan: 01 Aug 2019 Dibaca: 1070 kali


Artikel di koran memicu sengketa di jajaran abdi pemerintah kolonial. Dua tokoh memiliki pemikiran berlawanan gara-gara tulisan, jabatan, dan kehormatan. Kadiroen dengan nama samaran Pentjari sering menulis artikel untuk Sinar Ra’jat. Kadiroen adalah wedono di Rejo dan menjabat Wakil Patih di Kota S. Ia bertugas memakmurkan bumiputra mengacu kaidah atau peraturan buatan pemerintah kolonial. Kedudukan itu hierarkis. Di atas Kadiroen, ada pejabat-pejabat Belanda. Kemauan mengubah nasib kaum jajahan dibuktikan dengan jalur birokrasi, sebelum memutuskan keluar dan menempuhi jalan pers-pergerakan. 

Kita mengenali Kadiroen dari pengisahan Semaoen (1899-1971) dalam Hikayat Kadiroen, terbit hampir seabad lalu, 1920: “Ia mengurus pemerintahan dengan sungguh-sungguh, sehingga hampir siang-malam ia bekerja. Sebaliknya, pejabat-pejabat yang ada di bawahnya banyak yang mengomel dan tidak mau membantu dengan ikhlas semua maksud Kadiroen yang sangat berguna bagi rakyat.” Ia bekerja di naungan pemerintah kolonial tapi berpihak ke kaum kromo. Status sebagai priyayi agak diabaikan demi menumpas kemiskinan dan mengharamkan kelaparan di kalangan jelata.

Kadiroen kita kenang untuk mengetahui (lagi) peran priyayi, pers, pergerakan politik, dan nalar kolonial. Kadiroen itu terbaca seabad lalu. Kini, kita membaca ulang berdalih menghormati warisan sastra dari Semaoen. Pada masa bekerja keras, Kadiroen melihat ada perubahan besar di Hindia Belanda dengan kemunculan Partai Komunis. Sejak mula, ia mengamati dan tertarik turut dalam Partai Komunis berdalih memajukan nasib kaum kromo dan mengurangi derita akibat kebijakan-kebijakan kolonial. Kadiroen menanggung dilema, berpikiran pangkat atau bergabung ke gerakan rakyat. Penasaran dituruti dengan rajin membaca surat kabar Sinar Ra’jat berisi berita dan gagasan-gagasan membesarkan misi pergerakan kaum bumiputra.

baca juga: Harga untuk Kebebasan yang Disangkal

Kita diajak menelusuri sejarah dari dokumentasi dan biografi Semaoen saat menjadi tokoh pergerakan di Semarang. Kota memiliki sejarah merah dengan kemunculan Sarekat Islam, Sarekat Rakyat, dan Partai Komunis di awal abad XX itu diceritakan Semaoen dalam “Hikayat”, belum terlalu menggunakan struktur novel modern. Latar sejarah itu diawetkan melalui tokoh Kadiroen ingin bersuara nasib kaum kromo alias jelata. Ia memutuskan tetap menjadi orang berpangkat dan memberi sumbangan duit ke pergerakan rakyat. Sumbangan lain adalah tulisan. Kadiroen sadar telah masuk di “djaman baroe” atau “djaman kemadjoean”. Tulisan dianggap mampu mengubah nasib tanah jajahan.

Ia mulai menulis ke Sinar Ra’jat dengan nama samaran Pentjari. Ada satu tulisan kena delik pers. Ia memilih membuka identitas diri. Sifat satria ditunjukkan dalam sidang di gedung pengadilan. Kasus itu diramaikan oleh pelbagai surat kabar berbeda pendapat dan garis politik. Di pengadilan, hakim memutuskan bahwa Kadiroen atau Pentjari dibebaskan dari hukuman alias tak melanggar undang-undang. Kalangan pejabat Eropa dan priyayi menghamba ke pemerintah kolonial marah besar. Kadiroen bebas tapi dipanggil atasan Tuan Asisten Residen untuk bertanggung jawab selaku pejabat di birokrasi kolonial. Semula, Kadiroen menduga bakal dipecat. Pejabat berkebangsaan Belanda itu malah memuji keberanian Kadiroen menulis hal-hal berkaitan nasib kaum kromo dan pergerakan. Kadiroen tak dipecat.

Pada suatu hari, Tuan Asisten Residen itu pensiun digantikan pejabat baru. Atasan baru Kadiroen itu berpihak ke kepentingan-kepentingan Belanda, gamblang memusuhi segala gagasan di Sinar Ra’jat dan ambisi Partai Komunis. Kadiroen mendapat musuh besar! Perintah penting atasan: “Kadiroen, kau seorang wakil patih. Kamu seharusnya bekerja sesuai pangkatmu dan tidak usah tulis-menulis dalam surat kabar itu.” Kita paham bahwa tulisan memang momok bagi kaum kolonial ingin terus mematuhkan kaum terjajah. Tulisan-tulisan diedarkan melalui pers semakin membikin resah dan merusak tertib-politik menurut selera kolonial. Kadiroen menolak perintah berisi ancaman dari atasan. Ia terus menulis!

baca juga: Narasi-narasi Laut pada Peta Rasio Masa Kini

Hari sengketa tiba. Atasan itu mengumpulkan artikel-artikel Kadiroen. Dua tulisan dianggap melanggar undang-undang. Kadiroen diancam dilaporkan ke pejabat tinggi agar mendapat hukuman berupa pemecatan. Kadiroen menganggap sang atasan sudah memutarbalikkan maksud kalimat-kalimat di artikel. Pejabat itu gagal paham dan sengaja mau menjatuhkan Kadiroen. Semaoen mengenalkan lelucon ke pembaca berkaitan perseteruan sang atasan dan Kadiroen. Sang atasan menganggap Kadiroen berpikiran jahat dan menghasut kaum kromo agar melawan kolonial. Kadiroen tak menemukan itu dalam artikel sudah dimuat di Sinar Ra’jat. Semaoen menulis: “Dengan demikian, hampir di mana-mana ia melihat gendruwo di siang bolong, yaitu mendapati semua hal menjadi jahat ketika justru tidak ada kejahatan.” Sengketa dua orang itu sampai ke pejabat tinggi, Tuan Residen. Musuh Kadiroen dianggap salah berpikir dan menanggung malu dengan memilih mengundurkan diri. Kadiroen justru ditawari kenaikan pangkat. Ia berhak menjadi regen di Kota P atau patih di Kota M.

Situasi tanah jajahan jadi referensi bagi Kadiroen dalam membuat keputusan: menerima kenaikan pangkat atau menulis bermisi kepentingan rakyat. Tokoh masih muda (28 tahun) dan berpikiran maju itu diceritakan Semaoen memiliki keberanian menempuhi jalan nasib. Kita membaca: “Begitulah, dengan senang hati dan tenteram, Kadiroen meninggalkan pangkat dan pekerjaannya untuk hidup sengsara, tetapi bermaksud mulia…” Pangkat itu masa lalu. Hari-hari mulai berkeringat dengan memajukan nasib jelata terlalu lama menderita oleh kolonialisme dan kapitalisme.

Kita menghormati Kadiroen dan memberi pujian atas misi bersastra Semaoen. Ia sering dikenang sebagai tokoh politik merah ketimbang pengarang. Pada peringatan seabad Hikayat Kadiroen, kita sengaja mencuplik perkara jabatan dan artikel di masa pergerakan awal abad XX. Semaoen itu dokumentator, memberikan ke kita berupa cerita. Semarang memang kota pers. Kita mengutip dari buku Ahmat Adam berjudul Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1855-1913 (1995): “Pada paruh abad XIX, Semarang menjadi pusat industri surat kabar yang penting, yang bersaing ketat dengan Surabaya dan Batavia dalam menerbitkan surat kabar terkemuka berbahasa Belanda dan Melayu.” Semarang awal abad XX semakin meriah dan pernah “merah” dalam arus pers berhaluan kepentingan pemerintah kolonial atau membesarkan perlawanan atas kolonialisme dan kapitalisme. Semaoen dalam Hikayat Kadiroen memastikan bahwa sejarah pers itu berbiak dan berdampak di Semarang. 

baca juga: Mental Issue, Fiksi Populer, dan Syahid Muhammad

Hikayat Kadiroen terbit dan mendapatkan pembaca. Gubahan sastra itu dianggap“bacaan liar”, berada di luar perintah-keaksaraan dan selera kolonial melalui Balai Pustaka. Semaoen terus bergerak di politik dan sadar risiko. Hikayat Kadiroen (1920) sudah berperan mengabarkan dan mengobarkan ide-ide pergerakan disusul dengan aksi-aksi di Semarang. Semaoen tetap mengerti bakal ada terus “genderuwo di siang bolong.” Pada 1923, Semaoen serius membela nasib kaum buruh mendapat ganjaran dari pemerintah kolonial.

Kutipan dari buku berjudul Riwajat Semarang (1931) susunan Liem Thian Joe bersumber kesaksian dan kliping di pelbagai surat kabar mengenai nasib Semaoen: “Pada 8 Mei 1923, ia membuka openbare vergadering (rapat umum) di stasiun. Dalam persidangan itu ia memberikan anjuran agar kaum buruh untuk melakukan pemogokan dan aksi-aksi lain yang dianggapnya perlu. Pulang dari vergadering, Tuan Semaoen yang menumpang di kantor PKI di Tegal-wareng, ditangkap dan dimasukkan ke tahanan di aloon-aloon. Ia tidak memiliki banyak kesempatan untuk bicara dengan istrinya yang baru saja melahirkan, maka ia hanya berpesan, anaknya yang baru dilahirkan supaya diberi nama Loekita. Malamnya di kampung Gedong diadakan persidangan oleh berbagai perkumpulan kaum buruh pribumi. Di sana diambil keputusan untuk melakukan pemogokan sebagai protes.”

Biografi Semaoen itu tak pernah lagi “disalin” atau “ditipkan” dalam biografi tokoh bernama Kadiroen. Semaoen tak lagi menulis novel atau mengadakan Hikayat Kadiroen seri II. Pada masa 1920-an, ia jalan terus di politik meski pada masa revolusi memilih jadi pengajar dan pemikir ekonomi. Begitu.

  •  

Judul : Hikayat Kadirun

Penulis : Semaoen

Penerbit : Narasi 

Tebal : 252 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: