Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kemiskinan, Identitas dan Senjata

Oleh: Anindita S T         Diposkan: 30 Jan 2020 Dibaca: 4742 kali


Dari bangsal umum sebuah rumah sakit, seorang pasien berseragam yang tidak membayar memberi kesaksian tentang bagaimana sikap rumah sakit kepada orang miskin. Menurutnya, pasien yang tidak membayar, “adalah sebuah spesimen,” yang akan menjumpai kematiannya tanpa ada yang memedulikan, “mirip kematian hewan.” Demikian secuplik kesaksian yang ditulisnya dalam esai berjudul Bagaimana Si Miskin Mati. Pasien itu bernama George Orwell, seorang mantan serdadu  yang kelak dikenal sebagai sastrawan besar dunia. 

Di depan etalase toko, seorang pengangguran menemukan sepercik kesadaran lewat pantulan dirinya pada kaca jendela. Dia menyadari bahwa bagi orang miskin sepertinya, pekerjaan dan kehidupan layak hanyalah tinggal kenangan, begitu pula kemajuan dan harapan. “Kemiskinan bukan hanya aib, tapi juga patut dihukum. Kemiskinan adalah noda kotor,” demikian lelaki itu membatin saat merasakan tatapan menghakimi orang-orang sekitarnya.

Selama ini, kemiskinan kerap dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Bagi masyarakat, ia noda perusak pemandangan. Bagi pemerintah, ia bagian dari sistem yang cacat. Bagi seorang manusia, ia mimpi buruk sekaligus “penyakit menular” yang patut diwaspadai dan harus dihindari, entah dengan cara bersekolah tinggi-tinggi, berdoa dan bersedekah banyak-banyak hingga bekerja sekeras kuda atau bermuslihat jahat. Kata “kemiskinan” bahkan mampu menghadirkan sensasi ketidaknyamanan tertentu. Sensasi yang lahir dari sesuatu yang tidak diinginkan karena mampu membuat siapapun yang dikenainya merasa telah dikutuk: hidup sebagai orang miskin.

baca juga: Mazhab Adiluhung, Kritik Sastra Supersonik, Putri Marino

 

Yang Tidak Pandang Bulu

Kemiskinan tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Tetap dingin, keras dan kejam. Perlakuan masyarakat terhadap orang miskin juga tidak pernah berubah selama berabad-abad. Tetap dingin, keras dan kejam. Apa yang disaksikan Orwell di sebuah rumah sakit di Paris pada 1929 masih terjadi pada hari ini. Begitu pula apa yang dialami dan dirasakan oleh si lelaki pengangguran di Berlin pada 1932 tetap sama sampai sekarang. Buktinya, kaum miskin masih dipandang rendah, terutama para pengangguran. Mereka kerap dituduh pemalas.

Mengabaikan kenyataan bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang ingin hidup susah, jauh lebih mudah bagi masyarakat untuk memperlakukan orang miskin serupa manusia penyakitan pembawa kutukan. Mereka belum tahu saja, si lelaki pengangguran bernama Johannes Pinneberg itu dulunya seorang borjuis kecil yang bekerja di sebuah toko besar terkenal. Dialah bukti bahwa kemiskinan bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. 

Kisah Johannes Pinneberg dihidupkan oleh Hans Fallada lewat sebuh novel berjudul Lelaki Malang, Kenapa Lagi? Hans Fallada adalah seorang sastrawan Jerman kelahiran 1893 yang menyaksikan bagaimana negara itu jatuh ke dalam pesona Nazi dan berusaha mengabadikan hal tersebut dalam novelnya ini. Lelaki Malang, Kenapa Lagi? berlatar situasi kacau Jerman pada awal 1930-an saat dihajar krisis ekonomi dunia yang dibawa oleh Depresi Besar (Great Depression). Sebagaimana tertulis dalam sejarah, inilah titik balik yang sangat penting itu, yang tidak hanya mengubah hidup Johannes Pinneberg, seluruh rakyat Jerman, dan Partai Nazi, tapi juga seisi dunia.

baca juga: Estetika; dari dalam Sangkar ke Kamar Gelap

Dalam Lelaki Malang, Kenapa Lagi? titik balik ini tersaji melalui perjalanan hidup pemuda Pinneberg. Ketika menemukan kekasihnya, Lämmchen, sedang mengandung, Pinneberg membuat satu langkah nekat. Dia memutuskan menikahi sang kekasih meskipun mengkhawatirkan jumlah gajinya sebagai pegawai di sebuah toko besar milik majikan Yahudi. Menurut hitung-hitungnya, gaji itu kurang jika dipakai menghidupi sebuah keluarga kecil. Namun, kekhawatiran tersebut dengan cepat menguap di hadapan kobaran semangat mudanya. Bersama Lämmchen, Pinneberg memberanikan diri bermimpi tentang masa depan yang lebih baik. Keduanya percaya bahwa segala rintangan bisa diatasi selama mereka mau bekerja keras dan hidup dengan penuh cinta. Merekalah pasangan muda Jerman yang penuh harapan.

Pada saat yang sama, keadaan Jerman tidak baik-baik saja. Belum sempat pulih dari dampak Perang Dunia I (1918), Jerman dipaksa menghadapi kenyataan pahit. Pada suatu hari di akhir 1920-an, Amerika menemukan dirinya bangkrut. Maka, merebaklah Depresi Besar itu, yang segera meluas ke mana-mana tanpa tercegah. Dalam sekejap, apa yang menyerang Amerika turut pula menyerang perekonomian dunia, terutama negara-negara Eropa. Khusus Jerman, serangan ini tidak hanya membuat kondisi ekonomi negara tersebut sekarat sehingga melahirkan banyak pengangguran, tapi moral bangsa ini pun merosot.

Sebagaimana yang dialami negerinya, Pinneberg juga dipaksa menerima kenyataaan pahit. Setelah beberapa waktu berjuang menghidupi keluarga kecilnya, dia kalah. Sebuah masalah membuat Pinneberg dipecat dari toko. Masalah lainnya membuat Pinneberg dan istrinya mesti keluar dari rumah sewaan dan terpaksa tinggal bersama ibunya. Sementara itu, kehidupan di Berlin berjalan terseok-seok. Barang-barang semakin sulit terbeli, pekerjaan baru kian susah ditemukan, istrinya hampir melahirkan di rumah sakit dan Pinneberg mulai dikejar penagih utang. Di tengah kesulitannya, Pinneberg mendapat sebuah tawaran yang harus ditukar dengan apa yang tersisa dari dirinya, harga diri. Seorang teman menawarinya pekerjaan sebagai penjual foto telanjang ilegal.  

baca juga: Seneca, Kawan Lama yang Hadir Kembali

Bangsa Jerman merasakan hal serupa Pinneberg kala itu. Sebagai pihak yang kalah pada PD I, Jerman merasa harga dirinya kian terlucuti saat Amerika datang menagih utang. Negara besar Eropa itu merasa tampil bak pencundang yang ditelanjangi di hadapan dunia. Saat inilah Partai Nazi datang membawa tawaran yang sangat  memikat hati sekaligus mampu mengembalikan semangat hidup.

Tawaran itu diracik oleh seorang propagandis Nazi, Joseph Goebbels, dari pahitnya kekalahan Jerman semasa perang dan getirnya kemiskinan. Mencampurkan semangat nasionalisme bangsa Jerman dengan semangat pro rakyat kecil ala Karl Marx yang sudah diutak-atik, dengan lihai, dia memanfaatkan keputusasaan para pengangguran, kemarahan kelas buruh dan kekuatan kaum proletar untuk melawan satu musuh bersama yang nyata di depan mata. Musuh itu bukan si penagih utang, Amerika, bukan pula partai politik beraliran komunis Rusia yang ada di Jerman, melainkan para penghuni distrik yang lebih kaya sekaligus pemiliki pabrik dan toko: orang-orang Yahudi.

 

Senjata Itu Bernama Kemiskinan

Seorang pakar sosiologi barangkali akan melihat kemiskinan sebatas gejala sosial masyarakat. Adapun seorang ahli agama mungkin akan melihat kemiskinan sebagai salah satu ujian hidup atau lumbung pahala bagi kaum berpunya yang saleh. Namun, kesaksian pada lembar sejarah menunjukkan bahwa kemiskinan ternyata mempunyai wajah tersembunyi yang tidak terduga.

baca juga: Perempuan, Cinta dan Belenggunya

Lewat tipu daya, kemiskinan berubah menjadi senjata di tangan Joseph Goebbels. Dia menyadari, barisan buruh kurus dan pengangguran lusuh membutuhkan musuh bersama yang gampang dikenali dan dibenci, sementara itu Partai Nazi membutuhkan dukungan dalam jumlah maksimal. Jadilah para keturunan Yahudi yang kebetulan kaya dan memiliki sebagian besar usaha di Jerman, tapi berjumlah lebih sedikit, menjadi target sempurna di tengah kemiskinan yang marak. Keberuntungan mereka seolah bersinar pada waktu dan tempat yang salah. Apa yang terjadi kemudian ibarat ilusi terindah dari sebuah pengadilan hukum karma. Orang kaya melawan orang miskin, yang dimenangkan oleh si miskin. Api kesumat semacam inilah yang menerangi perjalananan Nazi hingga mencapai kejayaan.

Dalam Kekerasan dan Identitas, Amartya Sen berbicara tentang tenaga ajaib yang dimiliki suatu identitas yang mampu menyulut api perlawanan dan kebencian yang berujung pada konflik dan perpecahan. Tenaga ajaib ini dipupuk lewat ilusi tentang adanya satu identitas tunggal yang dominan. Tidak termungkiri, identitas menawarkan rasa persaudaraan dan solidaritas, pun kebanggaan dan kekuatan. Di sisi lain, identitas juga bisa memicu kefanatikan. Menurut Sen, keterikatan inilah yang kemudian dipandang sebagai suatu sumber daya yang bisa dimanfaatkan atau disalahgunakan layaknya “modal”. Di tangan mereka yang disusupi kepentingan politik, ia bahkan bisa dipakai untuk melukai dan menghancurkan sesama manusia layaknya senjata.

Hingga hari ini, banyak bukti yang menunjukkan bagaimana suatu identitas berusaha mengeksploitasi atau bahkan menenggelamkan identitas lainnya. Permusuhan berlatar belakang persaingan atau penindasan pun terjadi, entah antara suku, ras atau agama. Selain ketiga hal tersebut, status dan kelas sosial juga kerap melahirkan konflik dan kekerasan antaridentitas, seperti para buruh melawan pemilik pabrik, tuan tanah atau pihak militer melawan rakyat jelata.

baca juga: Pendidikan Yang Menjajah

Apa yang terjadi di Jerman pada awal 1930-an adalah bentuk lain dari pemanfaatan tenaga ajaib tersebut. Sebagian besar rakyat Jerman yang terhimpit kemiskinan digiring untuk memusuhi kaum berpunya yang kebetulan berdarah Yahudi. Dibawah tuduhan sebagai biang kerok kelaparan dan pengangguran, lahirlah gerakan AntiSemit. Gerakan yang mendorong seorang perempuan pemilik usaha korset yang nyaris bangkrut dihadapkan pada satu pilihan sulit: satu-satunya kesempatan berbisnis yang tersedia untuknya adalah menjadi anggota sebuah klub privat nudis.

“Aku ingin keluar dari Yahudi... aku bukan orang relijius.... tapi apakah saat ini hal itu bisa kulakukan di saat semua orang mencaci maki orang Yahudi?”

Lelaki Malang, Kenapa Lagi? termasuk novel klasik yang penting dibaca pada hari ini. Yaitu, ketika negara kita, Indonesia, telah dikotak-kotakkan oleh kaum sektarian dan gesekan sekecil apapun mampu membuat sebongkah batu melayang menghancurkan kaca jendela seseorang. Tidak hanya menceritakan pasang surut kehidupan pasangan muda, novel ini juga mengajak pembaca untuk melihat apa yang terjadi di Jerman kala itu. Bagaimana paham fasisme Nazi bisa diterima, tumbuh subur dan berkembang di negara itu. Bagaimana teman dan sahabat, tetangga, rekan kerja dan majikan, bisa berubah menjadi musuh dalam sekejap. Bagaimana penduduk Jerman dipecah belah ke dalam sebentuk identitas sektarian: golongan ras Arya vs keturunan Yahudi.

Keberanian Fallada menulis dan menerbitkan novel ini sementara dirinya memilih tetap tinggal di Jerman selama masa pendudukan Nazi adalah sebuah keberanian. Menerjemahkan karyanya ini ke dalam bahasa Indonesia juga patut diapresiasi tinggi mengingat sedikitnya karya sastra Jerman, terutama terjemahan, yang menemui pembaca Indonesia.

baca juga: Jejak Madilog dalam Ilmu Sosial Indonesia

Lewat prosa, kita diajak untuk belajar mengindentifikasikan diri kita dengan pihak lain; tokoh-tokoh fiksi dalam bacaaan. Dengan turut merasakan kehidupan mereka, kita diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih baik dalam hidup bermasyarakat. Semua itu demi satu tujuan, sebagaimana yang diungkapkan Sen, “untuk membawa kita melampaui hidup yang berpusat pada diri sendiri.” ***

 

Judul : Lelaki Malang, Kenapa Lagi?

Penulis : Hans Fallada

Penerjemah : Tiya Hapitiawati

Penerbit : Moooi Pustaka

Tebal : 425 halaman



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: