Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kafka, Ayah, dan Eropa

Oleh: Anindita S T         Diposkan: 08 Oct 2019 Dibaca: 1768 kali


Bisa jadi Oeidipus Complex-lah yang menyebabkan hubungan antara anak laki-laki dan ayahnya sering berada dalam ketegangan. Ayah dan anak bermusuhan, baik secara diam-diam maupun terbuka, demi berebut perhatian Ibu. Situasi seperti ini bisa menimpa siapa saja, bahkan seorang penulis sastra terkenal seperti Franz Kafka.

Surat untuk Ayah (edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Sigit Susanto dari bahasa Jerman, Brief an den Vater) karya Franz Kafka menarasikan hubungan yang kaku antara anak dan ayah. Ditulis ketika Kafka terbaring di rumah sakit rehabilitasi TBC di kota Schelesen, karya ini menyajikan secuplik kisah hidup penulis novel Metamorfosis yang tersohor itu. Lewat karya ini, para pembaca diajak mengikuti jejak-jejak psikologis perkembangan Kafka dalam hubungannya dengan sang ayah, Hermann Kafka.

Sebagaimana disampaikan Kafka kepada Milena Jesenska, penerjemah sekaligus kekasihnya, surat setebal 61 halaman versi bahasa Jerman tersebut merupakan “surat advokasi”.  Kafka mewanti-wanti agar surat tersebut jangan sampai bocor ke orang lain dan meminta agar disimpan baik-baik. Kemungkinan surat yang pada awalnya dititipkan kepada ibunya, Julie Lowy Kafka, tidak pernah sampai ke tangan Hermann Kafka hingga Franz Kafka meninggal.

baca juga: Bangsa yang Malas

 

Setelah Masa Penyapihan

Surat untuk Ayah adalah potret kehidupan keluarga borjuis di Eropa. Ketika surat ini ditulis, Eropa sudah berada di zaman modern, tapi nyatanya keluarga di negeri itu masih hidup dalam benteng patriakal. Ayah adalah patriak, sosok sentral dalam keluarga. Kafka menyebutnya “sang penguasa tertinggi”. Adapun anak-anak tidak lebih sekadar boneka yang wajib tunduk dan patuh. Sebagai seorang patriak, ayah bisa berbuat semaunya dalam keluarga. Kondisi inilah yang digugat Kafka.

Menurut kajian Simone de Beauvoir dalam The Second Sex, setelah masa penyapihan, anak laki-laki berkembang ke arah yang berbeda dengan anak perempuan. Hal ini terjadi terutama karena lingkungan sosial menghendaki dua jenis kelamin yang berbeda itu tidak menyimpang dari "kodrat" yang sudah ditetapkan. Anak-anak laki-laki diharapkan tetap berkarakter maskulin, sementara anak perempuan tidak bergeser dari karakter feminin. Sebagai anak laki-laki, Kafka tentu menjadikan ayahnya sebagai cermin. Apa yang dilakukan sang ayah menjadi semacam buku panduan untuk mengembangkan karakter maskulinnya.

Namun, harapan Kafka menjadikan ayahnya idola patah di tengah jalan. Seiring waktu, Kafka menemukan sang ayah ternyata keras, kaku dan pemaksa. Itulah mengapa dalam suratnya Kafka sering memakai diksi “tiran” untuk menggambarkan sosok ayahnya. Ayah Kafka sering mengancam anaknya dengan ungkapan, “Aku akan mengoyak-ngoyakmu seperti ikan.” Kafka kecil merasa terintimidasi dengan ancaman-ancaman semacam itu. Pengalaman-pengalaman di dalam rumah itu merembet hingga ke luar rumah. Kafka melihat sikap ayahnya kepada para karyawan yang bekerja di toko keluarga mereka juga tidak simpatik. Ayah Kafka sering menyebut para karyawan sebagai “musuh bayaran”. Sementara itu terhadap karyawan yang terkena penyakit TBC, sang ayah mengumpat, “Ia harusnya mati saja, anjing penyakitan itu!” Inilah yang menciptakan jarak antara Kafka dengan ayahnya, yang kelak di kemudian hari menjadi bahan untuk menggugat lelaki itu lewat surat-suratnya.

baca juga: Politik Jalanan Jacques Rancière

Lewat surat, Kafka menyuarakan tekanan batinnya. Dia merasa tertindas. Didikan sang ayah yang keras membuatnya tumbuh sebagai anak yang patuh sekaligus takut kepada lelaki itu. Ketakutan yang tidak terjelaskan apa sebabnya dan membuat Kafka kerap sengaja menghindari sang ayah dengan melarikan diri pada buku-buku di dalam kamarnya.

 

Cermin Eropa

Membaca Surat untuk Ayah akan mengajak kita untuk tidak sekadar memahami persoalan pribadi Kafka dengan ayahnya, tapi juga keadaan masyarakat Eropa kala itu. Lewat karya ini, kita akan paham mengapa ideologi anti demokrasi seperti Nazisme bisa tumbuh subur, bahkan nyaris menguasai Eropa, termasuk Ceko, negara kelahiran Kafka.

Melalui keluarga Kafka tergambar bahwa modernisme di Eropa gagal merombak struktur keluarga sehingga masih tetap patriakal. Pola inilah yang dipakai Nazi di Jerman dalam menyebarkan ideologinya. Kekuasaan ibarat sosok ayah yang kuat, sementara rakyat adalah anak-anaknya yang mesti tunduk bak ternak gembalaan.

Sifat kekuasaan adalah maskulin yang berhubungan dengan virtu (kejantanan). Kepala negara adalah patriak. Pada era feodal, raja adalah perwakilan Tuhan di bumi dengan kata-katanya yang tak terbantahkan. Pun, dalam rezim Nazi. Dengan alasan mengayomi rakyat, kekuasaan sah melakukan apa saja, termasuk menggunakan rasa takut agar rakyatnya tunduk. Persis seperti yang digambarkan Kakfa tentang ayahnya sebagai seorang tiran yang setiap kata-katanya, "jelas-jelas perintah dari langit."

baca juga: Kenangan Bergambar Atas Kejahatan Orde Baru di Buru

Kafka menggambarkan sosok ayahnya sebagai berikut: "Tulang tidak boleh dikunyah, tapi kau [Ayah] boleh melakukannya. Cuka tidak boleh disesap hingga bersuara, tapi kau [Ayah] boleh melakukannya." Tabiat tersebut menarasikan sebuah kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Selama beberapa tahun, Eropa dihantui kekuasaan yang anti kemanusian. Dan, Ottla serta dua adik perempuan Kafka menjadi korban,  meninggal dalam tahanan Nazi di Auschwitz, Polandia. Serupa nasib saudaranya, Milena, kekasih Kafka, juga meninggal dalam kamp Nazi di Ravensbruck, Jerman.  

 

Biografi dalam Karya

Bila dibandingkan dengan sastra Indonesia, Surat untuk Ayah sejiwa dengan Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. Keduanya mengungkap hubungan tidak harmonis antara anak dan ayah. Pram pernah merasa dipermalukan ayahnya ketika diminta mengulang belajar di kelas yang sama padahal dia sudah naik kelas. Adapun Kafka juga merasa sering dipermalukan ayahnya lewat kata-kata seperti, “Dasar babi besar”.

Bagi seorang pengarang, pengalaman hidup adalah bahan bakar tulisan. Namun, ketimbang pengalaman indah, penderitaanlah yang selalu meninggalkan jejak terdalam pada karya-karya si pengarang. Hal serupa bisa dilihat dari sejumlah karya Kafka, juga Pram. Dalam Bumi Manusia, umpamanya, dengan jelas Pram menggambarkan permusuhan Minke dengan ayahnya. Serupa Pram, Minke merasa dipermalukan karena harus berjalan merangkak ketika menghadap sang ayah yang akan dilantik menjadi bupati di kota B. Sementara itu, sosok ayah Kafka tampak seemosional tokoh ayah George Samsa dalam Metamorfosis. Pun, sama pemaksanya dengan paman Josef K dalam novel Proses.

baca juga: Orde Film

Sebagai seorang pengarang, Kafka bukanlah pribadi yang bebas dari kekurangan. Ketidakharmonisan hubungannya dengan sang ayah dan apa yang berhasil dicapainya kemudian bisa dijadikan bahan pemikiran. Bahwa, meskipun seorang anak tidak bisa memilih orangtua, tapi setidaknya dia masih bisa memilih masa depannya. Seperti Kafka yang bisa memilih masa depannya sendiri dan keluar dari bayang-bayang ayahnya: menjadi pengarang besar dunia.

  •  

Judul : Surat untuk Ayah

Penulis : Franz Kafka

Penerjemah : Sigit Susanto

Penerbit : Kakatua

Tebal : xii+82 halaman

 

   



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: