Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kehilangan Kosa Kata, Kekasih

Oleh: Lutfia N. Afifah         Diposkan: 30 Mar 2019 Dibaca: 1701 kali


Negeri ini sungguh sudah kacau balau. Semua manusia berbicara tanpa kata seolah-olah mereka semua bisu. Walaupun dalam kebisuan yang sunyi, diam-diam kata-kata kita mengalir sendiri tanpa orang bisa mengucapkannya.

“kemana hilangnya kata, Puan?”

“bukankah kita ini sedang berkata-kata, Kekasih?”

“tidak, kita tidak sedang berkata-kata. Kita masing-masing diam dalam hati.”

“lalu bagaimanakah cara mengembalikan suara, Kekasih?” Tidak ada balasan dari Sang Kekasih. Ia menjadi sangat muram.

 

Negeri ini sungguh sudah kacau balau. Semua manusia berbicara tanpa kata seolah-olah mereka semua bisu. Walaupun dalam kebisuan yang sunyi, diam-diam kata-kata kita mengalir sendiri tanpa orang bisa mengucapkannya.

Kekasih masih diam di tempatnya merenungi kejadian yang sedang terjadi. Tetapi, Kekasih sudah terlalu banyak memikirkan kenapa dan bagaimana bisa terjadi. Seluruh kota di negeri ini sunyi, manusia yang awalnya bekerja jadi diam mendekam di rumah. Tak ada sama sekali percakapan yang keluar dengan kata.

Atau mungkin saja negeri ini sedang dikutuk oleh Tuhan. Tapi bukankan Tuhan maha baik, mengapa memberi kutukan seberat ini. Biar ku pikirkan dulu, Tuhan. Apakah kami manusia di sini benar orang-orang yang harus diberi kutukan.

baca juga: Ziarah Maaf

Sebelumnya manusia di negeri ini berbicara dengan sombongnya. Para politisi mengumbar janji dengan orasi kata ke sana ke mari. Dengan tenangnya tanpa memikirkan ketersediaan kosa kata semakin menipis.

Banyak manusia membenci dengan kata-kata. Manusia berbohong dengan kata-kata. Manusia menghujat, mencaci dan mengatai sesama manusia dengan kata-kata kasar. Kesalahgunaan kata-kata merajalela seperti air bah yang tumpah, tanpa bisa dibendung. Mulai memasuki daerah desa-desa dan meracuni isi pikiran mereka.

Atau karena di negeri ini banyak sekali yang boros kosa kata, tidak hanya seorang politisi. Ada sastrawan yang maruk akan semua kosa kata ingin dilahapnya. Ia telah menghabisakan seumur hidupnya untuk merapalkan kata. Kegiatannya tak lain tentang kata, membaca kata per kata, bicara kata per kata, menulis kata per kata. Pemborosan!

“lalu apa sebabnya kami dikutuk, Tuhan?”

“mengapa kau menanyakan kepada Tuhan yang tak tampak, Puan. Ia tak bisa menjawabmu secara langsung.”

“huhh, Kekasih siapa tahu Tuhan langsung berkata-kata.”

“segera tidurlah, ini sudah larut kau butuh tidur, Puan.”

baca juga: Ibu, Pengembara, dan Puisi Lainnya

Sudah sebulan peristiwa ini terjadi, tidak ada tanda-tanda ada pertolongan untuk negeri ini. Semua manusia sudah menemui Tuhan mereka di rumah ibadah masing-masing untuk meminta ampunan atas dosa pemborosan kata. Tetapi, tetap tidak ada jawaban.

“tapi mengapa hanya kita yang bisa berbahasa seperti ini, Kekasih?”

“entahlah, Puan, mungkin kita tak terlalu boros kata-kata”

“iya, kita terlalu sering saling diam, Kekasih”

“diam artinya seribu kata, Puan”

Walaupun di negeri ini semua manusia tak bisa berucap kata, tetapi aku dengan Kekasih dapat berbahasa melalui hati masing-masing. Memang biasanya seperti ini, tak harus banyak berkata-kata untuk seseorang bisa mengerti apa yang ingin kita sampaikan.

Manusia di sini memang tidak seperti kami, semua manusia sibuk berkata-kata. Di layar kaca selama dua puluh empat jam tanpa henti, setiap saluran televisi. Coba bayangkan saja, berapa juta kosa kata yang mereka habiskan untuk siaran televisi. Belum di tambah yang tidak hadir di televisi, hitunglah jika bisa.

baca juga: Lorong

Sangatlah banyak sebenarnya kosa kata yang kita miliki di negeri ini dengan pengulangan, atau dengan menggandakan. Lalu tiba-tiba hilang semua kosa kata itu. Pada saat sebulan yang sama, kata-kata di surat kabar juga menghilang. Sudah dicari kemana-mana, tetapi tidak ada yang tersisa dari tulisan-tulisan itu. Dari semua buku tinggalah kumpulan kertas tanpa ada coretan tinta.

Selama sebulan memang masih ada kata, tetapi tidak bisa terucapkan dengan suara. Masih ada dalam tulisan-tulisan dan apa boleh buat mereka juga lenyap bersama keheningan udara.

Kini semua kata tersangkut dalam pikiran masing-masing manusia. Manusia antar yang lain tidak mampu berbahasa dengan kata (kecuali kami berdua, sudah kubilang). Keheningan menyelimuti negeri ini, tidak ada yang bisa diajak berbincang kecuali pikiran sendiri.

“bagaimana cara mengembalikan semua ini, Kekasih?”

“tidak ada yang tahu pasti, Puan”

“kita sengsara di dalam kesunyian tanpa kata, tanpa tulisan, tanpa bahasa, Kekasih”

Sekian lama negeri ini tak ada yang memimpin lagi, semua linglung tanpa kata, tanpa tulisan, tanpa bahasa. Seorang pemimpin negeri pun juga bisa tak berbuat apa-apa. Mereka semua tak menemukan cara, selain bertahan hidup untuk dirinya sendiri.

baca juga: Kotak Pandora Orang-orang Malang

Hilangnya kata juga membuat banyak manusia frustasi. Mereka banyak yang menjadi penjarah, mereka menjarah apapun untuk kepuasan dirinya. Penjarahan tidak mempan, hingga pembantaian tak cukup membuat mereka puas. Saking gilanya kehilangan kata-kata, kaum para pencari kata ini sudah gencar melancarkan perbuatannya. Kaum para pencari kata semkain lama semakin bertambah banyak dan kian banyak pula pembantaian di mana-mana.

Sebegitu pentingnya kata-kata bagi manusia, hingga dihilangkan sejenak saja rasanya seperti orang gila. Semua manusia butuh kata, tulisan dan bahasa.

“tetapi, apa arti itu semua, Kekasih. Jika mereka menyia-nyiakan kosa kata”

“jangan bertanya yang tidak aku ketahui jawabannya, Puan”

“semakin hari semakin banyak pertanyaan yang tak bisa kau jawab, Kekasih”

“bukan aku tak bisa jawab, aku selalu memikirkan pertanyaan mu, Puan”

Para ilmuwan dari luar negeri sengaja didatangkan di negeri ini untuk mengetahui cara agar negeri ini terbebaskan dari kutukan. Tetapi para ilmuwan tersebut semakin tidak mengerti apa yang diinginkan oleh manusia di negeri ini. Apa boleh buat? Berbahasa saja tak mampu. Tidak ada cara lain selain menunggu datangnya kosa kata baru untuk menggantikan kosa kata lama. Para manusia di negeri ini sudah pasrah terhadap Tuhan.

“kisahnya sudah selesai, Kekasih...”

 

Tertanda,

Puan Sang Pecinta Kata-Kata

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: