Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kenangan Bergambar Atas Kejahatan Orde Baru di Buru

Oleh: As’ad S. Arifin         Diposkan: 03 Oct 2019 Dibaca: 1256 kali


Mars Noersmono tak hanya jago menulis pengalaman hidupnya. Ia memiliki talenta untuk melukis kembali kenangannya dalam 75 sketsa sekaligus. Setiap gambar merekam kuat hal-hal rinci, mulai yang bersifat keseharian hingga keadaan flora secara jitu. Kesemuanya hadir tersaji melalui memoarnya sebagai tapol (tahanan politik) Orde Baru di Pulau Buru.

Gambar demi gambar yang hadir itu memperkuat imaji setiap pembacanya. Suatu keistimewaan bagi penulis bisa langsung bertatap muka dan berbincang santai dengan Mars Noersmono sekeluarga. Ditambah, kesemuanya berlangsung dengan sajian kue hingga makan siang bersama.

"Saya bersyukur kalau pembaca buku ini bisa mengerti kehidupan Bapak. Jadi, mudah-mudahan banyak yang suka dengan cerita bapak.", sahut Nursila Noersmono, seorang istri yang setia mendampingi suaminya.

baca juga: Orde Film

Saya bersama Sejarawan FX Domini BB Hera dan Jurnalis Abdul Rozak berkunjung pada keluarga Mars Noersmono pada Februari 2018 silam. Kami datang ke rumahnya yang tenang nan asri di Kabupaten Malang.

Nursila sendiri punya jasa yang besar di balik terbitnya buku sang suami. Mars mempersembahkan memoar Bertahan Hidup di Pulau Buru untuk setiap mereka yang gugur dalam pembuangan Pulau Buru.

Nursila turut membagi cerita hidupnya dengan Mars. Sejak pertemuan pertama mereka hingga keduanya menikah tahun 1978 di Pulau Buru. Nursila, sama seperti Mars, punya latar belakang yang hampir sama. Ibu dan Bapak Nursila turut menjadi tapol.

baca juga: Kekerasan Budaya, Ideologi Anti-Komunis, dan Orde Baru

"Proses penulisan buku penuh perjuangan. Soalnya bekal hidup sudah tidak ada saat itu. Kertas harus beli terus dan harus diulang terus. Ditulis tangan dulu baru diketik." ungkap Nursila yang duduk di sebelah Mars.

Proses penerbitan buku Bertahan Hidup di Pulau Buru mengalami proses yang panjang dan berliku. Mars mulai menulis pada tahun 1999 tatkala ia harus hijrah dari Ambon karena meletusnya kerusuhan. Mars kemudian pindah ke Jakarta dan mulai menuliskan kisahnya selama di Buru.

Awalnya, Nursila sempat tidak setuju dengan ide penulisan buku tersebut. Akan tetapi, kengototan Mars tidak lagi bisa dibendung. Dia mulai menulis dan membongkar memori masa lalu. Visualisasi pengalamannya juga turut digurat kembali. Mars menggambarkan momen-momen penting yang dialaminya di Buru.

baca juga: Konsumerisme: Setan Hijrah yang Harus Diwaspadai

Mars menggambar denah Tefaat  Buru Unit XIV Bantalreja di Way Bini. Mars juga menggambar momen ketika para tapol bekerja, alat kerja, hingga kerja paksa Kordem [Korve Demit] atau kerja pada malam hari yang dianggap seperti setan.

Pulau Buru dan Usaha Bertahan Hidup

Mars Noersmono beruntung pernah belajar langsung dari pelukis kenamaan Indonesia, S. Sudjojono (1913-1986). Mars juga pernah menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Jakarta. Pada tahun 1961, Mars diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada jurusan Arsitektur (Teknik Perencanaan).

Mars Noersmono, yang aktif di CGMI [Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia], mulai menghadapi masa-masa sulit pada Oktober 1965. Dia dijemput paksa dan dipenjara di Rumah Tahanan Khusus Salemba selama lima tahun.

Pada 10 Agustus 1971, Mars dibawa ke Pulau Buru dengan status resmi tapol menggunakan kapal Tokala. Sebuah dunia baru baginya menanti. Dunia yang tidak pernah ada dalam benaknya sekalipun. Mars berjuang untuk tetap menjadi manusia yang waras, baik dari segi fisik maupun psikis.

baca juga: Makan Malam Perpisahan

Mars dan tapol lainnya harus bekerja untuk membabat alas. Bekerja terus-menerus di bawah pengawasan ketat. Makanan yang minim. Pekerjaan dilakukan secara kolektif. Mars turut menjadi saksi beberapa kawannya yang harus meregang nyawa karena tidak kuat dengan 'dunia baru' itu.

“Bagaimana dengan kekerasan? Setiap hari kami menyaksikan rentetan penghukuman fisik, berupa pukulan, tendangan, ataupun penyiksaan dalam bentuk lain. Kekerasan seperti itu terjadi setiap hari, baik secara bergantian atau serentak di semua unit.", kenang Mars (hlm. 38).

Melalui bukunya, Mars turut mengungkap sebuah praktik lacung yang terjadi di Buru. Tenaga para tapol diperas habis oleh para aparat penjaga, salah satunya untuk menggergaji kayu meranti. Pada tahun 1970-an, kayu jenis ini menjadi komoditas nomor wahid di pasaran. Usaha untuk memproduksi kayu meranti pun dimaksimalkan dengan tenaga para tapol.

“Harga kayu meranti gergajian pada waktu itu di Kota Namlea per meter kubik adalah Rp8.000. Prosedur pelaksanaan penjualan kayu diatur secara monopoli oleh KomandanTefaat Buru yang berlokasi di Namlea [padawaktu itu]. Sedangkan pembagian hasil setiap meter kubik dibagi sebagai berikut. Komando mendapat hak pungutan Rp2.000 untuk setiap meter kubik dan sisanya menjadi bagian milik unik (komandan unit) yang memproduksi kayu.", demikian Mars mengungkap bisnis aparat di atas penderitaan manusia lain (hlm. 137).

baca juga: Wajah Ganda Sang Pemimpin

Mars dan para tapol makin terhimpit oleh keadaan. asupan kalori mereka juga terus merosot. Mars mengisahkan bahwa beras adalah barang langka di Buru. Jatah yang didapatkan para penghuni Tefaat Buru terus menurun hingga kemudian benar-benar tidak ada.

Mars dan para penguhuni Tefaat Buru tidak punya banyak pilihan untuk mengisi perut. Ubi kayu, ubi jalar, dan palawija menjadi sumber kalori pada mereka. Sagu kemudian menjadi pilihan. Menu sagu, sayur kangkung dengan bumbu sekadar garam menjadi menu utama. Ada julukan khusus untuk kedua menu tersebut.

Sayur kangkung itu mendapat julukan 'sayur kepala' atau 'jangan endas’ (Bahasa Jawa). Julukan ini diberikan karena jumlah kangkung jauh lebih sedikit dibandingkan air. Sehingga, jika melongok ke arah wadah sayur, yang ada ialah bayangan kepala, bukan kangkungnya.

"Jika terlambat dimakan maka makanan itu [sagu] akan mengeras seperti batu. Jika dilihat dari bentuknya maka serabi ini mirip dengan sandal jepit. Sehingga makanan ini mendapat julukan 'sandal jepit' atau 'sandal' saja.", tulis Mars pada halaman 100.

Kisah Mars itu sedikit banyak mengingatkan cerita Hugh Glass pada novel “The Revenant: A Novel of Revenge” karya Michael Punke (2002). Hugh Glass dikisahkan harus berjuang hidup dari kejaran suku Arikara dan mencari makan dari apa yang disediakan oleh alam. Hugh Glass memakan lumut, bangkai, dan ikan yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya.

baca juga: Dalam Pembajakan Buku, Apa Peran Lembaga Pendidikan?

Pada bagian kedua dari bukunya, Mars Noersmono dengan rinci mengisahkan bagaimana upaya untuk bertahan hidup. Mulai dari merintis produksi kayu putih, berkebun jagung hingga menamam padi agar bisa makan. Semua lengkap dengan visualisasi yang memanjakan mata dalam banyak sketsa. Pada tahun 1974, padi yang ditanam mulai menunjukkan keberhasilan. Mars dan penghuni Tefaat Buru kembali merasakan nasi meski tetap dengan lauk 'sayur kepala'.

Beda Kolonial Digoel, Beda Orba Buru

Latar belakang pendidikan Mars sebagai arsitek membuat tenaganya juga dimanfaatkan oleh para komandan unik. Mars mendapat tugas untuk membuat rancangan beragam insfrastruktur seperti saluran irigasi, jembatan, dan banyak hal terkait.

Profesi arsitek pula yang digelutinya selepas mendapat pembebasan pada tahun 1979. Pasangan Mars dan Nursila kemudian memilih untuk menetap di Buru. Pada 1990, Mars pindah bekerja di Ambon sebagai arsitek sipil.

Tefaat Buru, acap kali disebut sebagai bentuk baru dari Kamp Boven Digulyang mulanya dibangun untuk memenjarakan aktivis PKI (Partai Komunis Indonesia) yang terkait dengan pemberontakan 1926/1927. Lebih dari 1000 orang pernah dibuang ke sana oleh pemerintah kolonial.

Riwanto Tirtosudarmo melalui tulisannya yang berjudul “Boven Digoel dan Migrasi Politik Kaum Nasionalis 1920-1950”, dalam buku “Jejak Kebangsaan, Kaum Nasionalis di Manokwari dan Boven Digoel (2013), menerangkan bahwa Digul oleh pemerintah kolonial Belanda dijadikan sebagai 'administrative meassure' dan bukan sebagai kamp kosentrasi.

baca juga: Penyair Tanpa Judul Buku

Mohammad Hatta menjadi salah satu yang pernah diasingkan ke Digoel. Dalam otobiografi yang  berjudul 'Untuk Negeriku' (2011), Hatta berkisah tentang kondisinya selama di tanah pembuangan. Apa yang dialami oleh Hatta, dan para penghuni Digul lain, jauh dari kisah yang diceritakan oleh Mars Noersmono di Buru.

Ironi di negeri yang merdeka dan membebaskan diri dari penjajahan ialah saat menemukan pembuangan Digoel masih lebih baik dibandingkan Pembuangan Buru. Mars Noersmono dan memoarnya menjadi saksi sekaligus novum atas kejahatan rezim Orde Baru yang lebih keji dibanding penjajah kolonial.

  •  

Judul : Bertahan Hidup di Pulau Buru

Penulis : Mars Noersmono

Penerbit : Ultimus

Tebal : 368 halaman

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: