Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Indonesia Bertanda Seru

Oleh: Bandung M         Diposkan: 11 Apr 2019 Dibaca: 443 kali


Muhidin M Dahlan memberi tanda seru pada kaum politik dan publik (masih) rajin memberi komentar-komentar politik menuju 17 April 2019. Tanda seru mengacu ke dokumen. Muhidin dengan kalimat-kalimat marah mengingatkan ada pelupaan besar dalam lakon berpolitik di Indonesia. Lupa itu dokumen! Novelis dan esais itu lumrah memberi persembahan pada pembaca buku tebal dijuduli Politik Tanpa Dokumen. Bacaan untuk pegangan kita terus berpikiran dokumen-dokumen wajib terawat dalam menata “roman politik” terbesar di Indonesia saat kesibukan politik semakin semrawut dan abai tumpukan ingatan bermasa lalu.

 Buku berisi esai-esai “mengganggu” cara baca politik Indonesia: dulu dan sekarang. Di hajatan demokrasi dengan perseteruan paling seru, Muhidin sudah memberi esai peringatan berjudul “Politik Tanpa (Pusat) Dokumentasi”, dipublikasikan tahun 2014: “Tanpa dokumentasi itu peristiwa politik Indonesia mirip prosa buruk.” Ia memilih metafora berupa “prosa buruk”, bukan “puisi buruk”. Tanda seru awal bahwa Indonesia memang sulit menghasilkan politik puitis meski para penggerak kebangsaan sejak awal abad XX tekun menggubah dan membaca puisi. Dulu, politik menjadi perkara pelik dan dilema, memerlukan keinsafan berpuisi mau “menampar” penguasa kolonial dan “menghindar” dari sensor terburuk atau penghukuman.

Konsekuensi alur politik Indonesia, sejak pemilu bertahun 1955 sampai 2014 tanpa dokumen: petaka tanpa ampunan. Sekian masalah bakal berulang muncul tanpa kemampuan merampungi secara bijak. Kaum politik tampak bebal. Mereka melulu membuat “dagelan” mengundang marah, bukan tawa penghiburan. Dokumen itu mutlak! Muhidin mungkin menjadikan esai sebagai maklumat tanpa “umat”. Kaum politik tak memiliki waktu membaca atau bersedia mengliping bermaksud mengurangi bebal. Kini, esai itu terlalu penting dijadikan acuan mengadakan pendokumentasian segala hal berkaitan tahun membara memuja politik.

baca juga: Menjadi Anak-anak Membaca Sastra Anak

Buku mengandung marah dan gerah mengiringi jutaan orang mengartikan demokrasi. Orang-orang pernah jengkel demokrasi disetir lama oleh rezim Orde Baru, rezim mengambil untung dari malapetaka 1965-1966. Soeharto mengumumkan nasionalisme itu terbenarkan oleh demokrasi diberi cap Pancasila. Soeharto terlalu memiliki otoritas di pengertian demokrasi dan nasionalisme selama puluhan tahun. Muhidin pamer kemahiran tafsir sejarah: “Nasionalisme tidak muncul begitu saja dari sebuah ruang antah berantah. Ia adalah anak sah yang keluar dari selangkangan sejarah yang paling bejat dalam peradaban, yakni imperialisme. Di mana saja nasionalisme selalu tumbuh dan menemukan konteksnya manakala imperialisme mencandra kemerdekaan hidup manusia yang bermartabat. Kehadirannya seperti dua mata pisau yang saling menikam: berkat dan laknat.” Alinea tak ditulis dalam situasi mengigau atau omelan setelah mimpi buruk di malam terpanas. Muhidin sudah membuat kliping dan mengerti segala kemungkinan pembuatan kalimat-kalimat dalam mengenang sejarah.

Kenangan belum bersambung ke masa sekarang. Alinea kita baca lagi setelah mengikuti debat-debat dua pasangan capres-cawapres diselenggarakan KPU. Dua pasangan memberi tempelan-tempelan nasionalisme dan kontekstualisasi demi demokrasi ramai oleh tepuk tangan dan teriak. Semula, pesta demokrasi itu ejawantah demokrasi tapi rawan berganti ke kebohongan dan rebutan pemaknaan nasionalisme menginduk ke tokoh dan partai politik, tak gamblang demi Indonesia. Belasan tahun lalu, Muhidin tega membentak bahwa nasionalisme babak belur dan bersimbah darah lantaran dimanfaatkan sebagai alat mempertahankan kekuasaan. Bentakan bisa digunakan para penanggap politik mutakhir dengan menafsir sembarang tema, slogan, dan kata terheboh dari dua kubu menuju kekuasaan di hari mencipta sejarah: 17 April 2019.

Pada 2018-2019, politik Indonesia diingatkan lagi dengan ketokohan Soeharto. Selama puluhan tahun, Soeharto cenderung “hidup” di Golkar. Situasi politik berbalik akibat rebutan jabatan di partai ingin “meneduhkan” Indonesia. Partai baru muncul jadi peserta pemilu 2019. Partai masih memilih gambar beringin dan “ber-ingin” menghidupkan Soeharto. Partai itu menuduh Partai Golkar telah meninggalkan warisan ajaran-ajaran Soeharto. Di partai baru bernama Partai Berkarya, Soeharto hadir lagi di Indonesia sedang panen keributan.

baca juga: Menyudahi Pendidikan Penyebar Rasa Benci

Kita mengikuti perjalanan dan tulisan Muhidin saja agar mengerti nasib Soeharto di partai politik dan museum berpamrih mengekalkan sejarah. Pada 2013, Muhidin berkunjung ke museum penguasa terlama di Indonesia (Memorial HM Soeharto) dan mencatat di esai berjudul “Semesta Politik Soeharto”. Pengalaman mengamati dan mengingat Muhidin memicu sengatan di kalimat membuat pembaca mesem kecut: “Golkar yang menjadi partai paling berkuasa selama tiga dekade bersama dengan naik pasang dan stabilnya Soeharto di takhta kepresidenan menjadi tak ubahnya, maaf, sebutir upil di bawah laci museum yang dibuka untuk publik pada akhir Agustus 2013.” Laporan mengandung permintaan maaf tapi mengagetkan kita atas pengekalan biografi mengabsenkan Golkar. Pada 2018 dan 2019, Soeharto dipuja lagi oleh kaum dari masa lalu dan diperkenalkan ke kaum muda agar menjadikan teladan dengan memilih partai bergambar beringin tapi tak bernama Partai Golkar.

Buku memuat 60 esai Muhidin kadang membuat pembaca tertawa panjang dan sendu seperti patah hati atas nasib Indonesia, dari masa ke masa. Selera humor dan kemarahan dengan kata-kata “bermata melotot” mengajak pembaca ke renungan berat dan merasa terlambat mengerti puluhan tanda seru telah disugukan. Buku mujarab bagi pembaca ingin waras dan tangguh menonton politik Indonesia sedang mencipta album demokrasi, album berlimpahan pujian picisan dalam sejarah “puitis” Indonesia. Begitu.  

  •  

Judul : Politik Tanpa Dokumen

Penulis : Muhidin M Dahlan

Editor: Prima Hidayah

Penerbit : I:Boekoe 

Tebal : 461 halaman

  •  
Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: