Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Jejak Madilog dalam Ilmu Sosial Indonesia

Oleh: Gregorius R. W         Diposkan: 12 Dec 2019 Dibaca: 2114 kali


Madilog saya maksudkan terutama ialah cara berpikir.

Bukanlah suatu Weltanschauung, pemandangan dunia

Walaupun cara berpikir dan pemandangan dunia atau filsafat

adalah seperti tangga dengan rumah, yakni rapat sekali

 

Rudolf Mrazek, sejarawan asal Amerika, menyebut Madilog sebagai buah rantau Tan Malaka. Melalui Madilog, ia seolah ingin menyampaikan ‘pertanggungjawabannya’ atas kelana yang dijalani selama 20 tahun; dari kota ke kota, dari pemikiran ke pemikiran, dari penjara ke penjara. Hasilnya, ringkasan sejarah panjang perkembangan ilmu pengetahuan dari aljabar sampai geometri, kalkulus sampai gravitasi. Intensinya hanya satu: membawa Indonesia mengarungi proyek pembebasan melalui ilmu pengetahuan.

Bagi Tan, pertama-tama masyarakat Indonesia harus dibebaskan dari logika-mistika atau cara melihat dunia yang masih berpegang pada fantasi-fantasi non-material. Tahapan ini perlu untuk membawa tetangga dan orang sekitar pada dunia material tempat di mana manusia menyadari kondisi dirinya secara objektif.

Dalam perjalanan mencapai ‘objektivitas’ tersebut, Tan mengelaborasi materialisme-dialektis sebagai sebuah metode untuk mengantarkan Indonesia pada kontradiksi-kontradiksi nyata yang membelenggu selama beratus tahun. Baginya, metode tersebut ampuh untuk menunjuk kolonialisme sebagai biang kerok ketidakadilan dan kondisi timpang yang menghalangi kedaulatan serta esensi-bebas dari sebuah bangsa. Tentu, Dia mendapatkan materialisme-dialektis dari tradisi marxis yang secara gamblang ia sebutkan terus-menerus di dalam Madilog. Sebagai metode, materialisme-dialektis merujuk pada hubungan kontradiktif di dalam materi yang saling mendefinisikan satu sama lain di mana proses sejarah kemudian membentuk ‘identitas’ baru atas relasi kontradiktif tersebut.

baca juga: Kafka, Absurditas dan Alienasi Sisifus

Cara berpikir itu yang Tan tawarkan sebagai instrumen untuk menganalisa secara empiris kondisi masyarakat Indonesia dengan berfokus pada kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Dia melihat adanya kontinuitas yang meyakinkan antara observasi empiris secara jitu akan kondisi masyarakat berbekal perkakas ilmu pengetahuan dengan keberhasilan proyek pembebasan dan transformasi masyarakat kapitalisme menuju sosialisme.

Revolusi Bolshevik, baginya, adalah contoh nyata di mana ketekunan mempelajari jalannya sejarah yang dilakukan oleh Lenin selama bertahun-tahun berbuah kemenangan gemilang. Madilog hadir sebagai ketekunan Tan Malaka untuk menaruh jangkar ilmu pengetahuan bagi masyarakat Indonesia agar perjuangan tidak sekadar berdiri di atas sentimen belaka, tapi berdasar pada metode yang taat. Kita tahu bahwa ia digagalkan secara politis, tapi secara ilmu pengetahuan, apakah nasibnya serupa? Bagaimana posisi pemikiran Tan Malaka – dalam hal ini Madilog—di atas susunan sejarah ilmu sosial di Indonesia?           

Paska diakuinya Indonesia sebagai negara berdaulat, dan tentu saja sekian bulan setelah Tan Malaka ‘dibebaskan’ secara paksa oleh Letnan Soekotjo, segala aspek kehidupan mengarah pada pembentukan formasi negara-bangsa, termasuk di dalamnya tekstur ilmu sosial.

baca juga: Cerita-cerita yang Mengurung Kita di Dalam Kuil

Di tengah keterbatasan sumber daya dan kebutuhan untuk membangun dan menjaga negara-bangsa baru, ilmu sosial Indonesia di era awal kemerdekaan sampai 1960-an diarahkan secara umum  pada wacana pembangunan. Proyek-proyek besar penelitian yang membawa kerangka besar determinsime ekonomi dalam pembangunan dibiayai, dipimpin, dan dibawa ke Indonesia oleh cendekiawan dari Amerika dan Eropa. Benjamin Higgins dari Centre of International Studies MIT (Massachusetts Institute of Techonology) adalah satu dari sekian nama besar yang mempopulerkan pendekatan ekonomi pembangunan dalam ilmu sosial di Indonesia. Di lain pihak, menurut Koentjoroningrat, beragam studi muncul sebagai sayap pendukung determinisme ekonomi melalui penelitian yang menitikberatkan promosi integrasi bangsa melalui kesadaran-kolektif sebagai satu kesatuan anggota komunitas berbayang.

Di hadapan arus utama yang demikian fungsionalis, Madilog yang menawarkan kontradiksi sebagai pisau bedah utama untuk memahami formasi sosial tentu saja tidaklah laku dan pastinya dianggap sebagai paradigm yang tidak efektif untuk proyek pembangunan dan integrasi bangsa.          

Di lain pihak, Madilog di dalam tubuh gerakan kiri secara umum dan PKI secara khusus pun sama tidak lakunya. Di hari jadi PKI ke 35 tahun 1955, dalam pidatonya Aidit justru menganggap Tan Malaka sebagai pengkhianat yang tidak memberikan solusi apapun pada peristiwa penberontakan PKI 1926-1927. Lebih dari itu, Aidit menyebut Tan Malaka sebagai golongan Trotskies yang malah membuat partai baru (PARI) di tengah sengkarut tubuh PKI kala itu. Njoto, dalam kuliahnya di Aliarcham Institute tentang metode materialisme historis menyebut Tan Malaka yang ‘menerima marxis secara tidak utuh’ dan memodifikasi metode pembebasan dengan semangat reliji. Singkat kata, Tan Malaka tidak hanya ditumpulkan secara intelektual oleh rezim ‘struktural-fungsional’ namun juga oleh friksi-politik di dalam tubuh PKI.

baca juga: Capek: Bepergian dan Kematian

Secara mengejutkan, di era Orde Baru yang represif, sangat ‘fungsionalis’, dan mengharamkan komunisme, Tan Malaka justru muncul di dalam diskusi akademik. Artikel panjang tentang metode ilmiah Tan Malaka ditulis oleh Alfian di terbitan Prima vol.8 tahun 1977. Dhakidae menyebut bahwa tulisan Alfian berhasil menghidupkan kembali semangat revolusioner melalui Madilog di tengah kuasa rezim otoriter. Lebih dari itu, Alfian sedikit banyak mengingatkan kembali soal kontradiksi-kontradiksi yang belum usai dan menuntut untuk segera dituntaskan.

Usaha yang sama juga dilakukan oleh Yayasan Massa yang menerbitkan ulang Parlemen atau Soviet pada tahun 1987. Di kata pengantarnya dalam buku itu, W. Suwarto, mantan ketua kongres Murba tahun 1960 menyebut bahwa metode saintifik Tan Malaka perlu dijaga sebagai perkakas penting dalam perjuangan. Tak hanya afirmasi, metode berpikir Tan Malaka dalam Madilog juga menuai kritik. Abu Jihan menulis kritik terhadap materialisme-dialektis Tan Malaka melalui Artikel pendeknya di Panji Masyarakat (1984) berjudul Tan Malaka dan Semut. Bagi Jihan, Tan Malaka melupakan dimensi kasat mata yang juga menggerakan sejarah. Poin yang perlu digarisbawahi adalah di Era Orde Baru, di tengah kuasa otoritarian, Madilog dan metodenya dibahas dan dikritik dalam kerangka saintifik baik dengan nada optimis maupun kritis.

Hari ini, Madilog di mana-mana dan Tan Malaka tak henti-hentinya dibahas sebagai tokoh revolusioner yang misterius, berjasa, dan genius. Tentu saja tak ada salahnya membahas dia dari sudut pandang yang demikian. Hanya saja, pandangan yang biopic macam itu justru berpeluang untuk perlahan menyingkirkan percakapan diskursif soal pemikiran Tan Malaka, tentang singgungannya dengan produksi ilmu sosial di Indonesia, dan tentu saja tentang bagaimana Madilog dapat digunakan hari ini sebagai perkakas pikir di tengah kondisi masyarakat yang makin gemar akan kebenaran semu dan mudah digoyang oleh politik identitas yang keruh.

  •  

Judul: Madilog

Penulis: Tan Malaka

Penerbit: Narasi

Tebal: vi+ 560 hlm

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: