Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Inilah Sepuluh Fakta Marxisme yang Jarang Diketahui!

Oleh: Devananta Rafiq         Diposkan: 12 Jun 2020 Dibaca: 1356 kali


Judul alternatif di atas bisa jadi lebih cocok untuk buku Terry Eagleton Mengapa Marx Benar (2019). Judul asli dari Eagleton selain merupakan pernyataan politis, tentu merupakan taktik pemasaran. Namun, setelah selesai membacanya, ada hal yang cukup mengganjal. Dengan judul seperti itu, untuk siapa sebenarnya buku ini ditujukan?

Tentu apa yang banyak orang katakan tentang Marx tidak otomatis sama seperti apa yang Marx sendiri katakan, bukan? Dalam kasus ini, termasuk yang Eagleton katakan. Jadi, mari saya mulai ulasan ini dengan catatan bahwa apa yang ditulis di buku ini adalah tafsir Eagleton mengenai apa yang membuat pemikiran Marx itu “benar”.

Dari sini masalahnya datang dari jenis pembaca Marx yang berbeda. Tingkat keakraban pembaca dengan Marxisme yang berbeda bisa mengakibatkan respons yang berbeda pula. Dengan format penulisan Eagleton yang idiom kerennya ‘tesis dan antitesis’, para pembaca awam akan menemukan ‘sisi lain’ dari Marxisme sebagai sudut pandang yang “benar”. Namun, tepat di sini, para pembaca yang merasa memahami Marx bisa merasa janggal.

Saya yang memosisikan diri sebagai pembaca non-awam awalnya memasang kuda-kuda untuk bersiap dibombardir dengan pembacaan Marxisme yang fundamentalis, ortodoks, dan kaku, yang sedikit-sedikit mengutip Marx umpama juru bicara kebenaran. Ternyata saya salah.

Kepastian Marx

Eagleton tidak menulis teks apologia berkepanjangan, berulang, dan tidak perlu. Teks Eagleton patut dirayakan, karena menerima Marx apa adanya tanpa tendensi berlebihan “membenarkan” apa yang memang tidak perlu; Eagleton tidak mengulang-ulang kritik klise terhadap para kritikus Marx seperti yang saya bayangkan.

Sebagai pembaca dari lingkungan Indonesia yang memiliki konteks sosiologi pengetahuan Marxisme yang traumatik, membaca teks Eagleton ini adalah pengalaman yang cukup menyegarkan. Sebagai generasi yang katanya milenial, saya dihadapkan dengan beban peristiwa ’65, Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966, dan tiga dekade lebih Orde Baru. Dari sana saya malah dihadapkan dengan opsi narasi tanding dari kubu “progresif” yang sejujurnya menurut saya problematik: melawan sepenuhnya klaim ‘kesalahan’ dari kubu seberang dengan justifikasi ‘kebenaran’ yang berlebihan terhadap Marxisme.

Kecenderungan ini melahirkan para snob yang berlagak seperti pembela Marx, padahal hanya memanfaatkan “kebenaran” itu untuk menutupi kegelisahannya (insecurity) sendiri tentang ketidakpastian realitas. Mereka melompati tahap terpenting dalam Marxisme, yaitu ‘analisis’, dan langsung masuk kesimpulan. Mirip-mirip dengan para pejuang khilafah dan anarkis yang menganggap telah menemukan “kebenaran” padahal yang mereka butuhkan adalah “kepastian”, identitas, dan komunitas.

Saya yang belajar apa-apa secara autodidak sangat risi dengan para snob ini. Oleh karena itu, judul teks Eagleton bisa memberi isyarat buruk terhadap orang yang sekadar ingin belajar seperti saya. Orang seperti saya yang sebelumnya hanya dihadapkan opsi pembelajaran berisi ruang-ruang diskusi yang sudah sempit, eh malah anti-kritik dan diperparah kecenderungan patronase berlebihan.

Relativitas Marx

Subjudul di atas terdengar seperti “mimpi basah” para posmo. Namun, tepat pada kata “relativitas” itulah—secara ironis—pemikiran Marx bisa dipahami. 

Semua orang seharusnya setuju bahwa dasar pemikiran Marx adalah materialisme. Namun, tepat di sini tidak banyak orang yang betul-betul memahaminya. 

Martin Suryajaya menulis dalam “Menalar Marx” yang tergabung di kompilasi Mencari Marxisme (2016: 75–77) bahwa materialisme berarti bahwa manusia mengembalikan realitas pada material yang mengondisikannya untuk memiliki kemungkian memperoleh “kebenaran objektif”. Artinya, manusia selalu relatif terhadap benda-benda (things).

Kemungkinan tadi dikuak oleh proses analisis. Kita lebih mudah merujuk apa yang dimaksud dengan ‘analisis’ dalam struktur yang lebih besar, yaitu ‘sains’. Dalam idiom filsafat ilmunya, kita bisa menyebut bahwa ontologi sudah dan akan selalu mendahului epistemologi: realitas objektif lebih luas daripada sains.

Nah, di sinilah kita memasuki keberatan saya terhadap justifikasi berlebihan dari model analisis Second International yang menyatakan bahwa faktor determinan dalam kehidupan adalah ekonomi. Martin Suryajaya dalam tulisan yang sama mereduksi lagi apa yang disebut dengan materialitas subjek pada “kenyataan”-nya sebagai makhluk biologis yang “pemenuhan kebutuhan hidupnya melalui proses produksi dalam konteks pembagian kerja dalam masyarakat” (hlm. 65). Jadi, analisis inilah yang menjustifikasi proses pendasaran “realitas ekonomi manusia sebagai syarat kemungkinan dari kesadaran manusia” (Ibid.).

Saya suka bagaimana Eagleton membalik argumen ini secara telak. Eagleton (hlm. 117) menulis, 

“Marxisme seringkali dituduh menjadi cermin dari lawan-lawan politiknya. Sebagaimana kapitalisme mereduksi kemanusiaan menjadi Manusia Ekonomi, demikianlah antagonis besarnya. Kapitalisme mendewakan produksi material, dan Marx melakukan hal yang sama persis. Dalam pandangannya, kaum pria dan wanita benar-benar memproduksi hanya ketika mereka melakukan itu dengan bebas dan demi diri mereka sendiri.”

Bagi Eagleton, yang mereduksi realitas subjek pada ekonomi sebetulnya adalah kapitalisme yang meyakini proses produksi demi produksi itu sendiri (hlm. 110). 

Sama kasusnya dalam analisis Marxis dengan perangkat struktur ekonomi yang menghasilkan pembagian kelas antara supra dan basis-struktur yang disebut-sebut sebagai pendikte ranah lainnya seperti, misalnya kebudayaan dan politik. Padahal itu adalah cara berpikir kapitalisme, karena bagi Eagleton, kelas tidak melulu persoalan ekonomi, tetapi juga pembagian sosial (hlm. 114). 

Dalam logika ini, bisa dibilang model analisis Second International yang banyak diikuti, termasuk oleh Suryajaya, sudah kebablasan. Perspektif determinisme ekonomi dan kelas, menurut Eagleton adalah diskursus kapitalisme. Marxisme (seharusnya) menjadi benar kemudian, karena melawan cara berpikir tersebut.

Jadi, mari menilik teori materialisme yang “benar”. Eagleton memberikan definisi bahwa “materialisme Marxis adalah teori tentang bagaimana makhluk-makhluk historis bekerja” (hlm. 50, penekanan dari saya).

Fenomena sesat pikir ini menurut saya adalah persoalan ‘kesalahan identifikasi’, tidak saja dari kubu kapitalis (yang sedang dipermasalahkan oleh Eagleton) dan kubu Marxis (yang sedang saya gugat di sini). Persoalan ini jamak saya temui di diskursus apa pun yang tidak hati-hati dalam mengidentifikasi antara mana ‘teori’ dan ‘realitas’. 

Jika para Marxis konsisten, maka sudah seharusnya mereka memegang kritiknya terhadap Hegel. Subjek tidak bisa mencampuradukkan, menukar, menyejajarkan antara “realitas” yang dipahaminya dalam kategori ‘teori’ dengan realitas itu sendiri. Sebab, teori hanyalah penggambaran relatif dari suatu versi pembacaan terhadap realitas.

Ironi selanjutnya datang dari cara para Marxis memperlakukan hal yang dianggapnya liberal, seperti konsep ‘agensi’ dan kebebasan individu. Sebab segalanya merupakan hasil dari determinasi kelas, maka dua hal tersebut dianggap tidak relevan.

Sejak lama menurut saya hal ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa revolusi sosial tercapai tanpa adanya kehendak individu terhadap kebebasan dan kapasitasnya untuk mengusahakan itu semua? Bagaimana bisa ada perubahan realitas jika determinisme kelas mensyaratkan subjek yang pasif?

Saya setuju dengan pernyataan Eagleton bahwa ‘kemanusiaan’ adalah persoalan dunia material (hlm. 128). Hal yang harus ditolak oleh para Marxis seharusnya tafsir non-materialis terhadap kemanusiaan. Contohnya tentu dengan menganggap kemanusiaan sebagai “anugerah” dari otoritas yang berlaku metafisis semacam tuhan atau negara.

Marxisme memberikan pemahaman kepada kita bahwa relasi sosial adalah penjamin tercapainya kebebasan individu. Marxisme ingin memastikan bahwa kehidupan kolektif bebas dari penindasan sehingga masing-masing dari kita bisa turut terbebas. 

Kebebasan itu bisa dicapai jika proses produksi memiliki makna dalam “mewujudkan kekuatan esensial seseorang”, seperti minat dan bakatnya (hlm 119). Sebagaimana makna ‘praksis’ dalam bahasa Yunani Kuno sebagai aktivitas realisasi diri. Bentuk realisasi diri inilah yang memberikan makna pada hidup, melepaskannya dari alienasi.

Kapitalisme telah merampas kemanusiaan kita, kenapa Marxisme malah diposisikan juga sebagai perampas kebebasan individu? Jadi, ‘metanarasi’ utama yang sebetulnya patut dipetik dari sini adalah tidak terlepasnya Marxisme dari kontestasi pemaknaan. Jangan-jangan yang selama ini dibela mati-matian itu bukanlah Marxisme, melainkan cara berpikir kapitalisme. Ironis sekali, bukan?

  •  

Judul: Mengapa Marx Benar

Penulis: Terry Eagleton

Penerjemah: Cep Subhan KM

Penerbit: Jalan Baru

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: