Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Intrik dan Tragisme Manusia

Oleh: Setyaningsih         Diposkan: 09 May 2019 Dibaca: 1625 kali


Setan bagi kolonial, disimbolkan oleh Djokolelono lewat sebuah pohon beringin raksasa tidak terkalahkan. Bagi ras pribumi, pohon sangat digdaya, wingit, angker, dan menyimpan misteri sekaligus magisme. Bagi kolonial, pohon dan mitos yang melingkupi memang hanyalah omong kosong. Usaha untuk menumbangkan pohon dengan segala alat, masa, atau racun tampak sia-sia. Mereka mungkin tidak ingin mengakui bahwa menumbangkan sang pohon sama sulitnya dengan mengalahkan korupsi yang mulai menggerogoti kualitas moral-birokrasi di tanah jajahan, nafsu seksual pegawai kolonial yang meninggalkan keluarga di Belanda, pemberontakan buruh, atau ketamakan priyayi alias raja-raja kecil yang meniru gaya hidup mewah para elite Eropa.

Semua ini dibabarkan dengan komikal khas Djokolelono dalam novel terbaru sekaligus dikatakan sebagai fiksi dewasa pertama, Setan van Oyot (2019). Djokolelono mungkin sengaja tidak ingin menjuluki novel bertatar kolonial sebagai “fiksi sejarah kolonial” atau “novel sejarah”. Novel justru dilabeli “sebuah roman picisan.” Terlepas dari latar (sejarah) sosial, intrik para tokoh di novel ini membabarkan hal-hal yang begitu lekat pada diri manusia: kerakusan, kemarahan, ambisi, percik asmara, rasa nrimo, tawa atas kemiskinan, kematian.

Djokolelono menyorot kehidupan rakyat di Wlingi, Jawa Timur, yang menunjukkan pembauran pelbagai etnis dengan tingkatan status sosial, ekonomi, sampai bahasa. Ada orang Belanda, Jawa, Madura, Cina melatar di 1930-an, tahun-tahun pemerintah kolonial sedang krisis. Jepang mulai menjadi kompetitor perang yang kuat. Diceritakan bahwa Wlingi harus memperingati ulang tahun Ratu Belanda. Pohon beringin raksasa dinamai Kiyai Oyot oleh penduduk setempat atau Setan Oyot oleh pejabat kolonial setempat mengganggu tempat perhelatan. Yang gawat di sini bukan hanya pohon yang sulit ditumbangkan dengan nalar kekuasaan kolonial.

baca juga: Menjadi Seekor Ikan di Pusaran Zaman

Acara ulang tahun hanyalah suatu sarana dijadikan Djokolelono untuk membabarkan kerakusan korupsi diwakili oleh Ndoro Sinder korup. Ia menilep uang dari pelbagai pihak, “Catatan keuangan untuk acara verjaardag Sri Ratu. Catatan rahasianya. Rencana pembiayaan. Pemasukan. Pengeluaran. Dan—senyum lagi—keuntungan pribadinya. Ah, berapa harga kabriolet? Ia bisa beli dua sekaligus! Kenapa tidak membeli Harley Davidson saja? Yang dua silinder, 1.200 cc. Pasti gagah sekali naik itu.” Ndoro Sinder mengubah posisi sosial simbolis dari mengendari sepeda onthel menjadi Harley Davidson.

Selain itu, muncul rumor, “Akan ada pemberontakan. Di mana-mana akan ada pemberontakan! Di Madiun. Di Blitar. Orang-orang akan menyerbu. Dan menahan semua orang Belanda. Merebut pabriknya.” Dalam sejarah, pemberontakan menghendaki perubahasa ekonomi dan sosial. Pemicunya bebas ekonomi dan pajak tanah yang tinggi. Seperti di Madiun, pabrik gula menjadi lembaga paling dibenci oleh para penduduk karena menjadi biang hutang. Mereka mendapat uang sewa tanah rendah tapi harus tetap membayar pajak tanah. Belum lagi, upah buruh rendah dan naiknya kebutuhan pokok sejak depresi ekonomi (Ong Hok Ham, 2018).   

Si Belanda Bernama Tarmiji

Dari sekian tokoh yang ditetapkan Djokolelono, kita mungkin menyimpan kesan pada Thijs van Dijk, pemuda belanda yang datang ke Jawa untuk mencari ayahnya yang seorang kepala kantor pos (Wlingi). Thijs bukan ke Hindia Belanda dengan maksud utama mencari peruntungan atau kedudukan seperti layaknya pemuda-pemuda terlatih yang memang dipersiapkan menjadi pegawai kolonial. Namun, ia harus menerima kenyataan ayahnya memiliki gundik pribumi sangat cantik bernama Kesi yang ambisius ingin menjadi Nyonya Dijk.

baca juga: Orientasi Pendidikan Yang Salah

Kekecewaan pada sosok ayah yang menyeleweng, secara tidak langsung dianalogikan dengan melankolis oleh Djokolelono sebagai kekecewaan pada kuasa kolonial. Thijs merasa begitu kecil di tengah kekuasaan kolonial. Thijs justru melakukan pelarian ke perkebunan cokelat milik Ing Nio, pewaris generasi ketiga. Di sini, Thijs merendahkan diri serendah-rendahnya dengan cara mengajukan diri bekerja kasar sebagai buruh merangkap ahli tanaman sesuasi pendidikan formalnya, berbicara bahasa Jawa, tunduk pada juragan Cina yang seharusnya menjadi pesaing. Thijs sampai membuat cairan khusus untuk menghitamkan rambut, alis, kumis, jenggot, dan kulit agar telihat seperti pribumi dan lebih suka dipanggil “Tarmiji.”

Dengan cara ini, Thijs seperti menghukum diri atas derita ibunya menanti selama di Belanda. Ia mungkin juga malu pada kemrosotan moral ayahnya. Ia tidak ingin dikenali ayahnya sebagai seorang Belanda lagi. Seperti menambahi paradoks seorang Eropa, di perkebunan Thijs mengumpulkan anak-anak sekitar perkebunan untuk diajari membaca dan menulis. Suatu tuntutan yang sangat mahal diperjuangan oleh para modernis pribumi sebelum kebijakan Politik Etis. Diceritakan, “Ada sekitar lima belas anak di dalam., berdesak-desakan di bangku panjang, masing-masing membawa batu tulis. Di belakang mereka duduk beberapa orang buruh kebun. Dan di depan mereka berdiri Thijs dengan pakaian buruhnya, menghadap ke sebuah papan tulis, dengan tulisan-tulisan sederhana untuk belajar membaca.”

Namun, Djokolelono mengakhiri nasib Thijs terlalu tragis. Thijs mati di tangan ayahnya sendiri karena dianggap membunuh Kesi. Penghormatan bagi seorang Thijs hanyalah gundukan tanah bernisan kayu yang diingat anak-anak desa dalam iringan lagu berbahasa Belanda dan air mata dari Ing Nio, perempuan yang diam-diam mencintai dengan manis.

baca juga: Merayakan Imajinasi

Kematian adalah akhiran intrik manusia-manusia yang berkuasa. Ayah Thijs mati karena serangan jantung. Ndoro Sinder lebih tidak terhormat karena mati karena timbunan ketamakan sekaligus kegemukan istrinya di atas ranjang. Yang hidup juga masih tertawa justru rakyat jelata. Mereka tukang sate, kusir, babu rumah tangga, anak-anak kampung, simbok warung, dan juga para buruh tidak terdidik yang menjadi manusia-manusia kecil di tengah kolonialisme dan perang menentukan martabat kebangsaan.  

  •  

Judul : Setan van Oyot

Penulis : Djokolelono

Penerbit : Marjin Kiri

Tebal : x+293 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: