Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Kerawanan dan Keterasingan

Oleh: Hartmantyo P U         Diposkan: 08 Aug 2019 Dibaca: 1156 kali


Ruang rona merah menyala. Segelintir tatap mata yang menjerat pandang pada persona yang abai. Tak ada bising dan cakap yang berlarian di antara sudut ruang Museum Foundation Beyeler. Hanya tersisa khidmat demi menyaksikan seorang perempuan mengenakan sepatu hak hitam yang menubuhkan kata-kata I Love You secara lamat, berulang, dan terbata pada medium kaca dengan bentang 2x1 meter.

Kaca dan persona, memunggungi dan menyerupai, bergerak lambat dalam ketidakpastian intonasi suara yang menjadi modus bagi upaya penciptaan peristiwa. Sedangkan kelindan antara kaca yang kaku dengan tubuh yang lentur melahirkan benturan visual yang memaksa persepsi inderawi kita untuk memberikan perhatian lebih pada detail gerak. Lalu, di manakah makna?

Riehen, musim gugur di pertengahan September 2014, menghelat The Artist is an Explorer yang dikurasi oleh Marina Abramovic. Sebuah ekshibisi yang mendapuk Melati Suryodarmo sebagai salah satu perfomer melalui pementasan dengan durasi panjang (long durational) dengan tajuk seturut kata-kata yang dilontarkan berulang sepanjang enam jam: I Love You.

baca juga: Seni: Nalar Kreatif yang Memberontak

Barangkali pada kaca dan persona yang diciptakan oleh Melati Suryodarmo kita mampu merongrong semesta perbincangan Edward Said dalam Peran Intelektual. Kaca, keluasan benda kaku dengan kerawanan yang tinggi tak pelak adalah metafor yang pekat bagi ilmu pengetahuan dengan dua konsekuensi: mampu menerobos perbincangan realitas mutakhir dan menyanyat kebenaran melalui serpihannya ketika terpecah. Sedangkan persona, kita tahu, sebuah kelenturan bagi subjek yang dengan seluruh pergulatan mampu menjungkalkannya pada sebuah jarak keterasingan dengan publik: homo episteme.

Relasi keduanya memberikan sebuah konsekuensi yang tak mungkin terhindarkan, yaitu keterlekatan. Sebagaimana kaca yang terhempas dan hanya menjadi sepihan tak beraturan ketika luput dari kendali persona. Begitu pula juga ilmu pengetahuan yang kaku dan rapuh akan lenyap tanpa peran seorang yang bergulat untuk mencipta dan menghadirkan secara berulang pada zamannya.

Oleh karena itu, lengking Peran Intelektual Edward Said boleh saja terdengar klise hari ini. Akan tetapi, melalui I Love You lah lengking tersebut dapat ditangkap-jerat sesuai dengan kondisi-kondisi pengetahuan politis yang kontekstual. Tidak lain dikarenakan yang sampai pada kita hari ini adalah teks dari Edward Said dan bukan realitas yang hidup dalam interogasi dan pergulatannya sebagai seorang intelektual. Dengan kata lain, yang dapat kita rongrong adalah zaman tempat kita hidup dan bernaung, bukan lagi zaman Said. Meski secara genealogis, kedua zaman tersebut saling bertaut, tumpang tindih, dan bergerak dalam temporalitas yang dekat.

baca juga: Filsafat Mencintai

Mendaras Peran Intelektual Edward Said tidak serta dipahami dengan kesimpulan akhir yang membawa pada upaya replikasi objektif terhadap lengking konseptual yang didenggungkan. Karena kita mafhum bahwa modernitas, kolonialitas dan pemampatan identitas adalah sederet kondisi yang yang disodorkan Edward Said dalam terma ‘kekuasaan’, dan karenanya patut untuk diinterogasi. Melainkan membawa lengking konseptualnya sebagai basis pembuka kemungkinan bagi dua hal: mempertimbangkan fondasi alternatif pengetahuan kontekstual dan konsekuensi posisi intelektual.

Pertimbangan bagi fondasi alternatif pengetahuan kontekstual adalah respon terhadap peran “mengatakan kebenaran kepada kekuasaan” yang dimaksudkan Edward Said[1]. Sedangkan konsekuensi posisi intelektual adalah respon bagi “komitmen dan risiko, keberanian serta kerawanan”[2] sebagai sesuatu yang tak terelakkan dari kerja-kerja panjang menyoal ilmu pengetahuan yang dicutatnya dari gerbong ‘profesionalisme kerja’ menuju ‘amatirisme’.

Fondasi alternatif pengetahuan kontekstual menampakkan arahannya pada modus epistemik yang dibangun dalam lanskap I Love You, yaitu menimbang wacana ketubuhan. Oleh karena itu, modus epistemik yang secara subjektif saya sodorkan adalah dengan upaya-upaya untuk keluar dari hegemoni nalar tekstual (visual) sebagai fondasi ilmu pengetahuan modern, tetapi tidak untuk menanggalkannya. Meminjam Ann Stoler, bahwa nalar tekstual yang mengendap dalam arsip tak lain adalah supremasi rezim pencerahan dari Imperial Eropa[3].

baca juga: Genderuwo di Siang Bolong

Upaya keluar dari nalar hegemonik tersebut diawali dengan menimbang peristiwa mendengar sebagai salah satu modus epistemik, yang dalam artian konseptual adalah auralitas. Peristiwa mendengar seolah terlupakan dalam jejak fondasi pengetahuan[4]. Bagi negara-negara pasca-kolonial, nalar verbal barangkali lebih diakrabi ketimbang visual sebagai bahasa ungkap. Oleh karenanya, auralitas secara langsung menghubungkan inderawi pengucap, pendengar dan ingatan kolektif sekaligus yang menjadi fondasi pengetahuannya.

Kemungkinan auralitas sebagai modus epistemik dapat diposisikan dalam lanskap pengetahuan kontekstual pada masa pasca konflik dan dominasi dari rezim sejarah negara. Tidak lain dikarenakan tepat pada masa konflik dan dominasi resim sejarah negara pemberangusan pengetahuan baik secara verbal, visual tekstual, dan peleburan ingatan kolektif terjadi dengan sifat imperatif. Pada masa pasca konflik wacana auralitas menjadi relevan bukan semata karena sifatnya yang selalu merayakan keragaman subjektivitas, melainkan karena sifat kolektifnya yang mampu menggedor batasan resmi dari negara. Beberapa di antaranya adalah dokumen audio, percakapan fisikal, hingga musik.

Disabilitas tuli dan kanonisasi ingatan menjadi dua kemungkinan limitasi dari modus epistemik peristiwa mendengar. Di satu sisi, ketubuhan disabilitas tuli belum tentu memungkinkan untuk menempuh modus tersebut secara utuh. Sedang di sisi lain, kanonisasi ingatan begitu rawan untuk jatuh dalam pemapanan tradisi dan otoritas lokal yang tentu saja kontradiktif dengan upaya-upaya Edward Said yang menyoal pemampatan identitas.

baca juga: Harga untuk Kebebasan yang Disangkal

Pada konsekuensi posisi intelektual sebagai respon bagi kerja-kerja ilmu pengetahuan dari Edward Said dapat kita mengarahkannya pada persona abai dari I Love You. Bahwasannya, selalu ada beban yang dipikul oleh tubuh untuk melampaui batasan pengetahuan. Oleh karena itu, visi posisi intelektual Edward Said dapat diterjemahkan secara kontekstual dalam dua gagasan. Pertama, kita mengenal visi penjarakan ilmu pengetahuan dari Boaventura de Sousa Santos. Kedua, orientasi kerja ilmu sosial yang termaktub dalam sosok intelektual bengal George Junus Aditjondro.

Sebagaimana Edward Said, Boaventura de Sousa Santos melecut kritik bagi teori kanon ilmu sosial. Namun, ia hadir dengan provokasi yang lebih imperatif: bahwa teori-teori tersebut bersifat irelevan, impoten, stagnan dan lumpuh. Jarak diperlukan untuk menghadirkan ruang penciptaan modus epistemik alternatif yang dikonsepkan dalam Post-Abyssal Thingking. Rekognisi dan eksklusi ilmu pengetahuan digunakan untuk menggedor-gedor kemampanan epistemologi Eropa yang diskriminatif demi menciptakan keadilan global[5].

Di Indonesia, saya sepakat dengan pengatar dari penerjemah Peran Intelektual, bahwa George Junus Aditjondro adalah satu dari beberapa hitungan jari persona yang dekat dengan lengking visi Edward Said. Melalui Implikasi Pergeseran Ilmu Sosial dari “Pro-Negara” ke “Pro-Masyarakat”[6] ia menunjukkan kebenganlan sekaligus anomali bagi rezim intelektual Indonesia. Dan tentu saja, tak akan ada nama George Junus Aditjondro dalam kanon kurikulum kita hingga hari ini.

baca juga: Narasi-narasi Laut pada Peta Rasio Masa Kini

Melalui dua visi kontekstual tersebutlah kita memahami konsep yang disodorkan Edward Said: intelektual ‘amatir’. Sebuah gagasan yang menentang profesionalisme kerja yang menyekat intelektualitas dalam kebebalan dan kemapanan. Konsekuensi dari visi posisi tersebut diucapkan Edward Said dengan lembut, “Ya, suara intelektual adalah suara kesepian. Tapi ia bergema hanya karena menghubungkan dirinya secara bebas dengan realitas sebuah gerakan, aspirasi orang, pengejaran cita-cita bersama.”[7]

Sebagaimana I Love You dengan performativitas yang rawan dan abai, membincangkan Peran Intelektual Edward Said hari-hari ini adalah membincangkan dua konsekuensi: kerawanan dan keterasingan. Kerawanan dari dakwaan dan tuntutan fondasi alternatif ilmu pengetahuan yang tak selalu diterima secara populer. Juga, keterasingan persona akibat berhadap-hadapan dengan supremasi rezim populis.

  •  

Judul: Peran Intelektual

Penulis: Edward Said

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tebal: lix+100 halaman

  •  

[3] Stoler, Ann. 2009. Along the Archival Grain: Epistemic Anxieties and Colonial Common Sense. New Jersey: Princeton University Press.

[4] Sterne, Jonathan. 2003. The Audible Past: Cultural Origins of Sound Reproduction. Durham and London: Duke University Press. Hal 2.

[5] Santos, Boaventura de Sousa. 2016. Epistemologies of The South: Justice Against Epistemicide. London and New York: Routledge.

[6] Aditjondro, George Junus. 1997. Implikasi Pergeseran Ilmu Sosial dari “Pro-Negara” ke “Pro-Masyarakat”. Dalam N. S. Nordholt & L. Visser, Ilmu Sosial di Asia Tenggara; Dari Partikularisme ke Universalisme. Jakarta: LP3ES. Hal 42.

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: