Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kejeniusan Pram di Mata Penerjemah

Oleh: Karunia Haganta         Diposkan: 07 Mar 2019 Dibaca: 961 kali


Pramoedya Ananta Toer atau biasa disebut Pram biasa dikenal sebagi seorang sastrawan. Ia menuliskan berbagai karya yang luar biasa seperti Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), Arok Dedes, Gadis Pantai, dan puluhan karya lainnya. Tidak sedikit karya Pram yang sudah mendunia. Buktinya, adalah diterjemahkannya karya-karya Pram ke dalam bahasa asing agar para pembaca di belahan bumi yang lain dapat menghayatinya.

Menerjemahkan karya Pram jelas bukan hal yang gampang. Karya Pram ada tidak hanya untuk dibaca tetapi juga dihayati. Ide dalam karyanya harus tersampaikan dengan baik. Sehingga butuh pemahaman mengenai ide-ide itu untuk bisa menyampaikannya kembali dengan bahasa yang berbeda.

Dalam buku Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia, Max Lane menggambarkan pemahamannya mengenai ide-ide Pram yang disampaikan melalui karya-karyanya. Max Lane adalah penerjemah Tetralogi Buru, Arok Dedes, dan Hoakiau di Indonesia, ke dalam bahasa Inggris. Melalui buku ide-ide Pram dipaparkan secara ilmiah.

baca juga: Sastra dan Hutang-Hutang Pemberontakan

Pemaparan ide-ide Pram menunjukkan kejeniusan Pram. Kejeniusan yang tidak hanya dalam bidang sastra tetapi juga mengenai sejarah dan politik. Max Lane sendiri menyadari bahwa, “menerjemahkan buku-buku itu, yang berarti berusaha untuk mengerti isi mereka sedalam mungkin, tentu saja bukanlah pengalaman yang remeh.” (hal. 3).

Menurutnya penerjemahan itu didahului dengan persinggungannya dengan Indonesia. Di bagian awal, Max Lane menggambarkan bagaimana pengalamannya saat pertama kali berkenalan dengan Indonesia. Dari sini ia bertemu dengan tokoh-tokoh Indonesia dengan ide-ide radikal mereka. Ia bertemu Rendra, Hariman Siregar, Joesoef Isak, Hasyim Rachman, Pram, dan tokoh-tokoh lainnya.

Pram memang bukan hanya sastrawan tetapi ia juga seorang sejarawan. Ia memiliki ketertarikan yang tinggi pada sejarah. Ketertarikan ini mendorongnya melakukan riset-riset kesejarahan pada 1960-an. Penulisan sejarah ia mulai dengan menuliskan sejarah pribadinya dalam karyanya, Gadis Pantai (hal. 10).

baca juga: Cinta, Psikoanalisis, Erich Fromm

Saking luar biasanya karya Pram, Max Lane mengutip karya Karl Marx dan Frederick Engels , The German Ideology, untuk menjelaskan bagaimana cara Pram menggambarkan realitas sosial melalui Bumi Manusia,“Bukan kesadaran yang utama, tapi keberadaan kita di dunia; bukan pemikiran tapi kehidupan, yang utama adalah perkembangan empirik dan pengejawantahan kehidupan dalam tiap individu – dan semua ini tergantung kepada kondisi dunia ini.” (hal. 13)

Seperti Gadis Pantai, Tetralogi Buru adalah novel sejarah. Pram menuliskan karyanya dengan terlebih dahulu melakukan riset. Jika Gadis Pantai menggambarkan neneknya, maka Tetralogi Buru juga menggambarkan tokoh yang nyata dalam realitas sejarah Indonesia. Tokoh itu adalah Tirto Adhi Soerjo (T.A.S), atau Minke dalam Tetralogi Buru.

T.A.S. dijadikan sentral dalam cerita Pram untuk menggambarkan realitas historis Indonesia. Terlebih lagi proses terbentuknya nasion melalui polemik antar tokoh.  Nasion juga dianggap sebagai suatu hal yang terus berada dalam kondisi kemenjadian atau bisa dibilang nation-building (hal. 33), bukan sebagai sesuatu yang ajeg. Peranan bahasa juga ditekankan sebagai media terbentuknya gagasan nasion melalui lingua franca (hal. 18-19). Selain itu, T.A.S. juga digambarkan melakukan emansipasi melalui kegiatan dagang. Emansipasi dilakukan untuk lepas dari belenggu penjajah Belanda dalam sektor ekonomi (hal. 16-17).

baca juga: Jerat Negara Terhadap Perempuan

Di karyanya yang lain, Arok Dedes, Pram menunjukkan era lain dari sejarah Indonesia. Arok Dedes berlatarkan masyarakat Jawa abad ke-11. Di sini Pram menggambarkan masyarakat tersebut mirip dengan konsep “oriental despotism” dari Karl Wittfogel dan juga “Asiatic mode of production” dari Karl Marx. Politik juga digambarkan oleh Pram dari suatu permasalahan kasta menjadi suatu pertentangan kelas  yang mana Arok, tokoh utama dalam Arok Dedes, berusaha menciptakan revolusi untuk merebut kekuasaan.

Dalam bab “Pramoedya Ananta Toer: Pengantar pada Karyanya”, Max Lane menerangkan situasi saat lahirnya karya-karya Pram. Karya tersebut dituliskan Pram sebagai upaya “mengeksplorasi akar situasi-situasi Indonesia: “mengapa?” historis” (hal. 58). Pemahamannya bahwa nasion masih berada dalam proses membuatnya berusaha memahami situasi-situasi yang terjadi. Seperti Sukarno, Pram beranggapan bahwa revolusi belum selesai, dan kesusastraan adalah jalan yang dipilih Pram untuk mewujudkan revolusi Indonesia.

Di luar karya Pram yang diterjemahkannya, Max Lane juga membahas karya yang lain walau hanya sekilas. Menerangkan bahwa cakupan dari karya Pram amatlah luas. Seperti misalnya penelusuran historis mengenai Kartini dalam Panggil Aku Kartini Saja (hal. 58). Ada pula novel lain yang berlatar masa revolusi seperti Perburuan dan Keluarga Gerilya (hal. 60). Pram bahkan menulis Korupsi (1954) dan Tjerita dari Djakarta (1957) yang, diungkapkan oleh Keith Foulcher, adalah literatur pertama yang menggambarkan kekecewaan terhadap elit pasca-kolonial (hal. 61).

baca juga: Tentang Politik Jatah Preman

Dalam proses pembentukan nasion, Indonesia menghadapi dirinya yang multikultural. Hal ini juga digambarkan misalnya dalam Bumi Manusia  yang mana terdapat tokoh dari kaum Indo, Belanda totok, Tionghoa, ataupun Bumiputra. Hoakiau di Indonesia juga menjadi contoh bahwa Pram menyadari betul keragaman Indonesia. Karya ini adalah perlawanan terhadap rasisme dan diskriminasi terhadap kalangan Tionghoa. Lebih jauh lagi, Pram menyatakan bahwa rasisme tersebut diciptakan untuk kepentingan borjuis. Indonesia seharusnya merangkul kalangan Tionghoa dalam mewujudkan sosialisme Indonesia yang humanis.

Dari seluruh uraian di atas, Pram jelas bukan hanya sekadar sastrawan. Ia adalah pemikir jenius. Max Lane yang menerjemahkan karya-karya Pram berusaha memaknai ide-ide yang disampaikan Pram. Menurutnya, perspektif Pram dalam melihat peristiwa historis Indonesia unik. Pram berusaha menembus hegemoni dalam historiografi Indonesia. Ia menyatakan bahwa bangsa Indonesia sebagai suatu masyarakat swa-ajar, bukan ciptaan Belanda. Ia juga mendobrak anggapan bahwa Indonesia adalah komunitas terbayang, karena menurutnya Indonesia adalah komunitas yang “dialami dalam realitas konkretnya” (hal. 179). Max Lane menggugat pemahaman sejarah yang kurang melihat perspektif historis Marx. Gugatan ini yang seharusnya dijadikan acuan untuk terus membaca Pram. Bahwa Pram bukan hanya sastrawan tetapi juga pemikir besar Indonesia.

  •  

Judul : Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia

Penulis : Max Lane

Penerbit : Djaman Baroe

Tebal : xii + 198 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: