Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kekalahan Bolaño sebagai Penyair

Oleh: Ageng Indra         Diposkan: 22 Jun 2019 Dibaca: 1891 kali


Di Chili, bila kau berusia 14 tahun dan bukan penyair, berarti ada yang salah denganmu.”

Klaim itu muncul dari Daniel Alarcon ketika ia mewawancarai Alejandro Zambra. Kendati dikenal berkat karya prosanya, Zambra memulai karir menulisnya seperti kebanyakan penulis di Chili: sebagai penyair. Tradisi puisi di negara itu cukup panjang: tidak hanya membesarkan penyair seperti Pablo Neruda dan Nicanor Parra, tapi juga penyair yang kemudian malah besar karena prosa. Sebelum Zambra, di Chili pernah lahir seorang penulis yang menjadi raksasa ketika tampaknya tak akan ada lagi yang mengguncang Amerika Latin setelah Gabriel Garcia Marquez.

Penyair kelahiran 28 April 1973 itu bernama Roberto Bolaño, dan ia diakui sebagai “suara terpenting generasi pasca boom” berkat menulis The Savage Detective, sebuah novel.

baca juga: Desain Institusi Pemilu dan Warisan Orde Baru

Potret seorang penyair sebagai Roberto Bolaño

Sebetulnya, sebagai penyair maupun pribadi, Bolaño tidak sepenuhnya tumbuh dan berproses di Chili. Orang tuanya berkali-kali pindah rumah sehingga masa mudanya sempat habis di California dan Meksiko. Di negara yang terakhir disebut itu, Bolaño memilih putus sekolah. Bukan keputusan sulit, barangkali, sebab ia tak tertarik melanjutkan ke perguruan tinggi. “Di perguruan tinggi, ia yakin apa yang ia pelajari akan sama persis dengan yang ia pelajari di sekolah: tak ada.” ungkap seorang tokoh di The Savage Detective menggambarkan alter-ego Bolaño, Arturo Belano. Setelah putus dari sekolah, Bolaño menjalin hubungan serius dengan teks lewat bekerja sebagai jurnalis.

Ia kembali ke Chili pada usia 20, dan jadi cukup dikenal sebagai pendukung rezim Allende. Namun, saat Operasi Jakarta berhasil menggulingkan Salvador Allende, rezim Pinochet yang menggantikannya menangkap banyak pendukung rezim lama, termasuk Bolaño. Lepas dari penjara, Bolaño sempat bergabung dengan gerilyawan penentang Pinochet. Penghilangan, perlawanan bersenjata, serta hal lain yang lumrah pada masa ini, nantinya banyak diadopsi Bolaño ke dalam karya prosanya, seperti bisa ditemukan di The Distant Star.

Bolaño pun eksil ke Meksiko sejak 1974. Di sanalah cerita petualangan kepenyairan picaresque Bolaño berkembang. Ia berkenalan dengan penyair Mario Santiago, tandemnya dalam mencaci maki penyair kanon macam Octavio Paz atau Neruda. Bolaño dan Santiago mendirikan komunitas Infrarealisme, gerakan sastra garda depan yang keterlibatannya di perhelatan sastra cenderung tak diharapkan. Keduanya getol mengusik orang-orang yang larut dalam euforia boom (fenomena lonjakan sastra di Amerka Latin). Membawa nama Infrarealisme, mereka kerap membikin ricuh acara dengan, misalnya, meneriaki seseorang yang tengah membacakan puisinya di atas panggung lantaran menganggapnya medioker.

baca juga: Membongkar Ketidaktahuan Tentang Massa

Dalam Bolaño: Biography in Conversation karya Monica Maristain, ada pendapat bahwa Infrarealisme tidak memberikan kontribusi pada Bolaño secara estetik. Setidaknya, saat komunitas itu sedang aktif-aktifnya, hanya Santiago yang terlihat terus menghasilkan karya, sementara Bolaño lebih sibuk dengan persoalan etik. Melancarkan kritik, terutama pada penulis yang dekat pada kekuasaan, adalah agenda Infrarealisme yang utama. Bagi Bolaño, bila penulis dekat dengan kekuasaan, entah kekuasaan dalam politik ataupun pasar, ia hanya akan melacur sebagai corong kekuasaan tersebut. Pengaruh Infrarealisme terhadap Bolaño lebih pada membentuk sikapnya. Sementara dalam menulis puisi, Bolaño lebih berhutang pada Nicanor Parra yang tradisinya ia warisi.

 

Roberto Bolaño sebagai penyair yang kalah

Kendati amat mencintai puisi, meniti karir sebagai penyair (apalagi dengan estetika yang tidak populer) bukan perkara mudah, dan tidak disukai banyak pihak jelas makin mempersulit hidup. Maka, ungkapan Pramoedya Ananta Toer bahwa “puisi tidak mengenyangkan perut” memperoleh relevansinya di Chili, dan Bolaño pun mengambil pilihan yang bisa jadi lebih sulit ketimbang memutuskan berhenti sekolah: putar haluan menjadi prosais.

Untuk menghidupi anak laki-lakinya yang lahir pada 1990, Bolaño menghabiskan lima tahun dengan mengikuti berbagai sayembara cerpen. Kendati cukup dikenal setelah banyak memenangkan sayembara, naskah novelnya tetap ditolak semua penerbit yang ia tuju.

Baru pada 1996, berkat diajak berkenalan langsung oleh Jorge Heralde, pendiri dan direktur penerbit Anagrama (yang sudah berkali-kali menolak naskahnya), Bolaño berkesempatan menerbitkan Distant Star. Dua tahun kemudian menyusul The Savage Detective, yang membuatnya dianggap kredibel untuk rutin mengisi kolom sastra di media massa. Selama tujuh tahun, sampai ia meninggal pada 2003, Anagrama menerbitkan sembilan karya Bolaño.

baca juga: Heavy Metal dan Identitas Kultural Kaum Muda

Di antara sembilan buku itu, ada judul Antwerpen yang terbit 2002, kendati ditulis pada 1980. Novel tipis itu memuat 54 fragmen yang keterkaitan sebab-akibat antar bagiannya teramat samar, namun memuat karakter, motif, dan peristiwa yang sarat dalam pakem novel kriminal. Begitu terjalnya narasi karya itu, sampai saya selalu ingin bilang bahwa Antwerpen  seperti Afrizal Malna seandainya ia menulis puisi mbeling. Kendati lebih sukar dimengerti pembaca ketimbang novel-novelnya yang lain, Bolaño menyatakan bahwa “Antwerpen  adalah satu-satunya novel yang tidak mempermalukanku.”

Saya kesusahan memahami standar macam apa yang ia rujuk untuk mengukur seberapa puas ia pada novelnya. Untung saja, wawancara Zambra dengan Alarcon memberi saya perspektif yang, paling tidak, cukup masuk akal untuk menduga maksud pernyataan Bolaño. Berikut saya nukilkan pernyataan Zambra:

 

“Komunitasku tetap komunitas penyair. Teman-temanku jarang membaca karya fiksi; mereka memandang novel sebagai bentuk yang berlebih-lebihan, dan pada akhirnya, sebentuk kekalahan. Seperti kata Chico Molina, ‘Novel adalah puisi untuk orang-orang dungu.’”

 

Ada semacam sentimen hierarkis, pemahaman kalau puisi lebih tinggi ketimbang prosa. Para penyair di Chili, atau setidaknya di komunitas Zambra, mempercayai itu. Pernyataan Bolaño mengenai Antwerpen, saya kira, bisa terdengar sedikit masuk akal bila kita membayangkan Bolaño punya sentimen semacam itu juga. Sebab, dibanding novelnya yang lain, Antwerpen adalah yang paling mendekati bentuk puisi. Antwerpen memberikan tawaran-tawaran, tapi juga menjauhi upaya untuk menghadirkannya secara konkret lewat deskripsi utuh seperti dalam novel pada umumnya.

baca juga: Ralat dan Telat

Ignacio Echevarria (eksekutor sastra yang mengurus naskah-naskah Bolaño sepeninggalannya) menyebut Antwerpen sebagai “Big-bang dari alam semestanya Bolaño.” Saya tidak sepakat. Semesta dalam prosa Bolaño tidak terbentuk dari satu ledakan besar macam big-bang, tapi dari ledakan-ledakan kecil yang adalah puisi-puisinya. Sebab, pada puisi-puisi yang tehimpun lengkap dalam The Unknown University-lah kita bisa menemukan sebagian besar elemen dalam karya prosanya. Di puisinyalah kita akan menemukan sosok nyata yang menjadi tokoh Rosario dan Lupe dalam The Savage Detective, misalnya.

Setahun pasca Antwerpen, ia menulis naskah Monsiour Pain. Bila bersandar pada kronologi itu, Antwerpen saya rasa lebih pas disebut sebagai hijrahnya Bolaño. Naskah itu menandai upaya pertamanya beralih dari puisi ke prosa. Terbitnya Antwerpen menandakan kalau Bolaño dicintai penerbit. Ironisnya, balasan cinta itu baru bisa ia peroleh setelah menyerah pada puisi—hal yang paling ia cintai.

Seorang penyair tentunya bebas menulis prosa dan tetap jadi penyair (Sapardi atau Jokpin, misalnya). Tapi lain cerita, tatkala seorang penyair menulis prosa untuk menggeser karirnya.

Jorge Luis Borges, kendati dikenal dunia lewat cerpen dan esai, memulai sebagai penyair, dan ia penyair yang mahir. Namun berbeda dengan Bolaño yang dikalahkan perut, Borges menyerah pada puisi karena sadar tak akan menjadi penyair terbaik dalam bahasa Spanyol: ada Neruda, Lorca, Huidobro, atau sebetulnya, hanya Neruda.

Mungkin ada juga cerita tentang penulis yang sengaja menjadi penyair hanya sebagai pijakan untuk menulis prosa. Namun, peralihan karir seorang penyair menjadi prosais, banyaknya merupakan cerita mengenai orang-orang yang kalah.

baca juga: Mudik Bukan Sembarang Mudik

Penulis Argentina, Enrique Vila-Matas, menyinggung ini dengan menarik di Never Any End to Paris. Dalam novel itu, seorang calon penulis muda diceritakan menyusun novel pertamanya yang bertema pembunuhan. Tokoh pertama yang jadi korban adalah seorang penyair. Adegan itu, rupanya merupakan ritual si penulis untuk membunuh cita-citanya menjadi penyair.

Menengok kembali ke Antwerpen, kita bisa menduga, barangkali memang ada makna yang lebih dalam pada pemilihan tema pembunuhan di novel yang menandakan hijrahnya Bolaño itu.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: