Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kapitalisme, Krisis Ekologis, dan Pemiskinan Imajinasi

Oleh: Nabalah Al Batul         Diposkan: 16 Apr 2019 Dibaca: 3138 kali


“Sekarang ini, Ibu Bumi sedang terluka dan masa depan kemanusiaan ada dalam bahaya.” Itulah peringatan keras yang mewanti-wanti kita untuk waspada yang tertulis dalam pembukaan Teks Kesepakatan Rakyat yang dihasilkan dari Konferensi Rakyat Dunia tentang Perubahan Iklim dan Hak Ibu Bumi. Buku ini merupakan salah satu respons terhadap peringatan keras itu.

Menyalakan alarm tanda bahaya bagi Ibu Bumi tentu bukanlah peringatan yang berlebihan, mengingat sudah begitu banyak lingkungan hidup yang mengalami kerusakan. Kerusakan itu juga bukan sekadar kesan subjektif segelintir manusia, melainkan fakta objektif yang jelas ukurannya. Para ilmuwan sudah menetapkan batas-batas keseimbangan planet—yang jika batas-batas itu dilampaui, maka planet tersebut akan memasuki kondisi krisis (hlm. 6-7).

Hal yang paling mengkhawatirkan dari palampauan batas-batas krisis itu adalah perubahan iklim. Ia telah menyebabkan iklim dunia tidak stabil. Apabila kondisi itu tidak segera teratasi, maka dampaknya bisa sangat mengerikan bagi sebagian besar spesies di muka bumi. Termasuk dalam spesies itu adalah kita: manusia!

baca juga: Alangkah Tololnya

Salah satu spesies yang sudah terkena dampak langsung oleh perubahan iklim ini adalah beruang kutub. Wilayah kutub yang sebelumnya memiliki suhu stabil, setelah ada pemanasan global, menjadi wilayah yang tidak lagi nyaman bagi keberlangsungan hidup beruang kutub. Dan sangat tidak mustahil jika suatu saat spesies manusia bisa punah gara-gara perubahan iklim yang ekstrem.

Apa yang menyebabkan itu semua dan bagaimana kita bisa mengatasinya? Fred Magdoff dan John Bellamy Foster dalam buku ini mengajukan satu jawaban, tentu beserta alasan argumentatifnya, untuk pertanyaan tersebut.

Profesor Ilmu Tanah dan Profesor Sosiologi itu menyatakan bahwa krisis ekologi yang terjadi selama beberapa dekade terakhir ini tidak bisa dilepaskan dari pola kerja sistem ekonomi yang sedang menguasai hampir seluruh dunia, yaitu kapitalisme (hlm. 29). Mengapa kapitalisme? Karena sistem tersebut memiliki imperatif pertumbuhan untuk terus melakukan akumulasi kapital secara tak terbatas (hlm. 38).

Sistem yang kapitalistik itu akan dikatakan sukses apabila ia bisa mengakumulasi keuntungan sebanyak-banyaknya, tak peduli dampak yang diakibatkannya. Ia akan merasa puas jika bisa menambang sebanyak mungkin material-material yang ada di perut bumi, meskipun pada saat yang sama ia juga sedang menggali kuburannya sendiri. Itulah kontradiksi dari kapitalisme.

baca juga: Indonesia Bertanda Seru

Kapitalisme tak pernah peduli dengan apa pun selain keuntungan. Ekolog Rechard Levins, misalnya, di dalam esainya di Monthly Review memberikan contoh konkret dengan menyatakan bahwa di dalam kapitalisme, “Pertanian bukanlah untuk menghasilkan makanan tetapi keuntungan. Makanan adalah hasil sampingan.”

Pernyataan Levins itu menggambarkan bahwa kapitalisme tidak akan pernah menemukan kecukupan. Seandainya ia bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti papan, sandang, dan pangan, maka ia tak akan sampai melakukan eksploitasi alam besar-besaran. Namun, karena tujuannya untuk mendapatkan banyak laba, maka ia bekerja melebihi kebutuhan manusia.

Watak rakus kapitalisme yang tak terbatas itu dapat mengantarkan kita pada suatu kondisi aporia. Ahli ekonomi ekologis, Herman Daly, menyebutnya dengan istilah “Teorema Ketidakmungkinan” (hlm. 1). Artinya, pertumbuhan ekonomi—dalam konteks kapitalisme berarti akumulasi kapital—tidak mungkin tumbuh secara tak terbatas dalam lingkungan hidup yang terbatas.

baca juga: Menjadi Anak-anak Membaca Sastra Anak

Kondisi aporia tersebut hanya menawarkan dua pilihan: menghentikan akumulasi kapital yang watak rakusnya tak terbatas atau membiarkan akumulasi kapital terus berlanjut melampaui batas-batas lingkungan hidup. Pilihan kedua akan melahirkan krisis ekologis; sedangkan pilihan pertama butuh kekuatan radikal dan revolusioner dan, karenanya, terlihat tampak sulit.

Oleh karena itu, meskipun kapitalisme telah menyebabkan banyak kerusakan lingkungan, kebanyakan dari kita sulit untuk setidaknya memiliki imajinasi radikal dan revolusioner. Alih-alih menawarkan solusi radikal dan revolusioner dengan memikirkan sistem ekonomi di luar sistem yang terbukti merusak ini, banyak ilmuwan justru masih berpikir di dalam tempurung kapitalisme. Semisal, tawaran solusi kapitalisme ramah lingkungan atau “kapitalisme hijau”.

Tawaran ini, menurut Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, adalah tawaran tak masuk akal, sebab sistem yang hanya punya tujuan memaksimalisasi keuntungan itu tidak akan pernah “hijau” (hlm. 110). Hal itu karena sifat dasar dari kapitalisme adalah hasrat berlebih untuk menghasilkan keuntungan. Sementara keuntungan tak pernah punya batas.

baca juga: Menyudahi Pendidikan Penyebar Rasa Benci

“Kapitalisme hijau”, karenanya, tak lain adalah usaha untuk mengakali kerusakan lingkungan biar kegiatan memaksimalisasi keuntungan dapat terus berjalan. Itulah yang oleh Derrick Jensen dan Aric McBay disebut “pembalikan atas kenyataan” (hlm. 117). Artinya, kapitalisme dipandang lebih nyata dibanding lingkungan hidup sehingga, alih-alih mengakhiri kapitalisme untuk menyelamatkan lingkungan hidup, lingkungan hidup itu sendiri yang harus diakali agar kapitalisme tetap berlanjut.

Hal itu menggambarkan betapa kapitalisme ternyata tak hanya mengeksploitasi lingkungan hidup, tetapi juga memiskinkan imajinasi kita tentang masa depan dunia tanpa kapitalisme. Implikasinya, sebagaimana dikatakan Fredric Jameson dalam New Left Review (2003), “lebih mudah [bagi kita] untuk mengimajinasikan berakhirnya dunia daripada mengimajinasikan berakhirnya kapitalisme.” Pemiskinan imajinasi ini memaksa kita untuk menerima kapitalisme beserta dengan segala krisis yang mengiringinya sebagai sesuatu yang wajar dan alamiah.

Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk menumbuhkan kembali imajinasi revolusioner agar kita setidaknya bisa terlebih dahulu membayangkan masa depan dunia tanpa sistem ekonomi yang eksploitatif terhadap alam dan juga manusia. Dari imajinasi revolusioner inilah, kita bisa memulai satu gerakan untuk membangun sistem alternatif di luar kapitalisme demi memperbaiki lingkungan hidup.

baca juga: Mengobati Lumbung Kebosanan Hidup

Magdoff dan Foster dalam buku ini (hlm. 144-170) mengadopsi solusi yang ditawarkan oleh Albert Einstein dalam salah satu esainya di Monthly Review: “Saya yakin hanya ada satu cara untuk menghapuskan kejahatan-kejahatan keji ini, yaitu melalui pembangunan sistem ekonomi sosialis.” Dengan demikian, hanya satu jalan untuk menyelamatkan Ibu Bumi: akhiri kapitalisme!

  •  

Judul: Lingkungan Hidup dan Kapitalisme: Sebuah Pengantar

Penulis: Fred Magdoff dan John Bellamy Foster

Penerjemah: Pius Ginting

Penerbit: Marjin Kiri

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: