Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia Kaum Novel Ketabahan dan Derita

Kaum Miskin Bersatulah

Kapan saja orang berjuang supaya yang lapar bisa makan, aku akan berada disana... (John Steinbeck)

Kemiskinan sepatutnya menjadi lambang negeri ini. Mereka bukan hanya berjumlah banyak tapi menyembul ke mana-mana. Papan larangan untuk permulung, pengemis dan pengamen tersebar di semua tempat. Mereka seperti barang najis yang harus di jauhi. Seolah spesies yang mengancam dan perlu dikurung di tempat tertentu. Padahal kemiskinan bukan salah mereka. Andai hidup itu berdiri di atas pilihan bebas pasti tidak ada yang memilih untuk menjadi orang miskin. Hidup bukan ditentukan oleh pilihan diri sendiri, tapi juga digariskan oleh struktur sosial. Kini waktunya orang miskin untuk menyatukan pilihan. Waktunya membangun gerakan bersama. Bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga merebut ruang keputusan politik yang telah lama hilang. Bukan saatnya untuk menjadi 'budak dan massa' yang diarahkan terus-menerus. Dibantu sekedarnya, tetapi dibiarkan miskin selamanya. Waktunya yang miskin menuntut dan merebut. Kaum Miskin Bersatulah!


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Gerakan Sosial
Ketebalan : 218 hlm
Dimensi : 14x20 cm
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Resist Book
Penulis: Eko Prasetyo
Berat : 200 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by