Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Jejaring Sejarah Meruwet

Oleh: Bandung M         Diposkan: 05 Mar 2020 Dibaca: 658 kali


Sejarah peradaban manusia semakin memanjang dan meruwet. Pada abad XXI, kita berjarak jauh dari masa-masa pembentukan sejarah sulit terlacak dan terjelaskan. Tumpukan buku sejarah untuk dipelajari terus meninggi saat kesanggupan membaca cenderung menurun. Tamim  Ansary tetap sodorkan sejarah ke hadapan pembaca dengan kejutan-kejutan atas sekian ralat: “Namun yang paling penting, bahkan di tengah penaklukan dan perbudakan, pemerkosaan dan pembunuhan, gagasan-gagasan bercampur dan saling menyburkan sampai menghasilkan kerangka-kerangka konseptual baru yang lebih lengkap.” Sejarah dibentuk dengan lakon beradab dan biadab. Tata hidup dibentuk dari bentrok, rancu, pertentangan, dan jalinan. Masa demi masa, sejarah itu jejaring. Ketebalan terus meningkat. Jalinan terus meruwet sampai masa sekarang.

Dulu, sejarah diselenggarakan dengan bahasa. The Invention Yesterday mengingatkan mula-mula dampak bahasa di masa lalu. Jejak-jejak lukisan di gua dan benda-benda menaruh kita ke pemandangan masa lalu. Bahasa pun mengundang ke pelik-pelik arus peradaban ribuan tahun silam. Tamim agak berkias: “Bahasa adalah apa yang kita dapatkan persis sebelum kita mulai membuat lukisan dan meniup seruling. Bahasa bukan sesuatu yang kita ciptakan. Bahasa adalah ciri yang berkembang seperti jari yang bisa menggenggam. Kita tak ‘belajar’ bahasa seperti cara kita belajar membuat nasi goreng.” Kalimat-kalimat itu “mengentengkan” kita menjenguk sejarah. Jauh di sana, ada bahasa berkembang dan beredar dalam perjumpaan-perjumpaan. Sekian bahasa terpilih di pembentukan lakon keluarga, pertanian, politik, seni, agama, perdagangan, dan lain-lain. Sebaran bahasa mengartikan ada “penciptaan-penciptaan” kebaruan di tikungan-tikungan sejarah pelbagai negeri.

Kita pun teringat gen dan bahasa. Steve Olson dalam buku berjudul Mapping Human History (2004) menjelaskan: “Merekonstruksi bahasa yang dipakai lebih dari 65.000 tahun yang lalu adalah pekerjaan yang sangat sulit. Tulisan baru diciptakan sekitar 5.000 tahun yang lampau. Segala sesuatu yang diperbincangkan oleh manusia sebelum diciptakannya tulisan pasti tidak menyisakan bekas, seperti jejak-jejak kaki para pembuat rakit di pantai kuno Laut Merah yang dengan mudah lenyap tersapu ombak.” Sejarah itu remang-remang. Kita sulit diwarisi sisa-sisa pengisahan. Bahasa saat sejarah diselenggarakan memiliki misteri. Sekian hilang, tak lagi teraih atau terbaca. Bahasa-bahasa itu penentu peradaban memuat kisruh dan teka-teki. Tamim mengartikan bahwa jejaring makna tercipta dari bahasa-bahasa menautkan biologi ke sejarah.

baca juga: Hawa, Feminitas, dan Masa Depan

Sejarah mengalir di bahasa, mengalir pula di sungai-sungi. Kita memiliki daftar sungai terpenting: “Sungai Nil, Sungai Dijlah-Furat, Sungai Sindhu, dan Sungai Kuning. Kita melihat peta. Sungai-sungai terdapat di Mesir, Mesopotamia, India, dan Tiongkok. Sungai itu petaka dan pengharapan. Orang-orang kuno menganggap sungai memiliki kekuatan-kekuatan mematikan dan menghidupkan. Sungai jadi jantung peradaban. Di Tiongkok, Sungai Kuning malah disebut “ibu peradaban”. Sungai Kuning terlalu menentukan nasib. “Seperti orangtua bipolar, sungai yang menjadi sumber segala kemakmuran juga kadang menimbulkan musibah mendadak.” Di pinggiran sungai, kematian setiap saat berlangsung dalam getir dan kengerian. Pada hari berbeda, orang-orang bekerja dan bersukacita di pinggiran sungai dalam kecukupan pangan atau kemakmuran. Di situ pula, religis dan seni berlangsung memberi pijakan kehidupan bersama.

Selama ribuan tahun, sejarah peradaban manusia sulit terpahami sampai rampung. Fritjof Capra dalam The Turning Point (1997) mengenalkan istilah “titik balik peradaban”. Ada episode-episode teratur dan semrawut dalam menentukan tegak dan kejatuhan peradaban. Peradaban mustahil di jalan lurus. Pada masa lalu, selalu saja terjadi kebangkrutan atau pembesaran peradaban berbekal religi, teknologi, bahasa, seni, atau sains. Tamim mengingatkan: “Peradaban adalah gugus gagasan tanpa pusat atau batas, terlalu besar dan samar untuk membentuk niat dan melaksanakan rencana.” Kita diajak memikirkan rempah di masa lalu. Orang mungkin berpikiran rempah itu Nusantara. Rempah pun bercerita perdagangan berlangsung di Eropa dan Arab. Peradaban dalam perang dan manajemen ketat itu dipengaruhi oleh pilihan alat transportasi dan kesadaran rute. Peradaban rempah kadang membingungkan di hitungan laba dan risiko-risiko kematian.

Kita tak boleh melupa unta untuk membaca sejarah (perdagangan) rempah di negeri jauh. Tamim memberi secuplik cerita agak mengejutkan: “Unta, dijinakkan sekitar tiga ribu lima ratus tahun lalu, mempercepat perdagangan rempah.” Unta dijuluki “kapal padang pasir”, binatang paling kuat di rute sulit. Unta sanggup berjalan meski sekian hari tanpa ari dan menghadapi cuaca tak keruan. Perdagangan rempah itu perlahan mencipta penjajahan, mengukuhkan nalar kapitalisme, dan sebaran agama. Sejarah tak ditempuhi oleh ide tunggal dan tata cara homogen. Sejarah di kejauhan memiliki susulan berupa dampak mobil, kereta api, pesawat terbang, dan lain-lain. Perdagangan tak lagi hitungan kematian dan tumpukan duit saja. Pada masa berbeda, perdagangan memberi penguatan kekuasaan dan merangsang penulisan roman-roman besar terbaca sepanjang masa.

baca juga: Rosa Luxemburg, Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi

Gejolak-gejolak peradaban di Eropa, Afrika, Asia, Timur Tengah, atau Amerika ditentukan pula oleh benda-benda berwaktu. Peradaban terlihat dan terhitung melalui jam mekanis dan arloji. Benda itu membuat orang-orang berpikiran perkiraan dan ketepatan waktu di lakon politik, perang, bisnis, ibadah, hiburan, dan lain-lain. Pengaruh jam mekanis dan arlogi agak lambat tapi membuktikan ada keterpukauan atas cara kerja dan penggunaan di teknologi-teknologi berbeda.

Benda paling mendebarkan di laju dan sengketa peradaban adalah buku. Pada abad XV, buku itu “ajaib” dan “aib” di sebarang pengetahuan dan penertiban keimanan di Eropa. Tamim menjelaskan: “Barangkali transfer teknologi terpenting di era itu terkait dengan buku.” Produksi ide dan imajinasi meriah, bersebaran ke segala arah. Buku-buku membuat para penguasa atau pemilik otoritas memerlukan mendirikan perpustakaan, universitas, dan institusi riset. Buku-buku memberi haluan tak pernah usai, selama ribuan tahun. Ian FM dan Lisa Wolverton (2010) mengisahkan perpustakaan itu sejenis “rahim” dari terang-gelap dunia oleh hamburan pemikiran filsafat, agama, astronomi, biologi, matematika, bahasa, dan lain-lain.

Pada masa sekarang, buku belum punah. Tamim melihat buku adalah momok dan tanda seru atas kemunculan pelbagai paham (isme) mengubah nasib umat manusia pada abad XIX dan XX. Semua lekas berubah di abad XXI di pemahaman Tamim: “Kita terlalu sibuk mencoba menghadapi aplikasi terobosan terbaru dan hujan hal baru sambil menghadapi disrupsi besar dan tak habis-habis.” Kita berada sejarah baru semakin ruwet dan berisiko besar. Begitu.   

  •  

Judul : The Invention Yesterday: Sejarah 50.000 Tahun Budaya, Konflik, dan Hubungan Manusia

Penulis : Tamim Ansary

Penerjemah : Zia Anshor

Penerbit : Penerbit Baca

Tebal : 504 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: