Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kafka, Absurditas dan Alienasi Sisifus

Oleh: Anindita ST         Diposkan: 26 Nov 2019 Dibaca: 3690 kali


"Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia," itulah yang disampaikan Albert Camus dalam bukunya Mite Sisifus. Sisifus merupakan alegori manusia modern yang dihukum mendorong  batu ke puncak gunung oleh para dewa. Setelah berada di puncak, batu tersebut menggelincir ke bawah dan Sisifus diwajibkan mendorongnya kembali ke puncak, begitu seterusnya. 

Sisifus dalam karya Franz Kafka yang berjudul Metaformosa Samsa bersulih rupa menjadi Gregor Samsa. Novel ini pertama kali terbit di Leipzig pada 1915 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Jerman, Die Verwandlung. Pembukaan novel yang berbunyi, "Ketika pada suatu pagi terbangun dari mimpi buruk, Gregor Samsa mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa…," telah ditiru oleh begitu banyak pengarang medioker di seluruh dunia dalam beragam variasi. Pengarang ternama, Salman Rushdie, bahkan pernah menerima kiriman sebuah cerita pendek yang dibuka dengan kalimat: "Suatu pagi Ny. K terbangun dari tidur dan mendapati dirinya telah berubah menjadi mesin cuci." Ini menunjukkan betapa pengaruh Kafka dalam khasanah sastra dunia cukup besar. Sejumlah sastrawan dunia, seperti Vladimir Nabokov dan Gabriel Garcia Marquez, juga memuji Metamorfosa sebagai karya yang mempengaruhi proses kepengarangan mereka.

 

Absurditas

Metamorfosa berkisah tentang kehidupan Gregor Samsa, seorang penjual keliling yang menghabiskan waktunya sepanjang tahun berada di luar kantor untuk menawarkan barang dagangan. Rutinitas Samsa selalu sama setiap hari. Dia keluar rumah pada pagi hari dan kembali ke rumah malamnya. Serupa Sisifus, Samsa melakukan rutitas yang tidak pernah berubah dari hari ke hari. Hingga akhirnya datanglah satu hari yang berbeda dari biasanya. Pagi itu, ketika terbangun dari tidur, Samsa menemukan dirinya telah berubah menjadi serangga yang menjijikan. Ada kaki serangga dan sungut yang tumbuh pada tubuhnya, sementara perutnya dipenuhi bercak-bercak putih. Tidak hanya itu, tulang punggungnya tiba-tiba melengkung. Sungguh suatu perubahan yang absurd. Namun, sebagaimana dikatakan Camus, kisah yang absurd dan yang logis memang berangkai hingga membentuk kisah yang penuh ironi dalam Metamorfosa.

baca juga: Cerita-cerita yang Mengurung Kita di Dalam Kuil

Oleh dunia, Kafka dikenal sebagai pengarang yang melahirkan karya-karya absurd. Dalam Proses, umpamanya, begitu bangun tidur, Josef K, si tokoh utama tiba-tiba ditangkap dan diinterograsi tanpa mengetahui kesalahannya. Dia diajukan ke persidangan dan divonis hukuman mati tanpa pernah disebutkan dosanya. Dalam karyanya yang lain berjudul Surat untuk Ayah, Kafka menarasikan hubungan antara ayah dan anak yang juga cukup absurd: si anak mengagumi sekaligus membenci sosok ayahnya.

Menurut Camus, absurditas merupakan kondisi yang menunjukkan bahwa kehidupan manusia memiliki makna, tapi ketika manusia bergerak maju maka sejatinya dia sedang menjemput kematiannya. Samsa menyadari hidupnya bermakna. Itulah mengapa dia terus bekerja meski berada di tengah himpitan ekonomi yang disebabkan oleh bapaknya yang bangkrut dan berhutang banyak. Walaupun pekerjaaannya sebagai penjual keliling tidak menyenangkan hati dan seakan tanpa harapan—gaji kecil, bos yang rewel—tapi sebagaimana yang dinarasikan Kafka dalam Metamorfosa, "Gregor memikirkan masa depan." Adapun Samsa sendiri mengatakan, “[M]enjadi penjual keliling memang sulit, tetapi saya tidak bisa hidup tanpa melakukan perjalanan ini.” Dalam kalimat berbeda, Samsa juga berucap, “Saya dalam keadaan terjepit, tapi saya akan menemukan jalan keluarnya.” Dengan kata lain, walaupun hidup ini bakal berujung pada kematian, manusia cenderung akan selalu berusaha mencari jalan keluar dan tetap menjaga harapan agar bisa terus menjalaninya. Pun, saat Samsa berubah dari manusia menjadi serangga yang menjijikan, dia tidak menyerah, apalagi berputus asa. Penggambaran yang tragis tersebut tampak sebagai sesuatu yang disengaja oleh Kafka untuk memukul kesadaran manusia.

Dalam kondisi yang sedemikian absurd, sebetulnya manusia memiliki pilihan untuk bunuh diri demi mengakhiri penderitaannya. Namun, Samsa tidak mengambil pilihan itu. Dalam kesulitannya sebagai makhluk baru, dia tidak menyerah, tapi sebaliknya berusaha menyesuaikan diri. Kendati tubuhnya penuh luka, Samsa mencoba menjalani hidup yang sulit sebagai serangga hingga napas penghabisan. Inilah alegori yang diberikan Kafka tentang usaha manusia yang tidak kenal menyerah dalam menghadapi kehidupan yang absurd ini.

baca juga: Capek: Bepergian dan Kematian

 

Alienasi

Dalam pengantar penerjemah Metamorfosa, sastrawan Rusia-Amerika, Vladimir Nabokov, berpendapat bahwa Kafka terpengaruh psikoanalisis Freud tentang kompeksitas keluarga, terutama seputar hubungan ayah dan anak. Sebuah pemahaman yang berbeda dari apa yang dikatakan Nabokov ini bisa ditemukan dengan menggunakan kacamata Marxisme.

Sebelumnya, perlu diuraikan tentang cara kerja kapitalisme yang menjadi latar novel tersebut. Karl Marx, sebagaimana dikutip Erich Fromm dalam bukunya Konsep Manusia Menurut Marx, menyimpulkan dua hal yang terdapat dalam corak produksi kapitalisme. Pertama, dalam proses kerja kapitalisme, manusia dipisahkan dari daya kreatifnya sendiri. Selama proses produksi, para pekerja harus bekerja membuat barang-barang yang dibutuhkan pasar kapitalisme. Adapun pegawai kantoran harus bekerja memenuhi kepentingan perusahaannya. Pekerjaan semacam ini merupakan pekerjaan mekanis yang menjauhkan manusia dari kreativitasnya. Oleh Camus, kondisi tersebut dinarasikan lewat kalimat, "...para kelas pekerja bekerja setiap hari sepanjang hidup mereka, melakukan tugas yang sama dan nasibnya ini tidak kalah absurdnya."

Kedua, obyek-obyek kerja yang dihasilkan para pekerja berubah menjadi “makhluk asing”, yang kemudian menguasai manusia. Umpamanya, seorang pekerja yang memproduksi tas merek Hermes menemukan kenyataan bahwa barang buatannya telah berubah menjadi sesuatu yang berbeda setelah berada di etalase toko. Yaitu, sebuah benda mahal yang tidak mampu dibelinya. Yang terjadi selanjutnya adalah barang-barang ciptaan manusia tersebut berubah menjadi sesuatu yang menguasai manusia itu sendiri lewat sebuah pemujaan. Manusia rela memburu barang-barang itu ke mana pun dan mau menebusnya dengan harga berapa pun. Manusia memuja barang yang dibuatnya sendiri dan memperlakukannya dengan sangat istimewa. Pada titik ini, eksistensi manusia tidak lagi ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh barang-barang yang melekat pada dirinya.

baca juga: Memerkarakan Max Havelaar

Kondisi itulah yang kemudian menyebabkan manusia mengalamai alienasi (pengasingan). Menurut Marx, alienasi bukan semata terjadi saat manusia tidak merasakan dirinya sebagai subyek, melainkan juga berarti dunia terasa asing bagi dirinya. Situasi inilah yang dialami Samsa. Bekerja bagaikan kuda, Samsa membuat dirinya teralienasi dari lingkungannya. Waktu kerja yang panjang dan monoton membuat Samsa kehilangan jadi dirinya sebagai manusia. Tanpa disadari Samsa, kapitalisme telah merampas daya hidupnya, begitu pula kreativitas dan eksistensinya. Jadilah dia sesuatu yang bukan manusia: seekor binatang yang hidup dalam pengasingan dan kungkungan kamar.

Di sepanjang novel Metamorfosa ini, kita diajak Kafka untuk menyelami alienasi yang dialami Samsa dengan cara yang tidak biasa. Perubahan Samsa menjadi serangga menjijikkan merupakan cara Kafka untuk menunjukkan betapa terasingnya manusia satu sama lain. Samsa dalam wujud serangga merasa terasing dengan ayah, ibu, adiknya bahkan dirinya sendiri. Sementara itu, keluarganya pun merasa terasing dengan dirinya. Sebuah penggambaran yang sangat tepat untuk menarasikan keadaan manusia hari ini.

Sebagaimana disampaikan sastrawan Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, manusia modern menjadi teralienasi dengan sesamanya, dunia di bawahnya (makhluk hidup lain) dan dunia di atasnya (penciptanya). Namun, lewat karya Kafka ini kita bisa belajar untuk mengembalikan manusia pada eksistensi dan esensinya, memanusiakan manusia dan keluar dari jerat kapitalisme.***

 

Judul : Metamorfosa Samsa

Penulis : Franz Kafka

Penerjemah : Sigit Susanto

Penerbit : Baca

Tebal : xii+100 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: