Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Sejarah Filsat Cina Sejarah Hermeneutik dari Plato sampai Gadamer

Sepertiga abad orde baru berkuasa (1965-98), sejarah Indonesia dipelintir dan dibelokkan demi kepentingan penguasa. Propaganda dan teror merajalela. Hanya boleh ada satu versi sejarah Indonesia, sejarah versi orba.
ㅤㅤ 
Tumbangnya orde baru memunculkan berbagai upaya pelurusan sejarah. Terbit buku-buku, tulisan-tulisan, hasil-hasil penelitian, kesaksian-kesaksian, film-film dokumenter, dan sebagainya, yang menguak kebohongan sejarah versi orba tersebut. Itu pula yang mendasari digelarnya berbagai forum seminar, pertemuan dan diskusi, bedah buku, pemutaran film, dan lain-lain. 

Diterbitkan secara kolektif oleh Ultimus, Komunitas Beranda Rakyat Garuda, LBH Jakarta, YLBHI, Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, GORI Bandung, Taring Padi, Galeri Foto Jurnalistik Antara, Somalaing Artstudio, Rumah Kiri, Aliansi Paralegal dan Pengacara Independen (APPI) Surabaya, Gusdurian, Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam, IndoProgress, Perguruan Rakyat Merdeka, Aliansi Pemuda/i Independent Indonesia Berlin, Liga Pemuda Indonesia, Pembebasan, Islam Bergerak, Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur, Serikat Alumni Jerman, Common Room, ARC (Agrarian Resource Center), Konsorsium Pembaruan Agraria, Kelas Aktivisme Seni FSR-IKJ, BelokKiri.Fest, Galeri Soemardja FSRD ITB.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Seri Pemula
Ketebalan : lxxxiv+528 hlm | HVS
Dimensi : 20x29 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Ultimus
Penulis: Yayak Yatmaka, dkk
Berat : 2000 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by